Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Juli 29, 2008

MENGGANASNYA KAUM HOMOSEKS

Filed under: Berita Islam, Seputar pemikiran islam — Tag:, , — iaaj @ 10:41 am

sumber swaramuslim.com
Musdah Mulia : “Tidak ada perbedaan antara lesbian dan tidak lesbian. Dalam pandangan Allah, orang-orang dihargai didasarkan pada keimanan mereka”
“Sampai berjumpa di Neraka!” Demikian biasanya ucapan terakhir tokoh jahat sebelum terbunuh. Bila kaum Nabi Luth diijinkan balik lagi barang sedetik dua detik ke dunia, niscaya mereka pun akan ngomong begitu kepada Siti Musdah Mulia. Pasalnya, wanita ini terang-terangan mempromosikan kelakuan bejat kaum Nabi Luth yang telah dibinasakan Allah SWT.

Dalam Dialog Publik yang bertema “Islam Sebagai Agama Rahmatan Lil ‘Alamin dan Sikapnya Terhadap Lesbian Gay Biseksual & Transeksual (LGBT)” di Jakarta, 27 Maret lalu, Musdah menakwil secara ngawur Surat al-Hujurat ayat 3.
Dia bilang, semua laki-laki dan perempuan sama, tak peduli etnis, kekayaan, posisi-posisi sosial, bahkan orientasi seksualnya.

“Tidak ada perbedaan antara lesbian dan tidak lesbian. Dalam pandangan Allah, orang-orang dihargai didasarkan pada keimanan mereka,” simpul wakil LSM Indonesia Conference of Religions and Peace ini sembari mengutip al-Hujurat ayat 3.

Edan tenan! Tapi menurut Ketua MUI, Adian Husaini MA, itu tak terlalu meng-herankan mengingat rekam jejak intelek-tual Sang Profesor. ”Sejak awal, cara berpikir Musdah Mulia sudah kacau. Dia seenaknya sendiri mengubah-ubah hukum Islam, untuk disesuaikan dengan cara pandang dan cara hidup Barat,” kata Adian.

Musdah Mulia, Pahlawan versi Amerika
Tak aneh pula, jika pada Hari Perem-puan Dunia 8 Maret 2007, Musdah Mulia menerima penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di Washington. Ia dianggap wanita Asia ”pemberani”. Misalnya, dengan biaya 6 Milyar dari The Asia Foundation, dia menyusun draft Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) pada 2004. Diantara isi draft CLD-KHI itu adalah: pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh meni-kahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah, dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri.

Juga jangan heran, bila Musdah Mulia akan tenang-tenang saja meskipun disebut sebagai ”antek kaum Nabi Luth”. Ia dengan sadar memang sudah siap menerima resiko atas perilaku ugal-ugalannya. Bukan tak mungkin suatu saat Musdah akan melampaui ”prestasi” Salman Rushdie atau Geertz Wilders sekalipun.

Inilah tipe-tipe orang sakit yang obsesif dan menghalalkan segala cara untuk dapat terkenal. Dalam Bahasa Betawi : Biar slebor asal sohor.

“Pemahaman saya sering dicap terlalu kebarat-baratan dan saya tidak akan terkejut, sekembali dari Amerika Serikat, saya akan dicap sebagai antek Amerika,” katanya setelah menerima upeti dari Condoleezza Rice.

Jelas, ulah Musdah menjadi umpan gurih untuk memelintir ajaran Islam.

Lihat saja bagaimana Harian The Jakarta Post mengekspos ucapan dia soal sek-sualitas tadi. Edisi Jumat (28/3/2008) koran ini memajang headline berbunyi: Islam ‘recognizes homosexuality’ (Islam mengakui homoseksualitas). Penulisan judul di halaman depan seperti itu seolah menunjukkan bahwa pernyataan ngawur tersebut adalah ajaran Islam. Bukan sekadar omongan seorang Musdah.

Grand Strategy

Akhir Akhir Ini, Kelompok Waria, bukan saja semakin BERANI bahkan semakin GANAS
Kelakuan Musdah dan The Jakarta Post tadi, merupakan bagian dari strategi besar gerakan kaum hombreng di Indo-nesia untuk mencapai tujuannya. Seba-gaimana disebutkan dalam buku Indah-nya Kawin Sesama Jenis (halaman 15), strategi gerakan untuk melegalkan per-kawinan homoseksual di Indonesia adalah:

1. Mengorganisir kaum homo-seksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara,

2. memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkan-nya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya,

3. melakukan kritik dan reak-tualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual,

4. menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan per-kawinan harus antara laki-laki dan wanita.

Menurut dedengkot hombreng Indonesia, DR Dede Oetomo,

Dede Sehari hari senang Boneka

Dede Bersama aktifis Lesbos
“perjuangan” kaum gay menempuh beberapa tahapan. Seperti dikutip Gatra edisi 4 Oktober 2003, gembong Yayasan Gaya Nusantara yang juga dosen Universitas Airlangga, Surabaya, ini, menyebutkan, fase gerak kaum homo dari underground hingga terang-terangan.

Di masa ngumpet, tempat ngumpul mereka misalnya di Heaven Club, sebuah diskotek khusus gay di kawasan Dharma-wangsa Square, Jakarta Selatan. Setiap Rabu malam, di sini digelar Brandy Bunch. “Brandy” adalah istilah gaul untuk kata “brondong”, yang artinya ABG belia.

Karenanya Brandy Bunch acap disebut Campus Gay Night, yang berlangsung se-jak 2002 dan diresmikan pada 27 Oktober 2003.

1 Komentar »

  1. wehh terorganisasi dengan biak ya
    bahkan banyak pendukung juga
    tapi ya memang semakin mengila juga
    karena homo mungkin sekarang ini ikut di populerkan oleh artis sebagai gaya hidup atau tren
    nah lohhh edan

    Komentar oleh satya sembiring — Juli 31, 2008 @ 5:37 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: