Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Juli 19, 2008

Apa Arti Allah Bersemayam di Atas Arsy?

Filed under: Seputar pemikiran islam, Tanya - Jawab — Tag:, , , — iaaj @ 12:10 pm

Assalamualaiku Wr Wb,
Semoga Allah melimpahkan kesehatan dan kemudahan untuk Pak Ustad dan team di eramuslim
Ana mo nanya masalah aqidah yaitu Allah bersemayam di Arsy, karena ada beberapa pendapat yang saling berbeda.
Mungkin Pak Ustadz bisa memberikan penjelsan lengkap dengan hadits yang mendukungnya.
Jazakallah khairan katsira
Abu Ihsan
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salah satu kendala dalam memahami masalah ini adalah masalah bahasa. Kata-kata bersemayam itu apa artinya? Apa benar kata bersemayam itu terjemahan lurus dari kata istiwa’?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘semayam’ punya beberapa arti. Di antaranya duduk, berkediaman dan tersimpan. Sekarang coba kita terapkan semua arti kata semayam itu kepada Dzat Allah SWT. Apakah Allah SWT duduk? Apakah Allah SWT berkediaman? Dan Apakah Allah SWT tersimpan di suatu tempat tertentu?

Istiwa’ dalam Al-Quran

Mari kita kembalikan saja dulu kepada informasi awal, di mana Allah SWT menyebutkan kata istiwa’ di dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran beberapa kali disebutkan Allah beristiwa’, antara lain:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 29)

Al-Quran terbitan Departemen Agama RI menuliskan terjemahan dari kata istawa adalah berkehendak. Nah, anda mungkin akan semakin bingung, apa yang dimaksud dengan Allah berkehendak menuju langit?

Terjemahan istawa menjadi bersemayam bisa kita dapati di ayat lainya, misalnya:

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy . (QS. Al-A’raf: 54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. (QS. Yunus: 3)

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan (QS. Ar-Ra’d: 2)

Apakah Arti Istiwa’?

Mari kita buka kamus bahasa Arab. Jangan pakai kamus Munjid, karena kamus itu bukan kamus standar, lagian kamus itu buatan orientalis kafir yang wajahnya tidak pernah terkena air wudhu’. Kalau wudhu’ saja tidak, apalagi shalat. Bagaimana mungkin seorang muslim memakai kamus buatan orang yang tidak pernah shalat?

Setidaknya sebagai muslim, kamus bahasa Arab yang kita pakai adalah kamus Al-Mu’jamul Washith, atau boleh juga kamus Lisanul Arab.

Di dalam kamus Al-Mu’jamul WAshith halaman 466, kata istawa bermakna istaqrra wa tsabata. Istaqarra artinya menetap dan tsabata artinya menetap.

Sedangkan kata istawa ‘ala artinya adalah ‘alaa wa sha’ada, artinya tinggi dan naik. Kalau istawa fulan artinya orang yang telah matang kepemudaannya. Kalau istawa at-tha’amu artinya makanan itu telah matang.

Makna Istiwa’ Menurut Para Ulama

Kalau kita buka kitab tafsir, katakanlah Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi, pada jilid 1 halaman 381, di sana disebutkan tentang masalah yang anda tanyakan. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa pengertian kata istiwa pada ayat 29 dari surat Al-Baqarah itu memang musykilah tersendiri. Setidaknya, menurut beliau, orang-orang terpecah menjadi tiga kelompok pendapat.

1. Pendapat Pertama: Jumhur Ulama

Jumhur Ulama berpendapat bahwa kalau kita menemukan ayat-ayat seperti ini, misalnya tentang bersemayamnya Allah SWT, maka sikap yang paling tepat bagi kita adalah membacanya, lalu mengimaninya, tetapi tidak menafsirkannya.
Salah satu yang mewakili sikap ini adalah Al-Imam Malik rahimahullah. Ketika ada orang datang kepadanya menanyakan hal-hal seperti ini, beliau menjawab tegas, “Istiwa’ itu bukan hal yang majhul (tidak dikenal), namun teknisnya (al-kaifu) tidak bisa dipikirkan secara akal (ghairu ma’qul), sedangkan mengimaninya wajib, dan bertanya tentang itu adalah bid’ah.

2. Pendapat Kedua: Musyabbihin

Sebagian kalangan yang kita sebut musyabbihin bersikap agak lain. Dalam pandangan mereka, kalau ada ayat seperti ini, kita harus membacanya, lalu menafsirkannya sesuai dengan kemungkinan bahasa.

3. Pendapat Ketiga: Ta’wil

Sebagian yang lain lagi mengatakan bahwa ayat seperti ini kita baca namun kita ta’wilkan. Serta kita ganti kemungkinannya kepada bentuk dzhahirnya.

Pendapat Pilihan

Dibandingkan dengan pendapat kedua dan ketiga, kita lebih tepat untuk mengambil pendapat pertama. Selain nyaris seluruh ulama berada pada pendapat pertama, memang pendapat ini adalah pendapat yang paling tengah-tengah.

Kita tidak menyamakan Allah dengan makhluk, tetapi juga tidak menolak keterangan dari Allah SWT sendiri.

Kalau kita menafsirkan kata istiwa’ dengan duduk sebagaimana duduknya kita manunisa, maka jelas sekali kita telah melakukan tasybih, yaitu menyamakan atau menyerupakan Allah SWT dengan makhluk. Dan tentu hal itu haram hukumnya. Sebab Allah SWT sendiri telah menegaskan bahwa Diri-Nya tidak sama dengan makhluk ciptaan-Nya.

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11)

Dan tidak ada satu pun yang sebanding dengan-Nya (QS. Al-Ikhlash: 4)

Namun kita tetap tidak menolak bahwa Allah SWT melakukan istiwa’ (duduk, bersemayam), karena memang Allah SWT tegas menyebutkannya di dalam ayat Quran. Bahkan kami malah berpendapat bahwa sebaiknya kita pun tidak perlu menterjemahkan ke dalam bahasa lain. Kita sebut saja Allah melakukan istiwa’, sesuai dengan bahasa aslinya yaitu bahasa Arab.

Agar jangan lagi terjadi noise atau kesalahan dalam menterjemahkan. Jangan kita bilang bersemayam, duduk, atau terjemahan lain. Sebab dari terjemahan itu seringkali timbul salah pengertian dan salah paham yang berat.

Sebagaimana kita akan jauh lebih bijak kalau menyebut istilah shalat ketimbang sembahyang atau praying, istilah shaum ketimbang puasa atau fasting, isitlah haji ketimbang pilgrimate. Lebih aman dan lebih selamat dari kesalahan interpretasi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: