Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Juli 19, 2008

Hukum Kompilasi Islam, Syar’ikah?

sumber eramuslim.com
Assalamualaikum Wr Wb,
Ustadz, apakah pengertian dari hukum kompilasi Islam? Benarkah hukum itu dilihat dari sudut pandang hukum syariah itu sendiri?
Terima kasih,
Wassalam
AC
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kata kompilasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kumpulan yang tersusun secara teratur (daftar informasi, karangan dan sebagainya).
Dalam prakteknya, istilah kompilasi lebih merupakan campuran dari berbagai unsur. Misalnya kita mengenal istilah musik kompilasi, di mana seniman melakukan pencampuran dari berbagai jenis musik, baik modern maupun tradisional, atau pun etnik.

Maka kalau kita terapkan pengertian istilah ini menjadi kompilasi hukum Islam, kira-kira maksudnya adalah hukum Islam yang dicampur-campur dengan hukum lain, misalnya hukum adat, atau hukum barat.

Sejak abad ke-7 para penyebar dakwah Islam telah mendarat di nusantara dan mengajarkan hukum Islam.

Para sultan dari berbagai kesultanan Islam jelas-jelas telah menerapkan hukum Islam, sesuai kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hukum syariah sampai kepada bentuk eksekusi hukum hududnya juga sudah berjalan secara resmi dan sah di semua kesultanan Islam.

Lalu datanglah para penjajah, dimulai dengan Portugis lalu Belanda. Saat menjajah selama 350 tahun itu, Belanda sangat menekankan hukum buatan mereka di negeri ini. Mereka juga mendirikan sekolah dan kampus yang mengajarkan hukum buatan Belanda. Banyak juga pemuda kita yang disekolahkan di negeri kincir angin itu. Akibatnya, lahirlah dalam jumlah banyak para sarjana hukum produk Belanda.

Oleh pemerintah Belanda dan juga rejim penguasa RI pasca kemerdekaan, para sarjana lulusan Belanda inilah yang lebih banyak mendapat tempat di pemerintahan. Akibatnya, hukum-hukum Belanda seolah mendapatkan tempat yang sangat kuat.

Sementara di kalangan rakyat, pesantren, pengajian dan majelis taklim para ulama masih tetap mengajarkan hukum Islam. Sebab bab-bab fiqih itu pada hakikatnya adalah fakultas syariah. Meski kurang mendapatkan tempat yang layak di pemerintahan bahkan di kampus agama yang dibangun dengan pajak rakyat, namun pengajaran dan penerapan hukum Islam tetap masih berjalan hingga kini.

Di sisi lain, ada juga sebagian kecil masyarakat tradisionalis yang berpedang kepada adat, walau kelompok ini nyaris sedang mengalami kepunahannya. Namun oleh musuh-musuh Islam, hukum adat tradisionalis ini kemudian dibenturkan dengan hukum Islam.

Padahal beberapa hukum adat di negeri kita selama ini telah mengalami proses Islamisasi dengan budaya. Oleh para orientalis kafir, perbedaan antar keduanya dibenturkan dengan sangat keras, sehingga para orang tua tradisionalis sangat membenci kalangan Islam.

Akhirnya dirumuskanlah kompromi hukum yang kita sebut dengan Kompilasi Hukum Islam. Tetapi semua kembali kepada siapa yang membuatnya. Kalau yang membuatnya adalah musuh-musuh syariah, jadilah kompilasi itu sebuah penipuan besar-besaran, makar yang tidak ada bandingannya buat kalangan muslim.

Sebaliknya, kalau kompilasi itu didominasi oleh para ulama ahli syariah, maka tentu saja syariah Islam akan aman. Jadi kesimpulannya, yang menentukan adalah the man behind the gun.

Penyebaran Fikrah Hukum Islam

Kalau umat Islam sampai taraf terpaksa harus kompromi dengan mengikuti Kompilasi Hukum Islam, bisa dipahami sebagai kemenagan dan sekaligus juga bisa dipahami sebagai kekalahan.

Kita sebut kemenangan, kalau skala ukurannya adalah bahwa sebelumnya hukum Islam sama sekali tidak diterima sebagai bagian dari hukum positif di negeri ini.

Dengan adanya keterbukaan, juga semangat kesadaran umat -termasuk birokrasi dan pemerintahan-, maka hukum Islam sedikit demi sedikit mulai mendapat tempat lagi secara resmi dalam hukum negara.

Ini yang bisa kita sebut sebagai kemenangan, di mana ukurannya adalah kondisi sebelumnya.

Namun kalau kita lihat secara global dan membuka perspektif sejarah lebih luas, kondisi ini jelas masih merupakan bagian dari serangkaian kekalahan pihak umat Islam.

Sebab kondisi idelanya adalah semua wilayah di nusantara ini dahulu sudah menerapkan syariat Islam, sejak berabad-abad lamanya. Hukum rajam, potong tangan, cambuk dan seterusnya, sudah pernah berjalan sebagai bentuk hukum positif di negeri ini, setidaknya sebelum kita dijajah orang-orang kafir dari Eropa.

Kalau sekarang ini kita secara formal telah merdeka, namun secara hukum masih saja harus berkompromi dengan hukum para penjajah, sebenarnya kemerdekaan kita masih setengah hati. Kita belum benar-benar 100% merdeka. Kita masih setengah merdeka.

Lalu Harus Bagaimana?

Kita harus melakukan persis seperti ketika dahulu para penjajah melakukannya. Begitu Belanda menjajah kita, mereka berpromosi habis-habisan untuk mengajarkan ilmu hukum buatan mereka. Universitas pertama di negeri kita adalah Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, bekerja sama dengan pihak Keraton Jogya. Ilmu hukum yang diajarkan sudah pasti bukan hukum Islam, tetapi hukum buatan Belanda.

Lucunya, keraton Jogya itu keraton Islam, sebagai generasi penerus dari silsilah dakwah para wali songo sejak masih ada Kesultanan Demak Bintoro, lalu pindah ke Pajang, lalu terbelah dua menjadi keraton Solo dan Jogya.

Seharusnya yang dilakukan oleh Keraton Jogya adalah mendirikan fakultas syariah Islam bekerja sama dengan Al-Azhar Asy-Syafir Mesir, bukan fakultas hukum sekuler buatan Belanda.

Maka kalau kita ingin melihat pemandangan kembalinya hukum Islam di negeri ini, kita harus mulai dari pembentukan SDM. Dan SDM ini tidak turun dari langit, tetapi lahir dari pesantren, sekolah, ma’had, kampus, majelis taklim atau pun program-program yang mengajarkan ilmu-ilmu syariah.

Salah satu terobosannya adalah mendirikan kampus syariah secara onlie di internet.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: