Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Juli 29, 2008

ISRAEL TERORIS SEBENARNYA

sumber kispa.org
– Arthur G Gish atau akrab disapa Art, memang penganut Kristiani. Ia juga warga negara AS (AS). Tapi, sejak 1995, petani organik ini menghabiskan waktu beberapa bulan setiap tahunnya di Palestina.Bersama timnya, Christian Peacemaker Teams (CPT), Art menjadi aktivis perdamaian. Baru-baru ini, pengalamannya di Palestina itu dituangkan dalam buku berjudul Hebron Journal. Republika berkesempatan berbincang dengannya. Selasa (22/7), saat berkunjung ke Indonesia selama 10 hari.
Apa pandangan Anda mengenai konflik internal Fatah dan Hamas?
Itu hal yang sangat sulit dan menjadi hambatan. Namun, hal lain yang saya pahami, masalah itu diciptakan oleh orang-orang di luar Palestina. Israel telah melakukan banyak hal terkait Hamas. Israel berharap Hamas yang punya senjata saling berperang dengan Fatah. Israel yang menciptakan konflik Hamas dan Fatah.
Dua tahun lalu, Hamas menang pemilu dan tak ada yang meragukan bahwa pemilu jujur dan adil. Namun, tak lama, Israel dan AS menghancurkan pemerintahan yang dibentuk Hamas. Seluruh bantuan keuangan dihentikan karena pemerintahan dijalankan Hamas. Dan, akhirnya, kita melihat Fatah dan Hamas saling bertentangan.

Bagaimana pandangan Anda tentang Hamas? Sebagian kalangan menyebut Hamas sebagai kelompok teroris?
Saya tak akan memanggil Hamas sebagai kelompok teroris. Saya seorang pasifis yang pantang melakukan kekerasan. Hamas memang memiliki sayap militer yang melakukan aksi. Namun, setahu saya, pengeboman dan bentuk kekerasan apa pun juga bertentangan dengan Islam.
Menurut saya, Hamas sangat sedikit melakukan kekerasan. Dalam kegiatannya, sebagian besar justru Hamas melakukan hal yang tak terkait kekerasan. Mereka menjalankan rumah sakit, klinik, memberi bantuan makanan bagi yang kelaparan, dan mereka memiliki integritas.
Kemenangan Hamas pada pemilu dua tahun lalu karena warga Palestina mengetahui Fatah yang korup. Mereka percaya pada Hamas karena jujur. Saat itu, tak hanya Muslim, tapi juga orang sekuler dan Kristen banyak yang memilih Hamas.
Jika orang mengatakan Hamas kelompok teroris, Israel adalah kelompok teroris sebenarnya. Dan, saya pikir, teroris yang paling buruk dan paling besar di dunia adalah George W Bush.
Alqaidah, misalnya, dalam lima tahun terakhir telah membunuh ribuan orang. Namun, dalam waktu yang sama, Bush telah membuat lebih dari jutaan orang tewas.

Selama ini, Pemerintah AS selalu memberikan dukungan penuh kepada Israel. Ketika Anda memutuskan pergi ke Hebron dan berinteraksi dengan Muslim Palestina, apakah ada pertentangan dalam diri Anda sebagai warga AS?
Saya mengerti dan saya menentang kebijakan AS. Saya telah terlibat dalam aksi antikekerasan selama 50 tahun. Saya pernah bekerja dengan Martin Luther King dalam aksi antikekerasan dan juga menentang Perang Vietnam. Saya harus katakan, saya cinta negara saya. Tapi, apa yang dilakukan negara saya membuat saya sangat sedih.

Menurut Anda, Pemerintahan AS mendatang akan mengubah kebijakan mereka soal Palestina-Israel?
Saya tak bisa secara tegas mengatakannya. Sebagian besar politisi yang kemudian terpilih jadi presiden berbuat berbeda dengan yang mereka kampanyekan. Well, dalam soal Palestina, Barack Obama (kandidat dari partai Demokrat–Red) terdengar lebih buruk dibandingkan Bush.
Saat Obama berbicara di Washington DC sebulan lalu, dalam pertemuan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), mengatakan, seluruh Yerusalem milik Yahudi dan tak bisa dipecah. Dia menginginkan suara dari pemilih Yahudi.
Secara politik, Yahudi memberikan suaranya kepada Demokrat. Sementara itu, Kristen sayap kanan, termasuk Christian-Zionism, memberikan dukungan terhadap Partai Republik. Jadi, baik Demokrat maupun Republik punya komitmen yang tinggi kepada Israel.

Apakah Anda setuju bila dikatakan siapa pun yang menjadi presiden AS, keberpihakan AS terhadap Israel tak akan berubah?
Tak akan pernah, sejak Truman (Harry Truman, presiden AS yang mengakui berdirinya Israel pada 1948). Namun, yang harus kita lakukan adalah bagaimana memahami cinta Tuhan. Ini dasar yang mendorong saya melakukan aksi nonkekerasan di Hebron.

Bagaimana pendapat Anda tentang Christian-Zionism?
Ini merupakan heresi (bid’ah) yang sangat mengerikan. Ini sebuah distorsi atas Kristianitas. Mereka percaya Tuhan akan menyelesaikan masalah di dunia. Namun, Tuhan akan menjalankan kehendak-Nya itu melalui Israel, pendirian ”negara” Israel.
Saya pernah mendengarkan khutbah Jumat yang mengatakan bahwa hal yang terpenting terjadi di dunia adalah terwujudnya sebuah ummah. Ini hal yang sama, Kristen dan Islam percaya tentang keberadaan ummah. Jadi bukan konsep negara.
Tuhan melakukan pekerjaan khusus dengan membawa semua ummah dalam kebersamaan. Ini bukan dalam bentuk sebuah negara bangsa. Ini bukan dalam bentuk Pemerintahan AS ataupun Israel, juga Indonesia. Ini adalah ummah.
Menurut Christian-Zionism,itu adalah gerakan politik. Keberadaan mereka masih ada. George W Bush mendapatkan banyak dukungan politik dari mereka. Kristen konservatif juga memberikan dukungan kepada mereka.

Menurut Anda, apakah ketidaktahuan sejarah berdirinya Israel membuat orang salah paham pada seluk-beluk konflik kawasan ini?
Saya pikir tidak dan akhirnya membuat mereka salah menilai atas konflik antara Palestina dan Israel. Saya pikir, orang yang telah pergi ke sana akan mengubah pemikiran mereka. Dan, saya berharap buku saya bisa turut mengubah pemikiran yang salah itu.

Bagaimana media di Barat menggambarkan konflik Palestina dan Israel? Apakah mereka seimbang memberitakan konflik ini?
Tidak, tidak di AS. Saya tak bisa mengomentari media di negara lain, namun di AS tak ada keseimbangan berita. Israel baik dan Palestina buruk. Jika ada seorang Israel terbunuh oleh warga Palestina, akan menjadi berita besar.

Apakah Anda bahagia?
Ya, saya sangat bahagia. Ketika Anda menyerahkan hidup ke Allah dan berupaya melakukan yang Allah perintahkan, itu sangat mengesankan. Ketika di Hebron, saya diundang oleh sebuah keluarga dan tidur di rumah mereka. Ini keistimewaan. Bayangan saya, hidup George W Bush pasti membosankan karena tidak punya pengalaman seperti yang saya miliki (Art pun tertawa).
Bagi saya, ini sebuah pembebasan. Kita bebas jika kita tidak takut mati. Kita hanya menyerahkan diri pada Allah. Anda bisa bayangkan, saat saya di Hebron, beberapa kali tentara Israel menghadang dan menodongkan senjata kepada saya dan mengatakan, ”Saya akan membunuhmu.”
Saya bilang, ”Silakan saja, tembak saya.”
Saya bisa mengatakan itu karena saya seorang yang bebas dan menyerahkan diri kepada Allah.

Lalu, apa yang Anda harapkan ketika mati?
Harapan saya adalah Rahman dan Rahim Allah. Ketika berada di hari perhitungan nanti, amalan baik dan buruk saya diperlihatkan. Saya berharap Allah memberikan belas kasihan-Nya. Hanya ini jalan keluarnya.
Saya pikir, dalam Islam, ada hadis yang juga menyatakan demikian. Nabi Muhammad SAW mengatakan, seorang nabi pun hanya dapat masuk surga semata karena kasih sayang-Nya. Dalam kasus lain, orang sering bertanya kepada saya, apakah ada harapan di Palestina? Saya jawab, mungkin tidak. Namun, saya punya harapan lain. Harapan saya bukan pada proses politik yang kini terus berjalan, tapi hanya pada Allah.

Bagaimana hubungan Anda dengan istri?
It’s a big problem. Hati saya berada di Palestina dan hati istri saya di Irak. Kedua-duanya keras kepala. Saya terkadang menghabiskan waktu di Irak dengan dia. Dia pula terkadang datang ke Palestina.
Bagi saya, perpisahan ini adalah spirit dari puasa. Seperti kita ketahui, puasa tak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, tapi segala sesuatu. Saya belajar makna puasa dari Islam, lebih dari 10 tahun saya mengikuti Ramadhan.
Kembali kepada terpisahnya saya dengan istri, apa yang saya lakukan adalah puasa. Kami melakukannya untuk Allah. Pada 1991, saya hadir dalam pertemuan di masjid Athens dan imam mengucapkan terima kasih atas apa yang telah saya lakukan bagi perdamaian.
Dia mengatakan bahwa saya telah melakukan hal besar dalam ranah kemanusiaan. Tapi, saya katakan tidak. Saya melakukannya untuk Allah. Dia lalu memeluk saya erat. Puasa membuat saya berdisiplin. Saya pikir, keterpisahan saya lebih kecil daripada mereka yang terpisah akibat penderitaan.

Terakhir, apa saran Anda agar kami pun dapat menciptakan perdamaian?
Buatlah Muslim Peacemaker Team. Betapa indahnya jika kita bisa bekerja sama menebarkan benih cinta dan perdamaian. Perdamaian akan tercipta jika ada cinta. Perdamaian tidak akan berjalan seiring dengan ketidakadilan. Jadi, tegakkan keadilan. Insya Allah. (fer/yyn/RoL/fn)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.