Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Januari 8, 2009

Tidak Adakah Cara untuk Menghentikan Agresi Israel?

sumber warnaislam.com
Pertanyaan
Assalaamualaikum wr. wb.
Ustadz yang dirahmati oleh Allah.
Sampai kapan kita akan terus mengalah pada kebiadaban zionis Israel? Mengapa kaum muslimin tidak bersatu untuk melakukan perang melawan Israel, mana semangat ummat yang terbaik? Apa tidak ada cara untuk menghentikan agresi Israel kepada ummat Islam?
Jazakallah atas dijawabnya pertanyaan ini.
Wassalaamualaikum wr. wb.
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Seandainya seluruh umat Islam berpikiran seperti anda, baik rakyatnya maupun pejabatnya hingga pemimpin tertinggi negaranya, insya Allah dalam waktu singkat Israel segera angkat kaki dari Palestina. Tidak perlu menunggu bertahun-tahun, cukup hanya dalam bilangan hari saja.
Sayangnya, umat Islam yang seperti anda sangat sedikit, apalagi yang terhitung pejabat dan presiden, rasanya tidak ada. Maka begitulah jadinya, Israel tetap saja bercokol di negeri yang diberkahi Allah dengan gagahnya.
Sementara itu umat Islam dari ujung barat Maroko hingga ujung Timur Marauke, hanya tergugu, diam, sayapnya terkulai, kakinya patah, nyalinya ciut, wajahnya tertunduk lesu, matanya sayu.

Kegagahan para shahabat di masa lalu saat menembus gurun pasir membawa panji-panji Islam ke Afrika, Eropa dan Asia, kini tinggal kenangan. Surat-surat Nabi Muhammad SAW yang dulu pernah dikirim dengan gagahnya untuk mengajak para raja dunia masuk Islam, kini tak pernah terkirim lagi.

Kewibawaan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra ketika menerima kunci Baitul Maqdis dari penguasa tertinggi umat Kristiani, kini tidak ada lagi.

Keberanian Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad ketika membakar perahu mereka sendiri, agar prajuritnya tidak punya pilihan lain selain maju menembus tanah Spanyol, kini hanya sebuah mimpi masa silam.

Kehebatan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi ketika merebut Al-Aqsha dari tangan-tangan berdarah penguasa salib Eropa, kini hanya tinggal lagu kenangan.

Kegagah-perkasaan Sultan Muhammad Al-Fatih (The Conqueror) ketika menggempur Konstantinopel hanya tinggal sejarah.

Cara Menghentikan Kebiadaban Yahudi

Yahudi ditakdirkan hanya akan dikalahkan dengan cara peperangan fisik. Dan itu hanya dilakukan oleh umat Islam.

Pada hakikatnya mereka adalah bangsa paling pengecut dan paling takut mati. Tidak pernah ada sejarahnya Yahudi berani berhadapan muka langsung dalam peperangan. Mereka selalu berperang dengan cara sembunyi di balik benteng, sebagaimana firman Allah SWT.

لا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَاء جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ

Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS. Al-Hasyr: 14)

Dan menarik untuk disimak dari ayat ini, ternyata Yahudi pun terdiri dari berbagai kelompok, di mana satu dan lainnya tidak pernah bersatu.

Tetapi ketika umat Islam tidak tahu titik lemah Yahudi, maka jadilah Yahudi seolah-olah sangat kuat dan tidak terkalahkan. Padahal sesungguhnya mereka sangat lemah, pengecut dan tidak kompak.

Sayangnya, di balik semua kelemahan Yahudi itu, justru umat Islam jauh lebih lemah lagi. Bukan sekedar cinta dunia dan takut mati, bahkan lebih jauh dari itu, justru umat Islam saling berpecah belah.

Satu dengan yang lain selalu bentrok, saling hujat, saling caci, saling maki, lalu merasa kelompoknya saja yang benar. Yang tidak ikut paham dan aliran mereka, langsung dicap ahli bid’ah, bukan ahli sunnah, teroris dan khawarij.

Semua ulama dikafirkan, semua jamaah dikucilkan, semua yang tidak sama dengan dirinya dianggap ahli neraka. Seolah-oleh surga itu kavling milik pribadi mereka saja.

Dari sisi ekonomi, nyaris semua negeri Islam punya potensi kekayaan alam. Minyak bumi yang jadi ‘nyawa’ peradaban dunia, justru disedot habis dari bumi milik umat Islam oleh drakula jahat yaudi. Sebaliknya, umat Islam yang hidup di atas ladang-ladang minyak itu mati kelaparan, lantaran diembargo oleh negara-negara yang secara de facto dikuasai oleh kekuatan Yahudi.

Dari sisi pendidikan, secara sengaja barat telah merasuki para penentu kebijakan di tiap negeri muslim, agar kurikulum pendidikan di tiap negeri Islam menjadi mandul. Meski lulusannya tetap bergelar sarjana dan doktor, tetapi mentalitasnya tetap tidak jauh dari kaki tangan dan antek Yahudi.

Aqidah dan fikrahnya tetap sekuler, anti Islam dan anti syariah. Sedangkan dari sisi kualitas lulusan, sangat rendah dan tidak bisa bersaing dengan lulusan dari barat.

Dari sisi politik, hanya orang-orang yang terdidik dengan mentalitas seperti ini saja yang bisa masuk ke dalam struktur pemerintahan dan menentukan kebijakan suatu negara.

Dan ujung-ujungnya, arah politik negeri Islam sudah bisa ditebak, yaitu SANGAT taat, tunduk dan patuh kepada barat secara mutlak tanpa reserve. Bahkan ketika negara-negara Islam membentuk OIC (OKI) atau apapun namanya, tetap sama saja karakternya: lemah, pengecut dan tidak lebih dari macan ‘ompong’.

Dari sisi militer, tak satu pun negeri Islam yang mampu membuat senjata sendiri. Kalau pun mampu, belum tentu bebas membuatnya. Karena itu meski semua negara Islam bersatu, secara hitungan di atas kertas, tetap saja kalah dari sisi persenjataan dengan Yahudi.

Meskipun kita sangat yakin bahwa senjata bukan satu-satunya faktor kemenangan. Tetapi adanya senjata itu tetap penting dan Allah SWT sendiri menyebutkan manfaatnya, yaitu untuk menggetarkan lawan.

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…(QS. Al-Anfal: 60)

Yahudi Bukan Apa-apa

Sebelum seratus tahun yang lalu, Yahudi bukan siapa-siapa. Mereka adalah gelandangan miskin yang terusir dari semua negara, tertindas, terpinggirkan, tidak punya negara, kelaparan dan kedinginan.

Memang betul dan harus kita akui bahwa Yahudi itu umumnya terdiri dari orang-orang yang ulet, tahan uji, biasa hidup melarat. Mungkin hal inilah yang menempa mereka menjadi semakin kuat secara sunnatullah. Dan menjadi dendam kesumat tujuh turunan yang mereka wariskan dari nenek moyang.

Tentang terusirnya Yahudi dari berbagai belahan bumi, hal itu disebabkan karena karakter mereka yang culas, licik, makan teman, gemar berdusta, hobi berkhianat, pandai menipu, lintah darat, pelit, egois, suka menjilat dan oportunis. Dan satu lagi karakter asli mereka, pengecut…

Ledakkan

Maka untuk menghentikan kebengisan Israel hanya ada satu cara, bombardir perumahan mereka dengan peluru kendali. Kalau kita jatuhkan bom berton-ton di atas pemukiman mereka, sebentar saja mereka pasti menyerah kalah.

Dalam perang ini, ada pendapat yang boleh dikaji, yaitu tidak ada lagi istilah sipil atau militer dari kalangan Yahudi Israel. Mereka semua sama saja, halal darahnya danh hartanya juga, karena mereka datang dari negeri yang jauh lalu tiba-tiba mencaplok sebuah negeri yang merdeka.

Maka siapa saja yang masuk ke sebuah negara berdaulat lalu melakukan makar di dalamnya, baik sipil atau pun militer, keduanya sama-sama penjajah. Halal darahnya dan hartanya.

Kalau mereka mengaku sebagai orang sipil, seharusnya mereka tidak ada di tengah kancah peperangan. Seharusnya mereka segera mengungsi keluar dari bumi Palestina, atau sebelumnya tidak perlu datang ke Palestina. Bukankah dunia tahu bahwa kedatangan mereka sebagai penjajah?

Mengaku sebagai sipil tapi tetap nongkrong di wilayah peperangan, sama saja menyerahkan nyawa. Dan mereka tidak berhak untuk mengaku sebagai penduduk sipil, karena pada dasarnya rumah mereka bukan di Palestina. Mereka adalah pendatang yang masuk untuk menjajah dan membunuh rakyat sipil asli, yaitu rakyat Palestina.

Maka sebaiknya negara OKI tidak perlu bersidang, cukup kirimkan misil ke atas perumahan Yahudilaknatullahi ‘alaihim. Sidang OKI hanya buang waktu dan buang energi, tidak akan pernah membuat Yahudi gemetar.

Apa Kabar Iran? Kemana Aja?

Yang menjadi sangat misterius adalah posisi Iran dalam hal ini. Kita tahu persis bahwa Ahmadinejad sering sesumbar di depan publik, bisa mengalahkan Israel. Perang mulut antara Israel dan Iran banyak menghasilkan decak kagum sebagian kalangan.

Mereka pikir, harapan akan perlawanan dan penggempuran terhadap Israel bisa ditambatkan di Iran. Bahkan Nejad sesumbar akan menghapus Israel dari peta dunia.

Tapi sekarang terbukti bahwa sesumbar itu hanya pepesan kosong, alias tidak terbukti. Mana peluru kendali yang dibangga-banggakan itu? Mana janji mau menghapus Israel dari peta dunia?

Alih-alih menembakkan roket ke Israel, Iran malah mau mengirim 7.000 mahasiswa suka rela. Kasihan sekali para mahasiswa itu, bukan karena mau mengecilkan peran dan semangat juang mereka. Tapi bukankah untuk perang wajib ada pelatihan dulu? Wajib harus ada pembekalan ini dan itu. Sekarang Israel sudah meledakkan rakyat Palestina, masak sih yang dikirim hanya mahasiswa? Rasanya kok kurang pas ya?

Seharusnya yang dikirim adalah tentara pengawal revolusi, atau apalah. Yang penting tentara profesional. Bukan mahasiswa yang masih harus dilatih dulu. Orang sudah perang kok baru mau latihan.

Apa sih susahnya meluncurkan missil antar benua, pasti akan lebih efektif dan efisien. Cukup tekan tombal dan wussss Israel meledak. Mudah, cepat, murah dan

Masih terngiang janji manis Iran beberapa waktu yang lalu :

“Mereka seharusnya takut bahwa rudal yang memiliki jangkauan tembak 2.000km akan menghantam jantung kota Tel Aviv,” kata Ayatollah Ahmad Khatami. Ia mengacu pada rudal Shahab-3 Iran yang dapat menghantam sasaran sejauh sekitar 2.000km.

“Kami akan memusnahkan Israel,” kata Jenderal Muhammad Riza Asytiani.

“Pasukan bersenjata Iran akan menyerang pusat Israel dan 32 pangkalan AS di kawasan ini sebelum debu dari serangan itu mengendap,” kata Mojtaba Zolnoor.

Sekarang kita menunggu-nunggu ancaman itu, sebab memang sekarang lah saat yang paling tepat. Tapi kok tidak pernah dilaksanakan. Tadinya saya bilang, kenapa kita hanya demo ke Kedubes AS di Jakarta, kenapa kita tidak sekalian demo ke Kedubes Iran? Demo ke Kedubes Iran? Ya, karena mereka punya senjata yang berimbang dan tegas menyatakan mampu membungkam Israel.

Nah ini saat yang paling tepat untuk membuktikan bahwa Sahab-3 itu benar-benar bisa menembus jarak 2.000 km, penerbangan langsung from Iran to Tel Aviv. Tapi unfortunetly, Iran ternyata diam saja. Malah hanya mengirim anak-anak mahasiswa. Bukan mengirim roket Sahab-3 nya.

Tiba-tiba seorang teman berbisik,”Ustadz, Iran baru akan melakukan serangan itu hanya kalau fasilitas nuklirnya diserang oleh Israel. Sedangkan kalau Israel membunuh rakyat Palestina, meski korban sudah jatuh sampai 300-400 orang, mereka sih masih tenang-tenang saja”.

Glek, saya hanya duduk terdiam sambil berlinang air mata. Oh, gitu ya. Kok bisa ya mereka santai-santai sementara tiap hari korban berjatuhan. Wahai, kekuatan apa yang membuat para penguasa di Iran jadi kaku tanggannya untuk memencet tombol. Apakah karena rakyat Palestina bukan syiah tapi sunni??? Semoga tidak.

Dan 1001 pertanyaan berkecamuk di kepala….La ilaaha illallah…

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: