Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Oktober 24, 2008

Antara Usman Bin Affan dan Faraq Fouda

sumber insistnet.com
Ditulis Oleh Adian Husaini
Tampaknya, ada sifat yang khas dari kaum liberal di Indonesia. Mereka senang dengan hal-hal yang nyeleneh dan asal beda dengan umat Islam pada umumnya. Orang Jawa bilang: yang penting Waton suloyo alias WTS atau asal beda. Jika umat Islam menolak Ahmadiyah, mereka malah mendukung Ahmadiyah. Umat Islam mendukung RUU Anti-pornografi, mereka justru menolaknya. Jika umat Islam mengecam perkawinan sesama jenis, mereka justru mendukungnya. Umat Islam menolak perkawinaan antar-agama, tapi mereka malah mempromosikannya.

Umumnya umat Islam membanggakan sejarahnya yang gemilang. Tapi, kaum liberal senang tampil beda. Mereka senang jika umat Islam malu dengan sejarahnya sendiri. Yang penting beda! Jika ada hal yang dianggap baru, dan datang dari kaum liberal di luar, lalu ditelan begitu saja. Yang penting liberal, dan sok kritis terhadap Islam. Ketika muncul seorang lesbian seperti Irshad Manji, maka mereka sambut dengan gegap gempita. Nong Darol Mahmada, aktivis liberal alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta menulis artikel di Jurnal Perempuan (nomor 58) berjudul: “Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad.”

Kita pernah membahas, bagaimana naifnya pujian yang berlebihan terhadap Irshad Manji. Tapi, mereka tidak peduli. Setelah mempromosikan Irshad Manji, kini kaum liberal di Indonesia sedang gandrung dengan idola baru bernama Farag Fouda. Yayasan Wakaf Paramadina menerbitkan edisi kedua karya Farag Fouda berjudul Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin. Judul aslinya adalah al-Haqidah al-Ghaibah. (lagi…)

Memuja Fouda, Menfitnah Sahabat

sumber hidayatullah.com
Buku Farag Fouda, doktor Ekonomi Pertanian Mesir, yang juga dikenal juru bicara kaum liberal “menghina” para sahabat. Anehnya mendapat pujian Syafi’I Ma’arif dan para guru besar UIN

Oleh: Asep Sobari, Lc.

Belum lama ini, Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan edisi Indonesia sebuah buku berjudul “Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin” , karya Farag Fouda (Judul aslinya: al-Haqiqah al-Ghaybah). Selanjutnya judul buku ini disingkat KYH.

Dari judulnya, bisa ditebak, buku ini mengangkat apa yang oleh penulisnya disebut sebagai sisi kelam dari sejarah Islam. Jika kaum Muslim menyebut zaman Khulafaurrasyidin sebagai masa yang ideal, maka Fouda meggambarkan sebaliknya. Menurut Fouda, zaman itu bukanlah masa ideal, tapi “zaman biasa”. “Tidak banyak yang gemilang dari masa itu. Malah, ada banyak jejak memalukan.” (hal.xv).

Mungkin karena itulah, kaum liberal di Indonesia sangat bergairah dengan terbitnya buku ini. Pada sampul depan ditulis pujian Prof. Dr. Azyumardi Azra yang dikenalkan sebagai Guru Besar Sejarah dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah. Terhadap buku ini, Prof. Azra berkomentar:
(lagi…)

Pledoi Munarman: Melawan Kedzholiman Tirani Minoritas

Diarsipkan di bawah: Berita Islam, Seputar pemikiran islam — Tag:, , , , — iaaj @ 12:09 am

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (uca-pan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenang-kanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (At Taubah: 32-33)

Mengapa ayat ini perlu saya kutip dalam pembelaan ini…? Sebab ayat ini sangat relevan dengan sebab musabab dan latar belakang yang membuat saya sampai harus diadili di ruang sidang ini. Paling tidak dapat kita identifikasi dari terjemahan ayat tersebut di atas yaitu:

1. Adanya segelintir orang yang berkehendak untuk memadamkan cahaya (agama) Allah dengan ucapan-ucapan mereka.
2. Bahwa Allah telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar. (lagi…)

Oktober 16, 2008

Legalitas ‘Israel’ di Atas Legalitas Palestina

sumber www.infopalestina.com
Dr. Abdussatar Qasem
Sejak dibentuknya Otoritas Palestina (OP) tahun 1994, di sana ada yang mencari-cari sebuah hukum Palestina dan berusaha menerapkannya. Awal mulanya tidak mudah, karena tidak mungkin menulis sebuah hukum secara cepat di antara pagi hingga petang. Maka waktu terus berjalan hingga sampai datang kesempatan menuangkan ide membuat menuangkan hukum dan mendirikan lembaga yang representatif bertugas membuat undang-undang dasar (UUD) berikut peraturan undang-undang lain yang mengatur semua aspek kehidupan. Bangsa Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza mulai tahun 1994 berpindah ke arah masa transisi, sebagaimana kondisi semua bangsa di dunia. Masa transisi ini terlihat ragu dan gamang serta tidak adanya kejelasan pandangan, dilalui dengan berbagai pengalaman antara benar dan salah.

Pemilu legislatif tahun 1996 adalah awal kebangunan institusi-institusi otoritas resmi bertanggungjawab mengurusi aturan legislasi, memenuhi tuntutan untuk menutupi kevakuman hukum yang bisa membuat kehidupan sehari-hari seorang penduduk sipil lebih gampang dan mudah. Akan tetapi persoalannya adalah tidak berjalan sesuai dengan standar-standar profesionalitas. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Palestina tidak menjalankan tugas dengan semestinya, karena alasan kinerja internal yang tidak optimal atau adanya tekanan dari pihak eksternal.

Prioritas untuk Menerapkan Oslo

Dari sisi realita, sesungguhnya prioritas adalah, dari dulu hingga detik ini, adalah menerapkan kesepakatan perjanjian Oslo berikut rincian-rinciannya, khususnya kesepakatan sementara Kairo tahun 1994 dan kesepakatan Taba tahun 1995. OP, sesuai kesepakatan-kesepakatan tadi, dibawah ujian terus-menerus dari ‘Israel’ dan Amerika Serikat. Maka konsekuensinya mereka harus menunjukkan komitmen dengan semua kesepakatan-kesepakatan tadi, dari sisi realisasi, jika ingin kewenangannya diperluas dan gelontoran dana dari negara-negara donatur bisa terus cair. Artinya, Oslo berikut rentetannya menjadi pihak yang paling unggul dibandingkan dengan semua keputusan-keputusan hukum internal Palestina. Ini juga berarti bahwa keberlangsungan OP sangat tergantung pada sampai sejauh mana sambutannya atas semua tuntutan luar, khususnya tuntutan keamanan.
(lagi…)

Akar Konflik Fatah dan Hamas

Diarsipkan di bawah: Berita Islam, Seputar pemikiran islam — Tag:, , , , — iaaj @ 4:48 am

sumber www.infopalestina.com
Ibrahim Ghausah, Al-Majd Jordania
Akar konflik antara Fatah dan Hamas sesungguhnya berporos pada dua hal penting:
Akar histories; perbedaan muncul sejak munculnya gerakan Fatah tahun 1957 di Kairo dan di kalangan pelajar perguruan tinggi di tangan Yaser Arafat. Gerakan kemudian berpindah ke Kuwait. Saat itu Fatah menyerukan – menurut sebuah majalah Palestina yang terbit di Beirut – kepada pemuda Palestina untuk percaya diri dan memegang tampuk pembebasan Palestina. Seruan ini disampaikan di tengan arus gerakan nasionalisme seruan Nashr yang menfokuskan kesatuan Arab sebagai jalan pembebasan dan arus gerakan Islam yang menyerukan berdirinya negara Islam dengan jalan jihad dan membebaskan wilayah suci. Tujuan Fatah pada saat itu adalah membebaskan wilayah jajahan tahun 1948.

Gerakan Fatah mendasarkan diri kepada unsure-unsur aksi dan kedisiplinan dari pemuda Palestina dan memanfaatkan kondisi anti Ikhwanul Muslimin di tahun 1954 yang di antaranya adalah Khalil Al-Wazir, pemuda IM yang terjun di jihad Palestina dan Abdul Fattah Hamud, Muhammad Yusuf Najjar, Rafiq Natasyah, Salim Zaknu, Yusuf Amirah dan Muhammad Gunaim dan lain-lain.

Bersamaan dengan dibentuknya Organisasi Al-Ikhwan Palestina di Jalur Gaza tahun 1960 dan bangkitnya Ikhwanul Muslimin di Jordania (Tepi Barat dan Timur) hingga sebagian pemuda pindah ke Fatah, mulailah apa yang disebut pemisahan diri. artinya komitmen dengan manhaj Ikhwanul Muslimin atau manhaj Fatah. Inilah awal dari gesekan kedua gerakan ini. (lagi…)

PEMERINTAH HANIYA: AL-QUDS DAN AL-AQSHA DALAM BAHAYA HAKIKI

sumber www.kispa.org
Gaza: Pemerintah Palestina pimpinan PM Ismael Haniya mengingatkan bahwa kota Al-Quds dan masjid Al-Aqsha adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Pemerintah meminta kepada pemerintah Arab dan negara-negara Islam untuk ikut serta dalam menghadapi kejahatan-kejahatan yang dilancarkan oleh Israel dalam rencana-rencana jahatnya yang ingin menghancurkan kiblat pertama umat Islam.

Statemen tegas itu disampaikan dalam sidang pekanan kemarin Selasa (14/10) yang membahas sejumlah masalah penting dalam bidang politik dan pemerintahan.

Pemerintah Palestina menegaskan dalam pernyataan yang diterima oleh Infopalestina bahwa apa yang terjadi di kota Akka di Tepi Barat berupa kejahatan Israel secara rasis terhadap warga Palestina dan politik pengusiran warga dari tanah air mereka. Pemerintah Palestina menghormati dan mendukung sikap rakyat di Akka yang teguh mempertahankan tanah ai mereka.

Pemerintah menegaskan bahwa politik Israel ini tidak akan menjadikan rakyat Palestina lari dan keluar dari tanah air mereka. Pemerintah mengajak kepada semua masyarakat internasional untuk menjaga rakyat Palestina di wilayah jajahan tahun 1948 terutama di kota Akka dari kekejaman Israel dan politik rasis mereka. Sebab rakyat Palestina juga merupakan warga dunia yang memiliki hak untuk dilindungi dengan undang-undang internasional. (lagi…)

TENTARA ZIONIS TEMBAK TIGA REMAJA PALESTINA DI RAMALLAH

sumber www.kispa.org
Sejumlah remaja Palestina kembali menjadi korban peluru-peluru panas tentara Zionis Israel. Akibatnya, seorang remaja Palestina berusia 17 tahun gugur syahid dan dua remaja lainnya mengalami luka tembak.

Menurut aparat keamanan Palestina, tentara-tentara Zionis Israel yang ditempatkan di pemukiman Beit El dan kamp militer yang terletak di sebelah barat pinggiran kota Ramallah menembaki tiga remaja Palestina dari kamp pengungsi Jalazaoun, tak jauh dari kamp militer tersebut. (lagi…)

TEMBOK RASIAL ISRAEL DI AL QUDS AKAN MEMAKSA 125 RIBU WARGA PALESTINA HENGKANG

sumber www.kispa.org
Selvit – Seorang pakar geografi Palestina, Dr. Khalil Tafakji menyatakan bahwa tembok rasial Israel yang dibangun di sekitar kota Al-Quds akan memaksa 125 ribu warga Palestina hengkang dari kota suci Al-Quds.

Dalam talkshow di Selvit utara,epi Barat kemarin Senin (13/10) ia menyatakan bahwa tujuan utama dari pembangunan tembok rasial di sekitar Al-Quds adalah untuk mengusir 125 ribu warga Palestina sebab jika tidak di tahun 2040 warga Yahudi di sana akan menjadi minoritas.
Berdasarkan studi di Israel bahwa kondisi Al-Quds di tahun 2040 akan berubah dimana Palestina akan menjadi mayoritas sehingga Israel harus mempercepat pembangunan temboknya untuk menghalangi pertumbuhan penduduk ini. Pengusiran paksa oleh Israel itu juga dilakukan aksi penangkapan dan penjeblosan dalam penjara Israel.

Penghancuran tatanan masyarakat Palestina dengan cara melancarkan rencana hingga tahun 2020 untuk menguasai perkampungan Bab Zahirah dan membersihkan Palestina dari sana. Penghancuran itu dengan cara memecah belah bangunan inti masyarakat Palestina yaitu keluarga Palestina itu sendiri.
(lagi…)

Oktober 15, 2008

Pengesahan RUU Pornografi Ditunda

sumber eramuslim.com
Selasa, 14 Okt 2008 14:12
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan rapat bersama sejumlah ormas Islam yang tergabung dalam Forum Ukhuwah Islamiyah. Mereka yang hadir antara lain dari Muslimat NU, Nasiyatul Aisyiah, Wanita Islam, Fatayat NU, Alumni Timur-Tengah, Kohati, Aisyiah, Wanita Islam, Forum Umat Islam serta HTI.

Hasil pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan sikap Forum Ukhuwah Islamiyah dan Majelis Ulama Indonesia, terdiri dari enam poin. Pertama, menyesalkan sikap DPR yang kembali mengulur waktu pengesahan RUU Pornografi dengan mengadakan uji shahih di tiga daerah, Bali, Jogyakarta dan Sulawesi Utara. “Karena disinyalir adanya fraksi tertentu yang menolak RUU Pornografi ini. Kami menghimbau agar Pansus dan umat mengabaikan partai tertentu tersebut,” kata Wellya Safitri, Sekretaris MUI membacakan enam poin pernyataan sikap tersebut, di Sekretariat MUI, Jakarta, Kamis (9/10).

Kedua, mendesak DPR agar segera mensahkan RUU Pornografi ini. Ketiga, merebaknya kejahatan pornografi baik cetak maupun elektronik dan beredarnya VCD porno sangat memprihatinkan kita semua. Oleh karena itu melalui UU ini, dihimbau kepada segenap komponen bangsa untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari kehancuran dan keterpurukan moral. (lagi…)

Keikhlasan dan Kepedulian dalam Dakwah

Diarsipkan di bawah: Adian Husaini,MA, Seputar pemikiran islam — Tag:, , , — iaaj @ 12:00 am

sumber insistnet.com
Ditulis Oleh Adian Husaini
Masih dalam rangkaian peringatan seabad Mohammad Natsir, pada 21 Agustus 2008 lalu diselenggarakan seminar tentang pemikiran Mohammad Natsir di Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin. Saya diminta menyampaikan makalah tentang Peran Mohammad Natsir dalam Integrasi Ilmu dan Agama. Seminar dibuka oleh Rektor IAIN Antasari, dan dihadiri kalangan sivitas akademika IAIN, khususnya dosen-dosen Fakultas Tarbiyah.

Mohammad Natsir lahir di Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Ia wafat di Jakarta 6 Februari 1993. Pendidikan Islam sejak kecil dengan orang tua dan lingkungannya. Pendidikan formal di HIS Solok, MULO (1923-1927), AMS di Bandung (1930). Ketika di Bandung itulah ia berkenalan dan menjadi murid sekaligus sahabat dari ulama pergerakan Islam, A Hassan. Orang sering mengenal Natsir sebagai tokoh dakwah dan politik. Tetapi, tidak banyak yang mengenal Natsir sebagai seorang tokoh Pendidikan Islam. Padahal, kiprahnya di bidang ini sangat fenomenal.

Sebelum menelaah kiprah Natsir di dunia pendidikan, adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Mohammad Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School ) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School ) di Bandung.

Natsir lahir dari pasangan suami-istri Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Dia dibesarkan pada keluarga muslim yang taat. Sejak kecil, dia sudah dibesarkan dalam tradisi keislaman yang kuat. Kemauannya yang kuat dalam mempelajari ilmu-ilmu agama menjadikan Natsir cepat mengusai bahasa Arab dan ilmu-ilmu lain. Dalam waktu singkat, dia pun sudah bisa membaca kitab kuning. Menurut Natsir, sejak kecil memang dia ingin menjadi seorang ”Meester in de Rechten” (Mr.), satu gelar yang dipandang hebat kala itu. Tapi, cita-cita itu ditinggalkannya setelah Natsir terjun langsung dalam perjuangan Islam di Bandung sejak duduk di bangku AMS. (lagi…)

Oktober 14, 2008

Kemelut Intelektual dalam Berwacana

Diarsipkan di bawah: Henry Salahuddin,MA, Seputar pemikiran islam — Tag:, , — iaaj @ 11:59 pm

sumber insistnet.com
Ditulis Oleh Henri Shalahuddin
Rabu, 24 September 2008, Badan Litbang dan Diklat, Puslitbang Lektur Keagamaan menggelar bedah buku “Dua Wajah Islam: Moderatisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global”. Buku ini adalah terjemahan dari “The Two Faces of Islam: Saudi Fundamentalism and Its Role in Terrorism” karya Stephen Schwartz. Edisi Indonesia-nya diterbitkan atas kerjasama antara Libforall, Blantika, The Wahid Institute dan Center For Islamic Pluralism (CIP), USA.

Dalam acara bedah buku ini dihadirkan empat orang pembicara; dua orang sebagai narasumber, Prof. Dr. HM. Atho Mudzha (kepala Badan Litbang dan Diklat) dan Prof. Dr. H. Maidir Harun (Kepala Puslitbang Lektur Keagamaan); Dr. M. Syafi’i Anwar (Direktur Indonesian Center for Islam and Pluralism, ICIP) sebagai pembedah dan Henri Shalahuddin, MA (peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization, INSISTS) sebagai pembanding. Peserta bedah buku ini terbatas untuk para peneliti di lingkungan Departemen Agama.

Sekilas tentang Buku dan Penulis
Stephen Schwartz penulis buku ini dalam biografinya, mengaku mengenal dan masuk Islam setelah melakukan kajian tasawuf, dan memperkenalkan dirinya sebagai murid dan pengagum Ibn Arabi. Dalam website Center for Islamic Pluralism (CIS) dia menuturkan bahwa dia adalah penganut mazhab Hanafi sejak 1997. Saat ini dia menjabat sebagai direktur eksekutif di CIS dan menjadi analis kebijakan senior dan direktur program Islam dan Demokrasi di Yayasan Pertahanan Demokrasi (Foundation for the Defense of Democracies), sebuah lembaga pemikiran konservatif. Pria ini juga dikenal sebagai pengkritik pemerintahan Bush, namun di saat yang sama dia juga mendukung kebijakannya di Timur Tengah. (lagi…)

“Kebenaran”

sumber hidayatullah.com
Untuk menguasai agama tidak perlu beragama, demikian kata kaum liberal. Itulah sebabnya mereka membuat “teologi-teologi” baru. “Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain” itu logikanya

oleh: Hamid Fahmi Zarkasy *
“Semua adalah relatif” (All is relative) merupakan slogan generasi zaman postmodern di Barat, kata Michael Fackerell, seorang missionaris asal Amerika. Ia bagaikan firman tanpa tuhan, dan sabda tanpa Nabi. Menyerupai undang-undang, tapi tanpa penguasa. Tepatnya dokrtin ideologis, tapi tanpa partai. Slogan itu memang enak didengar dan menjanjikan kenikmatan syahwat manusiawi. Baik buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka. Artinya tergantung siapa yang menilainya.

Slogan relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian Pemikir Barat modern Barat terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat. Generasi postmodernis pun mewarisi kebencian ini. Tapi semua orang tahu, kebencian tidak pernah bisa menghasilkan kearifan dan kebenaran. Bahkan persahabatan dan persaudaraan tidak selalu bisa kompromi dengan kebenaran. Aristotle rela memilih kebenaran dari pada persahabatan.

Tidak puas dengan sekedar membenci, postmodernisn lalu ingin menguasai agama-agama. “Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain” itu mungkin logikanya. Untuk menguasai agama tidak perlu beragama. Itulah sebabnya mereka lalu membuat “teologi-teologi” baru yang mengikat. Kini teologi dihadapkan dengan psudo-teologi. Agama diadu dengan ideologi. Doktrin “teologi” pluralisme agama berada diatas agama-agama. “Global Theology” dan Transcendent Unity of Religions mulai dijual bebas. Agar nama Tuhan juga menjadi global di ciptakanlah nama “tuhan baru” yakni The One, Tuhan semua agama. Tapi bagaimana konsepnya, tidak jelas betul. (lagi…)

Absurditas Pluralisme

Diarsipkan di bawah: Seputar pemikiran islam — Tag:, , , — iaaj @ 11:50 pm

sumber eramuslim.com
oleh Ihsan Tandjung
Andaikan kebenaran jumlahnya sebanyak selera dan hawa nafsu manusia maka tentu masing-masing kebenaran akan menunjukkan kedigdayaannya

Ketika Rabi’a ibn ‘Amir radiyallahu ‘anhu menemui pimpinan kekaisaran Persia ia ditanya oleh mereka: “Mengapa kamu datang ke negeri kami? Jika kamu datang untuk uang, maka kami akan beri kalian masing-masing gaji. Maka biarkanlah kami seperti ini.” Namun Rabi’a berkata: “Itu bukan sebab saya datang kemari…

ابتعثنا الله لنخرج الناس من عبادة العباد لعبادة الله وحده و من ضيق الدنيا إلى سعت الدنيا و الآخرة و من جور الأديان إلى عدل الإسلام

… Kami diutus untuk membebaskan segenap makhluk dari penghambaan satu sama lain untuk menjadi hamba Allah ta’aala Sang Pencipta semata. Dan dari penindasan berbagai agama menuju keadilan Islam. Lalu kami ingin mengantar manusia dari sempitnya dunia menuju lapangnya dunia dan akhirat.”

Rabi’a ibn ‘Amir radiyallahu bukan seorang mahasiswa ilmu perbandingan agama. Namun ia mengatakan bahwa semua agama menuju kepada penindasan dan kezaliman. Ia tidak perlu belajar perbandingan agama karena ia telah belajar dari wahyu Allah ta’aala bahwa segenap agama menimbulkan penindasan dan hanya agama Islam-lah yang menawarkan keadilan. Ia telah belajar dari wahyu bahwa semua agama berujung pada kerugian serta bencana dan hanya Islam-lah yang menawarkan keselamatan dan Ridho ilahi. (lagi…)

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.