Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Desember 15, 2008

Islam dan Jerman dalam Sejarah

Filed under: Berita Islam, Seputar pemikiran islam — Tag:, , , — iaaj @ 10:53 am

ditulis oleh Nugroho Fredivianus sumber dari warnaislam.com

Masih segar di ingatan kita beberapa bulan yang lalu kalangan Islam di seluruh dunia dibuat geram karena ulah sekelompok politisi menyelenggarakan “Anti-Islamification Congress” di Jerman. Pertemuan yang disponsori oleh kalangan sayap kanan beberapa negara Eropa tersebut diselenggarakan di kota Köln atau Cologne, kota terbesar ketiga di negeri itu. Tidak lama sebelum itu, kota yang sama juga diramaikan oleh rencana pembangunan Masjid Agung yang proposalnya telah disetujui oleh parlemen.

Gerakan penolakan muncul ditandai dengan terbentuknya aliansi Pro-Köln (Untuk Cologne) disingkat PK, yang beranggotakan beberapa aktifis politik setempat. Kekuatan politik lain yang tidak sepakat menyatakan bahwa PK adalah gerakan ekstrimis, mengusung rasisme dan disinyalir sebagai titisan dari Nazi yang ajarannya ‘diharamkan’ di Jerman. Tidak hanya itu, kalangan aktifis beraliran sosialis-marxis pun dengan tegas menolak diselenggarakannya acara tersebut. Mereka melakukan aksi terkoordinir dan mengajak elemen masyarakat untuk memboikot acara tersebut. Tertulis di salah satu situs marxisme, “they were aghast to discover that no taxi driver would take them to their destination, no restaurant honoured their table reservation and no hotel would give them keys to their rooms.”

“Mereka terperanjat karena tahu bahwa semua supir taksi tidak mau membawa mereka, tidak ada restoran menyediakan meja, dan semua hotel tidak mau memberikan kunci kamar untuk mereka.”

Bahkan kalangan kiri ini mengungkapkan apresiasinya terhadap sikap kubu Kristen Demokrat yang juga menolak agenda fasis tersebut. Walikota Cologne dari partai CDU (Christlich Demokratische Union Deutschlands) Fritz Schramma berpidato dengan lantang mengutuk dan menentang diselenggarakannya kongres di kotanya. Cukup menakjubkan mengingat CDU beberapa saat sebelumnya bersuara menolak pembangunan Masjid Agung di Cologne.

Terlepas dari kondisi perpolitikan lokal, fenomena berdirinya beberapa kekuatan non-muslim di belakang Islam ini membuka mata kita semua bahwa pelan tapi pasti dunia sedang menuju pada pola keseimbangan baru. Dominasi barat dan budaya Kristen di negeri-negeri Eropa perlahan berubah dan mau tidak mau diharuskan menerima sebuah konsekuensi pluralitas,sesuatu yang kita lihat sering ditembakkan berbagai kalangan kepada umat Islam yang di suatu tempat merupakan mayoritas.

Setengah tahun terakhir saya sempat beberapa kali mengunjungi Cologne. Meskipun secara umum biaya hidup di sini terbilang lebih mahal, namun keramahan penduduknya menunjukkan ciri orang Jerman bagian barat pada umumnya dan berbeda dengan daerah selatan yang cenderung keras. Landmark kota adalah sebuah gereja besar bernama Dom, persis di sebelah Hauptbahnhof alias stasiun utama kereta. Kalangan kristen menolak pendirian Masjid Agung karena merasa Cologne adalah sebuah ‘Christian City’ yakni kota dengan budaya kristen yang kuat. Berangkat dari titik ini, saya tertarik untuk mundur ke belakang dan melihat bagaimana sejarah masa lalu Jerman terkait dengan Islam dan umatnya.

Berbagai referensi membawa saya melihat abad ke-17, tepatnya di tahun 1668 dan 1683. Masa yang dikenal sebagai titik balik ekspansi dinasti ‘Utsmaniyah (Ottomans), menghadapi berbagai kekuatan besar di Eropa yang sebelumnya tidak henti-hentinya berperang satu sama lain. Dengan semangat menghapuskan kolonialisme yang menginjak-injak berbagai negeri Islam di berbagai belahan dunia, pasukan Turki masuk ke jantung wilayah Eropa.

Wina (Vienna) ibukota negara Austria berhasil dikepung pasukan Turki ‘Utsmani di tahun 1668 M atau 1079 H. Blokade yang dilakukan oleh kekuatan Islam ini kemudian menghasilkan kesadaran baru bagi negara-negara Eropa untuk bersatu, dan menyadari bahwa satu-satunya yang dapat mempersatukan mereka melawan pasukan Turki adalah agama. Vatikan pun segera bersuara untuk memerintahkan serangan balasan ke Tunisia dan Aljazair. Di saat yang sama, Jerman mengirimkan bala tentara terkuatnya untuk membebaskan Wina dari blokade Turki. Terilhami oleh kemenangan Rusia merebut kembali kota Kiev dari pasukan ‘Utsmani 2 tahun sebelumnya, pada 1683 atau baru 15 tahun kemudian Jerman dapat mengambil alih kota Wina. Kekalahan Utsmani ini mengakibatkan tertawannya banyak tentara muslim yang kemudian dipekerjakan secara paksa oleh tuan tanah di negeri Jerman. Inilah kesan pertama yang “tidak begitu menggoda” antara Islam dan Jerman.

Namun ternyata setelah itu nyaris tidak ditemukan adanya catatan negatif antara Islam dan Jerman, negara yang persentase penduduk muslimnya hanya sekitar 5% di mana mayoritasnya keturunanTurki. Komunitas dari satu-satunya negara Islam yang pernah berperang dengan mereka ini datang pasca Perang Dunia II, mengisi berbagai lowongan kerja yang tersedia. Wajar karena saat itu tercatat ketersediaan tenaga dan lapangan kerja adalah 6 lowongan berbanding 1 pekerja yang tersedia. Imigran muslim Turki dan beberapa negara lain berkontribusi besar atas meningkatnya perekonomian Jerman sebesar 400% selama periode 1948 hingga 1961.

Peningkatan perekonomian Jerman ini disebut sebagai salah satu keajaiban ekonomi dunia dan dikenal dengan istilah Wirtschaftswunder atau Miracle of Economy. Adalah Ludwig Erhard (1897 – 1977) yang memperkenalkan konsep Soziale Marktwirtschaft atau “Ekonomi Pasar Sosial” yang menyediakan subsidi kesejahteraan untuk orang cacat, tidak mampu, kalangan manula, hingga anak-anak. Ciri dari sistem ini adalah sebuah “safety-net” yang coba dilakukan juga oleh pemerintah Indonesia dengan Jaring Pengaman Sosial atau JPS.

Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi begitu cepat adalah program pemulihan ekonomi yang lebih dikenal dengan istilah “Marshall Plan”, diprakarsai oleh Amerika Serikat dan dilaksanakan 1948-1951 untuk memasukkan Jerman (Barat) ke dalam aliansinya, di samping keunggulan Jerman dalam bidang permesinan yang juga dikehendaki. Nama “Marshall Plan” diambil dari George C. Marshall yang saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri AS.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang sedemikian pesat, penguasaan teknologi tinggi serta didukung jaring pengaman yang sangat memudahkan penduduknya, Jerman menjadi salah satu tujuan studi kalangan pemuda. Tahun 1950-an dan 1960-an datanglah gelombang ketiga umat Islam yang berangkat ke Jerman dalam rangka belajar. Mayoritas dari gelombang ketiga ini adalah para pemuda Timur Tengah yang selain dalam rangka belajar, juga menghindari rezim di negara mereka yang banyak melakukan tindakan represif pada masa itu.

Gelombang ketiga ini berbeda dengan tentara di abad 17 maupun pekerja beberapa puluh tahun sebelumnya, melainkan terdiri dari orang-orang terdidik dan tercerahkan secara intelektual. Dalam menjalani studinya mereka tidak hanya belajar teknologi namun juga membentuk perkumpulan-perkumpulan dan organisasi. Di awal tahun 1960-an berdirilah Islamic Center di Munich (Islamisches Zentrum München) dengan bantuan donasi sebesar 80 ribu Deutschmark dari Raja Fahd pemimpin kerajaan Arab Saudi.

Bersamaan dan pasca gelombang ketiga ini, berangsur-angsur dari berbagai negara termasuk Indonesia, mahasiswa muslim bertebaran di seantero Jerman. Salah satunya adalah presiden ketiga Republik Indonesia, Baharuddin Jusuf Habibie yang menempuh studinya di kota Aachen pada tahun 1955, dan 10 tahun kemudian memperoleh gelar doktor dari RWTH-Aachen.

Program beasiswa yang diluncurkan pemerintah Jerman cukup mendukung eratnya interaksi dengan kalangan terdidik umat Islam. Beberapa negara Islam yang terhitung sebagai negara berkembang mendapatkan fasilitas untuk mengirimkan mahasiswa dan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah Jerman. Salah satu program yang dimunculkan adalah Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) atau German Academic Exchange Service yang juga diberikan pada pelajar dari Indonesia.

Pada tahun 1994 para mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari program DAAD ini kemudian membentuk suatu wahana komunikasi umat Islam Indonesia. Sebuah pertemuan penerima beasiswa yang diselenggarakan di kota Karlsruhe dimanfaatkan sebagai momentum untuk mendirikan wadah bersama yang kemudian diberi nama Forkom-Jerman singkatan dari Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia se-Jerman.

Hingga kini Forkom-Jerman terus eksis dan berupaya melebarkan dakwah untuk memenuhi dahaga umat Islam Indonesia di berbagai kota yang ada di Jerman, menghadirkan Islam dalam kebersamaan hidup di tengah mayoritas penduduk, budaya, dan lingkungan non-muslim. Misi lainnya adalah, terus berupaya melakukan harmonisasi antara umat Islam dan agama lain, dan bertekad memenuhi cita-cita Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dengan bersahabat dan berkontribusi.

1 Komentar »

  1. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com%3c/a>. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://agama.infogue.com/islam_dan_jerman_dalam_sejarah

    Komentar oleh nun1k04a — Desember 23, 2008 @ 2:39 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: