Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Desember 12, 2008

Mari ‘Memahami’ Islam Liberal

Filed under: Seputar pemikiran islam — Tag:, , — iaaj @ 4:09 am

ditulis oleh Mirzah Abdulaziz
sumber dari warnaislam.com

Keberadan JIL (Jaringan Islam Liberal) cukup menarik perhatian masyarakat muslim Indonesia karena pesan-pesan atau wacana-wacana kontroversial yang dibawa oleh kelompok ini. Misalnya pertama, tentang teologi inklusif-pluralis; suatu gagasan yang mendangkalkan akidah umat dengan menyamakan dan mesejajarkan semua agama.

Kedua, penolakan kelompok ini terhadap syariat Islam sebagai sebuah legal karena mereka menilai penerapan syariah akan berdampak pada “kemunafikan”. Artinya jika seseorang yang tidak ingin shalat atau memakai jilbab, kemudian dipaksa memakai jilbab, maka hal ini akan memunculkan kemunafikan karena orang tersebut tidaklah melakukan perintah syariat dengan suka rela, tapi karena dipaksa. Ketiga, tujuan dibentuknya JIL, yaitu untuk menghentikan—menurut penilaian mereka—gerakan Islam Fundamentalis atau Islam Militan yang mereka nilai berbahaya untuk perkembangan demokratisasi.

Suatu gerakan biasanya memulai prioritas aktivitasnya dengan mempersepsikan terlebuh dahulu apa yang menjadi musuh atau ancamannya. JIL menyatakan gerakannya bertujuan untuk melawan atau menghambat gerakan Islam militan atau Islam fundamentalis. Demi terwujudnya wajah Islam yang “teduh” dan “cinta damai”.
Mengenal Tujuan dan Ciri Gerakan

JIL merumuskan tujuan gerakannya dalam beberapa hal. Pertama, memperkokoh landasan demokratisasi lewat penanaman nilai-nilai pluralisme, inklusivisme, dan humanisme. Kedua, membangun kehidupan keberagamaan yang berdasarkan pada penghormatan atas perbedaan. Ketiga,mendukung dan menyebarkan gagasan keagamaan yang pluralis, terbuka, dan humanis. Keempat, mencegah pandangan keagamaan yang militant.

Ada empat ciri kaum liberal di Imdonesia. Pertama,, mereka percaya bahwa isi dan substansi ajaran agama Islam jauh lebih penting daripada bentuk dan labelnya. Dengan menekankan substansi agama moral, sangat mudah bagi kaum liberal ini untuk mencari common ground dengan penganut agama dan kaum moralis lainnya untuk membentuk aturan public bersama.

Kedua, mereka percaya, walau Islam (Al-Qur’an) itu bersifat universal dan abadi, namun ia tetap harus menerus di interpretasi ulang untuk merespons zaman yang terus berubah dan berbeda. Zaman pascaindustri menjelang abad ke-21 ini jelaslah bebeda, secara ekonomi, politik dan kultur, dengan zaman ketika Islam pertama kali turun di negara padang pasir seribu empat ratus tahun lalu.

Ketiga, mereka percaya karena keterbatasan pikiran manusia, mustahil mereka mampu tahu setepat-tepatnya kehendak Tuhan. Kemungkinan salah menafsirkan kehendak Tuhan menjadi keyakinan mereka. Dengan sikap ini, mereka akan lebih bertoleransi atas keberagaman interpretasi dan membuat dialog dengan pihak yang berbeda. “Jangan-jangan apa yang kita anggap salah, ternyata adalah hal yang benar di hadapan Tuhan, atau apa yang kita anggap benar, ternyata dihadapan Tuhan itu salah..” demikian argument salah seorang tokoh liberal tanah air. Sehingga kompromi untuk hal-hal yang bersifat publik, yang mengatur kehidupan bersama, lebih mudah dilakukan. Dan berkompromi ini adalah salah satu sokoguru demokrasi.

Keempat, mereka menerima bahwa bentuk negara Indonesia sekarang—yang bukan merupakan negara Islam—adalah bentuk final. Dengan keyakinan ini, mereka tidak akan berupaya menjadikan Islam sebagai dasar negara. Netralitas negara terhadap pluralitas agama di Indonesia akan sangat mudah diterima semua kalangan, karena Indonesia adalah negara yang plural.
Pandangan Terhadap Islam Militan / Islam Ekstrimis

Kekhawatiran akan bangkitnya ‘ekstremisme’ agama sempat membuat banyak orang Khawatir, terutama dari kalangan “permisivisme”. Gejala yang mnunjukkan perkembangan seperti ini cukup banyak. Munculnya sejumlah kelompok militant Islam, tindakan pengrusakan dan pengeboman, berkembangnya sejumlah media yang menyuarakan aspirasi ‘Islam militan’, penggunaan istilah ‘jihad’ sebagai alat pengesah serangan terhadap kelompok agama lain, dan semacannya, adalah beberapa perkembangan yang menandai bangkitnya aspirasi keagamaan yang ekstrem tersebut

Sudah tentu, jika tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang militant itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militant ini menjadi dominant dan meluas. Hal ini, jika benar terjadi akan mempunyai akibat yang buruk untuk usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab, pandangan-pandangan keagamaan yang militant biasanya menimbulkan ketegangan di antara Islam dan non-Islam. Pandangan-pandangan keagamaan yang terbuka, plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.

Pandangan dan doktrin pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri, tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Pada kenyataannya dalam Al-Quran banyak ayat-ayat yang menolerir ajaran agama lain, sehingga konsep agama yang paling benar adalah Islam, mesti dibongkar agar umat Islam tidak lagi menganggap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap eksklusif dan ekstrim dalam bersosialisasi di tengah masyarakat plural.
Mengaburkan Konsep Tauhid Islam?

Bagaimana? Anda bisa memahami Islam Liberal sekarang? Masalah setuju atau tidak, itu terserah kepada pembaca.. Jaringan Islam Liberal menganut prinsip bahwa semua agama adalah sama, sejajar, egaliter. Semua merupakan agama transendental, agama langit. Para penganjur paham “persamaan agama” ini juga biasanya menggunakan dalil Al-Qur’an surah al-baqarah ayat 62 dan al-maa’idah ayat 69 untuk dijadikan pijakan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Shabi-in dan orang-orang Hashara, barang siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawaturan terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Maa’idah:69)

Bisa dilihat dalam berbagai pendapat yang diungkap kaum inklusif-pluralis, ayat tersebut dianggap memberikan legitimasi, bahwa agama apapun pada dasarnya adalah benar dan dapat dijadikan sebagai jalan menuju keselamatan.

prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur’an, adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan,dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenai pluralisme keagamaan dan menolak eksklusivisme. Dalam pengertian lain, eksklusivisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara suau komunitas agama dari lainnya. Prinsip ini digariskan oleh dua ayat Al-Qur’an, sebuah eksposisi yang jarang sekali terjadi sebuah ayat Al-Qur’an tampil dua kali dan hampir mirip kata per kata, yang menyatakan,

“Sesungguhnya mereka telah beriman, Yahudi, Kristen, dan kaum Shabi-in. Mereka yang percaya pada Tuhan dan Hari Akhir dan berbuat kebaikan, akan menerima pahala dari Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (al-Baqarah:62 dan al-Maa’idah:69)

Jadi komunitas agama apapun dapat menerima pahala, sebab Al-Qur’an tidak membeda-bedakan komunitas agama yang ada.
Nampaknya Tidak Sesederhana Itu

Sayangnya argument tersebut agak terburu-buru, karena begitu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan kesesatan dan kekufuran kaum Yahudi dan Nasrani serta kaum musyrikin lainnya. Jika melihat dalam Al-Qur’an, sudah ditegaskan bahwa orang-orang kafir (baik Ahli Kitab maupun kafir musyrik), akan akan menjadi penghuni neraka (al-Bayyinah: 6).

Kekufuran Yahudi dan Nasrani sangatlah jelas. Karena itu, amatlah mengherankan jika muncul orang-orang yang mengkampanyekan bahwa “inti semua agama” bahkan agama itu sendiri adalah sama. Nampaknya JIL mengesampingkan konteks asbabun nuzul surat al-Baqarah: 62.

Dikemukakan Ibnu Abi Hatim dari Salman al-Farisi: Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang para pemeluk agama yang pernah saya anut. Dia pun menerangkan sholat dan ibadah mereka. Lalu turunlah ayat ini (al-Baqarah:62).

Diriwayatkan Ibnu Jarir dari Mujahid bahwa Salman al-Farisi bertanya kepada Nabi saw tentang orang-orang Nasrani dan pandapat beliau tentang amal mereka. Beliau menjawab, “Mereka tidak mati dalam keadaan Islam.” Salman berkata, “Bumi terasa gelap bagiku dan aku pun mengingat kesungguhan mereka.” Lalu turunlah ayat ini. Setelah itu Rasulullah saw memanggil Salman seraya bersabda, “Ayat ini turun utuk para sahabatmu.” Beliau kemudian bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam agama Isa sebelum mendengar aku, maka dia mati dalam kebaikan. Barangsiapa telah mendengar aku dan tidak mengimaniku maka dia celaka” [al-Suyuti, al-Durr al-Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr vol. 1]

Lagipula jika hanya mengakui Allah SWT saja sebagai Tuhan dan hari akhir, kaum kafir Quraisy ketika ditanya, siapakah pencipta langit dan bumi, mereka pasti akan menjawab “Allah”. Hal ini menunjukkan mereka mengakui Tuhan adalah Allah.

Namun dalam Islam kan tidak hanya sampai pada mengakui Allah SWT sebagai tuhan atau beriman pada hari akhir, doktrin iman versi Al-Quran menekankan lebih jauh sampai pada kalimat tauhid yaitu : Tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali hanya Allah SWT dan Muhammad itu adalah Nabi dan utusan Allah. Artinya, segala penyembahan dalam bentuk apapaun dan kepada objek apapun harus dibuang, kecuali hanya kepada Allah SWT saja. Dan bahwa Muhammad itu selain seorang yang cerdas, berpengaruh dan memiliki kemampuan memimpin yang luar biasa, beliau juga adalah manusia yang padanya diturunkan al-Quran, syariat dan agama terakhir yang menghapus semua syariat dan agama lainnya.

Logika sederhana saja, jika semua agama sama dan sama-sama benar di mata Tuhan, berarti kita tidak perlu konsisten dengan agama yang kita anut. Hari ini agama saya Islam, ah…besok kalo lagi males sholat saya pindah agama saja dulu jadi kristen. Nanti kalau mau “jalan-jalan” ke Arab saya jadi Islam lagi, biar bisa ikutan haji (kacau…).

Disisi lain ada ayat yang menurut JIL sebagai ayat ekslusif: “Sesunggunya agama di sisi Allah ialah Islam, tidaklah berselisih orang-orang yang diberi kitab (ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Quran) kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian diantara mereka. Barang siapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Ali-Imran: 19).

Namun menurut ijma kaum Muslimin, ayat tersebut merupakan ayat yang final mengenai deklarasi satu-satunya agama yang diridhai Allah SWT yaitu Islam. Mau dibilang apa pun (baca: ayat eksklusif, ayat yang mendorong umat Islam berlaku ekstrim dan tidak menghormati agama lain, dll) tetap saja kita tidak bisa merubah penafsiran (apalagi tulisan) ayat tersebut, karena sudah sangat jelas. Mau ditafsirkan bagaimana lagi?

Dan ketika Islam sudah menjadi agama satu-satunya yang diridhai Allah SWT, sudah tentu ada ketentuan-ketentuan yang mengaharuskan tegaknya syariat Islam sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Karena yang menyuruh kita untuk berhukum pada hukum Allah SWT bukanlah manusia melainkan Allah sendiri, melalui kekuasaan pemimpin agar bisa mengontol dan menjamin terlaksananya syariat Islam. Tidak perlu takut atau khawatir atas upaya penerapan syariat Islam, yang perlu dikhawatirkan adalah jika seorang pemimpin yang dipilih tersebut bukanlah orang yang baik dan sholeh untuk bisa menerapkan syariat Islam.

Allahu Ta’ala A’lam.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: