Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Agustus 8, 2007

Orang Awam Membanting Kritik Intelek Liberal tentang Otoritas Hadits

Filed under: Seputar pemikiran islam — iaaj @ 4:02 am

To: islamliberal@yahoogroups.com
From: “Ulil Abshar-Abdalla”
Date: Tue, 29 Mar 2005 21:10:07 -0800 (PST)
Subject: Re: ~JIL~ Untuk Mas Machasin : soal kedudukan Hadis

Pak Machasin yang baik,
Saya senang sekali anda bisa menyumbangkan pendapat di tengah-tengah kesibukan anda mengajar di IAIN Yogyakarta.

Saya sepakat dengan anda, bahwa tanpa harus mengurangi respek kita pada ulama klasik yang telah melakukan tadwin atas hadis, serta merumuskan metode “verifikasi” untuk menelusuri kesahihan sebuah hadis; tanpa mengurangi respek kita pada Al Bukhari, Muslim, Al Turmudzi, dll., saya kira ilmu mushthalah hadis seperti dikembangkan oleh ulama klasik itu memang belum bisa menjamin 100% kesahihan sebuah hadis. Banyak kejanggalan dalam periwayatan hadis seperti pernah diulas secara kontroversial oleh Mahmud Abu Rayyah dalam “Fi Al Sunnah Al Muhammadiyyah”.

Misalnya, seperti yang sudah sering diungkapkan, kenapa Abu Hurairah yang hanya bergaul dengan Nabi dalam waktu yang singkat meriwayatkan banyak sekali hadis, jauh lebih banyak dari Abu Bakar dan Umar — dua “confidant aide” Nabi. Misalnya lagi, seperti pernah dikemukakan oleh Mas Chodjim dalam posting lalu, kenapa jarang ada riwayat tentang isi khutbah Jumat Nabi, padahal Jumatan adalah peristiwa sosial yang disaksikan oleh banyak orang, dan tentunya berlangsung secara reguler. Saya jarang menemukan suatu riwayat (untuk tidak mengatakan tak ada sama sekali) tentang isi khutbah Jumat Nabi. Yang ada adalah riwayat tentang bagaimana “cara” Nabi menyampaikan khotbah: konon, Nabi berkhutbah dengan suara keras, hingga wajahnya memerah.

Hal lain lagi adalah bahwa beberapa hadis diriwayatkan dengan redaksi yang berbeda-beda, kadang perbedaannya sangat besar, kadang kecil. Ini membuat kita menjadi ragu, apakah sebuah hadis benar-benar merupakan “replika” dari apa yang pernah disabdakan Nabi atau hanya merupakan pengisahan ulang dengan redaksi lain (riwayah bi al ma’na). Saya kira, sebagian besar hadis adalah “riwayah bil ma’na”.

Saya menduga, sebelum Imam Syafii menerbitkan risalahnya yang terkenal itu, “Ar Risalah”, untuk membela posisi hadis, kedudukan hadis Nabi belum sepenting seperti yang kita saksikan setelah risalah itu muncul. Setelah terbitnya Ar Risalah itu, kedudukan hadis menjadi semacam “second scripture” yang hampir mendekati Quran. Sementara, ada sejumlah hadis yang justru melarang pembukuan hadis (la taktubu ‘anni ghairal Quran, misalnya). Bahkan Sahabat Umar dikenal paling benci pada orang-orang yang terlalu banyak meriwayatkan hadis. Saya kira, ada kekhawatiran zaman itu bahwa jika hadis terlalu banyak beredar, maka kedudukannya akan menyaingi Quran. Sebelum lahirnya Al Bukhari pada abad ke-3 Hijriyyah (300 tahun setelah wafatnya Nabi), hadis belum menjadi disiplin yang begitu terstandarkan seperti kita kenal selama ini. Seperti pernah ditunjukkan oleh Fazlur Rahman, yang terjadi pada masa pra-kodifikasi hadis itu adalah bahwa para sahabat dan tabiin mengikuti “sunnah” atau tradisi yang hidup, bukan hadis dalam pengertian “sabda Nabi yang diingat dan ditransmisikan secara turun temurun” seperti kita kenal selama ini. Ini tercermin dalam mazhab Maliki, di mana “sunnah” atau “ijma” atau “atsar” atau “‘amal” atau tradisi yang hidup dalam kalangan penduduk Madinah bisa menjadi sumber hukum.

Masalah lain adalah kritik matan. Ini bidang yang sangat tertinggal perkembangannya dalam ilmu hadis. Ada semacam pemahaman umum, jika sebuah hadis dari segi sanad sudah “oke”, maka hadis itu harus kita ikuti. Ini sesuai dengan kaidah yang ditetapkan oleh Imam Syafii, “idza shahha al hadis fa huwa madzhabi” (jika sebuah hadis sudah terbukti sahih, maka itu adalah mazhabku). Kaidah ini jelas bermasalah. Pertama, itu adalah pendapat pribadi Imam Syafii, artinya bukan sesuatu yang datang dari Quran. Jadi, boleh kita ikuti, boleh tidak. Kedua, prinsip itu jelas tidak masuk akal. Sebab, bagaimanapun matan atau teks hadis haruslah dinilai berdasarkan Quran (dalam pandangan Islam liberal, bahkan harus dinilai pula berdasarkan parameter yang lain, yaitu konteks kemaslahatan sosial yang lebih luas). Banyak hadis yang tak sesuai dengan semangat Quran, misalnya hadis tentang perintah pembunuhan atas orang murtad. Bagi saya, ini bertentangan dengan semangat “la ikraha fi al din”. Saya tak bisa terima hadis itu dari segi matan. Atau sekurang-kurangnya, kita harus menafsirkan ulang hadis itu.

Saya kira, sikap skeptis pada hadis bukan hanya ada sekarang. Pada zaman klasik juga sudah ada. Abu Hanifah, misalnya, tak menerima hadis ahad sebagai dasar untuk perumusan hukum. Sejumlah ulama lain berpendapat bahwa hadis ahad tidak boleh dipakai dalam perdebatan soal akidah. Sementara kita tahu, hadis yang mutawatir hanyalah sedikit jumlahnya.

Jika kita kembali ke soal boleh tidaknya perempuan menjadi imam salah untuk jamaah yang campuran, maka saya kira seluruh komentar yang “emosional” dari kalangan ulama “konvensional” di Timur Tengah saat ini adalah cerminan dari ketidaksiapan para ulama untuk menerima pendapat yang berbeda dalam masalah agama. Mereka semua juga laki-laki, sehingga boleh jadi ini semacam “ketersinggungan jender”. Meskipun pendapat yang umum adalah bahwa perempuan tak boleh jadi imam salat, tetapi faktanya tetaplah harus diakui: ada hadis Umm Waraqah yang mengindikasikan bahwa dia diperintahkan Nabi untuk menjadi imam salat bagi keluarga rumahnya yang terdiri dari perempuan dan laki-laki, meskipun memang laki-laki yang ada di sana adalah budak dan orang yang sudah sepuh. Selain itu, Quran sendiri tak berkata apa-apa dalam hal ini.

Pertanyaan berikutnya: apakah pendapat yang menghalalkan imamatul mar’ah itu tidak bertentangan dengan kaidah, “al ashlu fil ‘ibadah al hurmah”, kaidah pokok dalam ibadah adalah keharaman, kecuali jika jelas ada petunjuk dari agama yang menghalalkannya.

Saya tak sempat menjawab soal ini, karena ada kerjaan, harus pergi dulu. Nanti saya teruskan, jika ada kesempatan.

Ulil

To: islamliberal@yahoogroups.com
From:”dar jono”
Data: Thu, 31 Mar 2005 16:43:06 -0800 (PST)
Re: ~JIL~ Untuk Ulil Abdalla: soal kedudukan Hadis

Hadits dipertanyakan. Tidak aneh. Sedangkan al-Quran pun digugat. Bahkan Islam dan Allah sendiri bisa dihujat. Semua itu lagu lama kaum liberal yang diputar-ulang untuk mengusik telinga awam.

Kalau demikian sikap kita terhadap Islam, apa lagi yang bisa tinggal dari Islam ini? Tidak ada. Islam hanyalah sebuah teks lama (dongeng orang-orang dahulu) [QS 68:15] yang bisa ditafsirkan seenak perut kita, selentur lidah kita dan selincah jemari kita memainkan pena atau keyboard. Akibatnya apa? Karena kehilangan pegangan, ummat tercerai-berai pada versi Islam masing-masing. Akhirnya apa? Islam hanya tinggal nama yang terserak dan terselip dalam paham-paham liberal.

Itulah impian kaum liberal (kuffar) yang –demi Allah– tidak akan bisa terwujud! Karena Islam adalah agama terakhir yang diturunkan di akhir zaman. Allah telah menjamin eksistensi Islam hingga hari kiamat. Jaminan dan penjagaan dari Allah itulah yang terealisir dengan sangat menakjubkan namun manusiawi lewat tangan-tangan Ulama’ dan Mujahid yang mengawal Islam dengan pena dan pedangnya. Musthalah Hadits merupakan salah satu dari fenomena penjagaan Islam. Disebut manusiawi karena merupakan kerja banyak orang dari generasi ke generasi, bukan kerja malaikat. Menakjubkannya karena tidak ada satupun sistim dan metode penulisan sejarah yang setara dengan kerapian dan ketelitian Hadits. Ajaib tapi manusiawi itulah kehalusan rekayasa Tuhan.

Simpelnya, Islam itu ialah Agama yang diturunkan oleh Allah dan disampaikan oleh Rasulullah (SAW) kemudian diimani dan diamalkan oleh para Sahabatnya. Itulah Islam. Abu Lahab, Abu Jahal, dan abu-abu lainnya yang tidak beriman dengan wahyu dan risalah yang dibawa oleh Muhammad, tentu saja mempunyai versi dan persepsi tersendiri terhadap Islam. Jadi sama-sama menilai dan berbicara tentang Islam. Tapi kira-kira seorang yang beriman mau menerima Islam versi siapa?

Kenapa Abu Hurairah yang terbanyak menyampaikan hadits? Kenapa redaksi hadits berbeda-beda? Bukankah Nabi pernah melarang orang menuliskan hadits? Dan aneka macam kenapa-koq kenapa-koq yang lain. Padahal semua gugatan tersebut telah dijawab dengan gamblang oleh para ulama kita. Saya hanya mau mengutip sedikit jawaban ringkasnya. Selebihnya baca sendiri dari kitab2 ulama.

Kenapa Abu Hurairah yang terbanyak menyampaikan hadits? Karena Abu Hurairah dikaruniai kekuatan hafalan dan dia fokus memburu hadits. Tentang “riwayah bil-ma’na” dan redaksi yang berbeda-beda? Itulah perbedaan nilai orisinalitas Hadits dengan Quran. Tapi yang pasti para perawi hadits sangat berhati-hati dalam menjaga akurasinya dengan redaksi Nabi. Kalau punya waktu, silakan kumpul seluruh hadits yang matan (redaksi)nya serupa tapi tak sama. Niscaya bisa anda simpulkan sendiri bahwa deviasi perbedaannya amat-sangat kecil (kecuali sebagian kecil diantaranya yang amat-sangat sedikit). Sangat manusiawi. Tentang Nabi pernah melarang menulis hadits? Itu salah satu upaya preventif agar Hadits tidak bercampur dengan Al-Quran. Tentang Umar pernah melarang orang terlalu banyak meriwayatkan Hadits? Mungkin ya dalam kondisi tertentu dan terhadap orang-orang tertentu. Dan jangan menutup mata terhadap fakta bahwa Umar termasuk orang yang getol mencari dan meriwayatkan Hadits serta menjadikan Hadits sebagai sumber ilmu dan hukum.

Jadi? Semua pertanyaan ada jawabannya, setiap gugatan ada pembelaannya. Jangan bimbang dan ragu!

Tapi yah begitulah kerja filsafat liberal. Orang bisa membuat ribuan pertanyaan dan ribuan jawabannya kemudian dipertanyakan lagi lalu dibantah lagi. Demikian seterusnya. Kapan kita bisa berhenti pada satu jawaban yang konkrit dan definitif? Tidak akan, dan bagi kaum liberal hal itu tidaklah penting. Bagi mereka, biarlah semua orang terombang-ambing dalam nilai-nilai yang serba relatif-spekulatif. Padahal maut setiap saat mengintai dan masa depan akhirat adalah pasti. Apakah seperti itu pola pikir dan sikap orang yang beriman dengan Wahyu dan Agama?

Bagi orang yang beriman, Islam yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah yang dijelaskan secara lurus dan lugas, itulah yang menenangkan hatinya dan mereka tunduk berserah-diri dengannya. Sedangkan bagi orang yang jahil, pengikut hawa-nafsu dan ingkar, Islam model tafsir-bebas itulah yang menyenangkan hatinya. Yah, segala yang bebas itu biasanya menyenangkan dan…. merusak! Api neraka?! Adakah? Jangan-jangan itu hanya tamsil dan simbol, kata mereka. Enjoy aja lagi.

Terakhir. Mau lihat buktinya kaum liberal memperlakukan hadits dan ayat hanya sebagai permainan untuk menutupi keingkarannya? Perhatikan bagian akhir tulisan Ulil Abdalla. Setelah tadinya dia berpayah-payah mengemukakan alasan kesangsiannya terhadap kehujjahan hadits, akhirnya dia sendiri yang menelan kembali muntahnya dengan mengungkit hadits kasus Ummu Waraqah sebagai pembenaran terhadap bolehnya wanita mengimami pria tanpa batasan kasus! Mau kemana hai, Ulil? :)

To: islamliberal@yahoogroups.com
From: xxxxx@sumitomocorp.co.jp
Date: Mon, 4 Apr 2005 11:08:52 +0700
Subject: RE: ~JIL~ Untuk Ulil Abdalla: soal kedudukan Hadis

Salam,

Pagi ini ada sedikit waktu senggang buat memberikan tanggapan tulisan Sdr. Djono. Meski subjeknya ditujukan kepada Sdr. Ulil, tapi isi yang dikemukakan oleh Sdr. Djono menyinggung ukhuwah islamiyah. Meski di akhir tulisannya ada “eticon” senyum, tapi itu senyum penghinaan bila dikaitkan isinya.

Sdr. Djono, saya hanya menyampaikan tausiyah terhadap sesama muslim. Sepertinya Saudara telah berasumsi bahwa JIL adalah orang kafir. Padahal, kalau Saudara mau bertawaduk kepada sesama muslim (Orang yang mengucapkan syadatain), meneladani akhlak Kanjeng Nabi Muhammad, niscaya sampeyan tak mungkin menuduh JIL kafir. Ingat, menuduh orang yang menyampaikan salam sebagai bukan mukmin saja, sudah diharamkan oleh Allah di dalam Alquran. Dan, yang menuduh orang Islam sebagai orang kafir, maka sesungguhnya dia yang kafir!

Marilah kita kembali kepada landasan agama Islam. Di Alquran disebutkan bahwa Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tapi dia adalah orang yang hanif. Begitu pula, Islam itu secara hakikat tak ada kaitannya dengan ahlussunah, syiah, salafi, khalafi, khawarij, mu’tazilah, JIL, liberalisme, sosialisme, dan lain-lainnya yang datang sepeninggal Kanjeng Nabi Muhammad. Islam adalah semua agama yang diturunkan oleh Allah kepada para rasul dan nabi-Nya dengan penghujungnya Nabi Muhammad. Namun, untuk memahami ajaran Kanjeng Nabi, diperlukan pemikiran dan pemahaman, maka lahirlah firqah-firqah tersebut. Dan, firqah-firqah itu diakui keberadaannya di dalam Alquran (baca QS 9:122, 49:11). Bahkan pada QS 49:12 disebutkan bahwa kita tak boleh berprasangka buruk serta mencari-cari kesalahan.

Berikutnya mari kita rinci tulisan sampeyan.

1. HADIS DIPERTANYAKAN.
Dari awal orang-orang Islam mempertanyakan Hadis. Dan, pelopornya adalah Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lain. Mereka itu adalah orang-orang yang serius mempertanyakan Hadis. Lalu, mereka mengakui Hadis-hadis yang mereka akui sebagai “Sahih”. Seandainya mereka tidak mempertanyakan Hadis, maka mereka tidak perlu melakukan koleksi Hadis sebagaimana yang telah berjalan selama lebih dari 200 tahun sepeninggal Nabi. Ingat, Bukhari lahir pada 194 H, dan sebelum lahirnya tak ada orang yang melakukan seleksi Hadis. Artinya, sejak beliaulah orang-orang getol mempertanyakan Hadis dengan pelopornya Bukhari sendiri.

Pada masa pra-Bukhari, orang-orang Islam tidak mempertanyakan Hadis. Ya.., kalau dianggap ada Hadis yang dianggap merugikan kelompok (firqah)nya, ya dikeluarkan Hadis tandingan! Itulah yang terjadi sebelum pembukuan Hadis.

Nah, bila kita telah tahu bahwa Hadis Bukhari dan yang lain-lainnya itu hasil pilihan setelah mempertanyakan Hadis, maka jangan heran pula bila Hadis dari Bukhari pun harus dipertanyakan. Itulah yang terjadi selama ini, dan itu harus kita terima. Lha, kalau kita ingin tahu sahih-tidaknya semuah Hadis secara hakiki, ya setiap Hadis itu perlu kita uji kebenarannya, yaitu melalui verifikasi dengan ayat-ayat Alquran, bertanya langsung kepada Nabi Muhammad, dan puncaknya bertanya langsung kepada ALLAH.

2) AL-QURAN DIGUGAT
Ini pun sudah menjadi bagian dari aktivitas umat Islam sepeninggal Rasul. Gugatan pertama yaitu ketika terjadi kanonisasi Alquran di zaman kekhalifahan Utsman bin Affan. Jangan dikira semua setuju terhadap Mushaf Utsmani. Sahabat Ibnu Mas’ud, misalnya, tidak menerima begitu saja. Nah, demi persatuan umat, akhirnya para sahabat itu setuju. Ada sesuatu yang pahit bagi generasi Islam, yaitu dimusnahkannya semua mushaf Alquran selain Mushaf Utsmani. Hal-hal semacam inilah yang tetap menimbulkan gugatan. Tentu, bukan gugatan untuk menyalahkan Alquran, tapi gugatan untuk dapat memperoleh pemahaman yang lebih “mendekati” kebenaran. Kata ‘mendekati’ saya letakkan dalam tanda petik, karena KEBENARAN ABSOLUT itu Tuhan sendiri.

3)MENGHUJAT ISLAM DAN ALLAH
Kata menghujat yang sampeyan berikan sebenarnya berlebihan. Padahal, yang dihujat itu “keislaman” dan “kepercayaan kepada Allah” yang selama ini menyebabkan kebekuan umat. Cobalah semua tulisan yang disampaikan oleh rekan-rekan JIL dibaca dengan seksama, niscaya tak ada penghujatan kepada ISLAM dan ALLAH.

Dalam masalah ini, bacalah kembali QS 49:14. Dalam ayat ini disebutkan adanya sekelompok orang Arab Baduy yang mengklaim dirinya telah beriman, tapi oleh Allah klaim itu dibatalkan. Mereka diminta untuk mengakui telah “ber-Islam”, dan belum beriman. Tentu, saya tidak mengharapkan jika Sdr. Djono mengklaim telah “ber-Islam”, tapi nyatanya masih “ber-thaghut”. Saya cuma berpikiran positif bahwa Anda belum tahu Islam.

4) VERSI MASING-MASING
Kita tidak perlu alergi dengan versi masing-masing. Sejak Rasul Allah Muhammad masih hadir di tengah-tengah umatnya, versi berbagai firqah itu ada. Makanya di dalam Alquran dinyatakan bila ada perselisihan dalam pemahaman agama kita diperintah kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh keliru besar bila kita menganggap Islam itu memiliki makna tunggal! Persoalan khilafah saja menyebabkan mayit Nabi Muhammad baru dikuburkan 3 hari kemudian setelah ajalnya.

Dan lagi, jika tidak ada versi macam-macam, maka tak ada mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali. Itu baru mazhab di bidang fikih, dan belum di bidang kalam maupun tasawuf! Sekarang perhatikan pernyataan sampeyan sendiri di bawah ini yang saya salin (paste) kembali.

“Simpelnya, Islam itu ialah Agama yang diturunkan oleh Allah dan disampaikan oleh Rasulullah (SAW) kemudian diimani dan diamalkan oleh para Sahabatnya. Itulah Islam. Abu Lahab, Abu Jahal, dan abu-abu lainnya yang tidak beriman dengan wahyu dan risalah yang dibawa oleh Muhammad, tentu saja mempunyai versi dan persepsi tersendiri terhadap Islam. Jadi sama-sama menilai dan berbicara tentang Islam. Tapi kira-kira seorang yang beriman mau menerima Islam versi siapa?”

Coba perhatikan kata-kata “diimani dan diamalkan oleh para Sahabatnya”. Sampeyan menganggap bahwa para sahabat besar itu memiliki pemahaman yang tunggal. Tidak demikian, Sdr. Djono. Tentang tanah yang diwariskan Rasul kepada Fathimah putri Rasul saja, antara Umar dan Abu Bakar berbeda paham. Abu Bakar berpendapat bahwa Rasul tidak mewariskan harta dunia kepada putra-putranya. Maka, tanah Fathimah tersebut disita untuk negara. Sedangkan Umar, mengembalikan tanah tersebut kepada Ali (Fathimah sudah wafat) sewaktu Umar menjadi khalifah. Tentang pelaksanaan hukum potong tangan saja, Umar bebeda dengan sahabat lainnya. Umar tidak memotong tangan para pencuri di masa paceklik, bahkan mengancam pemotongan tangan para majikan. Banyak pelajaran yang perlu kita kaji dan pahami, baik pada diri Rasul maupun para sahabat. Sehingga, sampeyan tidak mengambil kesimpulan secara simple, yang malah keluar dari ajaran Islam.

5)TENTANG ABU HURAIRAH
Anda begitu sepihak membela Abu Hurairah. Sampeyan seolah-olah orang yang ada di milis JIL ini tidak menekuni belajar Hadis. Di JIL ini banyak yang tamatan pesantren bahkan ada yang menjadi pengasuh pondok pesantren. Bagaimana mungkin sampeyan sepelekan?! Di bawah ini saya cuplikkan komentar sampeyan terhadap Abu Hurairah.

“Kenapa Abu Hurairah yang terbanyak menyampaikan hadits? Karena Abu Hurairah dikaruniai kekuatan hafalan dan dia fokus memburu hadits.”

Sampeyan katakan bahwa Abu Hurairah dikaruniai kekuatan hafalan dan dia fokus memburu Hadis. Bagaimana dengan Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali yang notabene Abu Bakar dan Umar dipercaya Nabi sebagai mertuanya, dan Utsman dan Ali sebagai menantunya. Keempat orang itu tentu lebih banyak bergaul dengan Rasul dan tidak diragukan lagi hafalannya dibandingkan AH yang ikut di masjid Nabawi selama 1,5 tahun bersama Nabi. Abu Hurairah pun tidak masuk klasifikasi orang yang diperintah Rasul untuk menghafalkan Alquran. Lalu, bagaimana dengan Ibu Aisyah yang disebut 1/2 agama dan menjadi rujukan para sahabat? Bagaimana Abu Hurairah yang dianggap Ibu Aisyah sebagai penyampai potongan Hadis? Bagaimana Abu Hurairah disebut pemburu Hadis, sedangkan semenjak Umar beliau diangkat menjadi gubernur dan dilanjutkan di masa Bani Umayyah.

Abu Bakar menyebut memiliki ribuan Hadis, namun dia membakar semua catatan Hadis. Umar pun demikian, ketika menjadi khalifah, dia meminta para sahabat mengumpulkan semua catatan tentang Hadis, lalu semuanya dibakar. Jadi, pembakaran itu dilakukan ketika Abu Bakar maupun Umar menjadi khalifah dan bukan pembakaran catatan hadis orang-orang tertentu. Sehingga Hadis riwayat Abu Bakar dan Umar praktis sedikit jika dibandingkan AH.

Mengapa koleksi Hadis Abu Hurairah banyak? Ini bukan karena kuatnya hafalan maupun dia pemburu Hadis. Ini karena banyaknya Hadis yang periwayatannya disandarkan kepada Abu Hurairah. Mengapa? Karena, Abu Hurairah menjabat gubernur yang tepercaya di masa pemerintahan Bani Umayyah. Pada masa itu terjadi konflik besar antara pengikut Bani Umayyah dan Ali bin Abu Thalib. Di dalam konflik itulah berhamburan Hadis dari pihak-pihak yang konflik, sehingga Bukhari menemukan 600 ribu Hadis, Ahmad menemukan lebih dari sejuta Hadis.

6) FILASAFAT LIBERAL
Nabi Muhammad tentu tidak belajar filsafat liberal. Tapi, Nabi hadir untuk melakukan liberalisasi terhadap kehidupan umat manusia, khususnya orang-orang Arab. Sebelum Muhammad diangkat sebagai nabi, kehidupan masyarakat Arab dalam kebekuan yang dikenal jahiliyah. Yang ada ialah status quo para elite Quraisy. Nah, Nabi membebaskan masyarakat Arab waktu itu dari sistem keagamaan dan ketuhanan yang telah membeku. Semua tuhan yang dipercaya masyarakat Arab ditiadakan, dan dikembalikan pada sistem tauhid yang telah dibawa oleh Nabi Ibrahim.

Liberalisasi, baik di bidang pemikiran maupun kehidupan umat, yang telah diteladankan oleh Kanjeng Nabi Muhammad harus diikuti. Sebab, jika kita berislam bersandar pada para ulama, maka kita akan terjerumus kepada penyembahan berhala. Perlu diketahui, tidak dikenal kerahiban atau kependetaan dalam Islam. Yang ada di dalam Islam ialah setiap orang harus berusaha untuk memahami kehidupan yang benar (tafaqquh al-diin) sebagaimana di QS 9:122. Setiap orang Islam harus membaca “ayat-ayat Alquran yang ada di dada orang-orang berilmu” (QS 29:49). Dengan membaca ayat-ayat yang ada di dalam dada orang berilmu, kita akan hidup liberal dalam naungan Allah!

Demikian, semoga tausiyah ini banyak manfaatnya bagi kita semua.

Salam,
chodjim

To: islamliberal@yahoogroups.com
From: “Ulil Abshar-Abdalla”
Date: Tue, 5 Apr 2005 07:02:26 -0700 (PDT)
Subject: ~JIL~ Sekali lagi soal kedudukan Hadis (1)

Salam,
Saya senang sekali, banyak tanggapan terhadap posting saya soal kedudukan hadis yang semula merupakan respon terhadap posting Dr. Machasin.

Mohon maaf, saya tak bisa menulis agak detil kali ini. Tetapi, ini adalah tesis saya yang belum saya kaji lebih dalam dan perlu pembuktian lebih lanjut.

Berdasarkan pembacaan saya atas beberapa studi kontemporer tentang sejarah perkembangan hadis (misalnya, Musthafa Al Siba’i, Muhammad ‘Ajaj al Khathib, Yusuf Qardlawi, Fazlur Rahman, Mahmud Abu Rayyah, Muhammad Al Ghazali, Jamal Al Banna, dll.), saya menyimpulkan untuk sementara bahwa pada dua abad pertama Hijriyah, sebelum mulai dibukukan oleh Al Zuhri dan diteruskan oleh sarjana seperti Bukhari, Muslim, dll., hadis sebetulnya tidak mempunyai kedudukan sepenting seperti yang kita saksikan sekarang. Orang yang pertama dan paling bertanggung jawab untuk “mendudukkan” hadis seperti yang kita saksikan sekarang ini adalah Imam Syafii (ra) melalui karyanya yang terkenal, “Ar Risalah”. Sebelum itu, kedudukan hadis atau sunnah tidak sepenting seperti yang kita lihat saat ini.

Aktivitas pengumpulan hadis mulai meningkat sejak abad kedua hijriyah (8 M) dan kemudian menghasilkan beberapa kumpulan hadis yang dianggap otoritatif. Di antara sekian kumpulan hadis itu, ada enam yang paling dianggap otoritatif yang kemudian dikenal sebagai “al kutub al sittah” (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan al Turmudzi, Sunan Ibn Majah, Sunan Abi Dawud, dan Sunan al Nasa’i). Di antara keenam buku kumpulan itu, dua di antaranya dianggap sebagai “kitab paling otoritatif setelah Qur’an”, yaitu Shahih Bukhari dan Muslim.

Sejak saat itulah, hadis pelan-pelan dianggap sebagai “kitab suci kedua” yang kedudukannya begitu penting dalam kehidupan umat Islam setelah Qur’an. Begitu pentingnya kedudukan hadis, hingga sejumlah ulama ushul fiqh ada yang berpendapat bahwa Qur’an bisa “dispesifikasi” (di-takhshish) oleh hadis. Ulama yang lain bahkan berpendapat lebih jauh lagi, dengan mengatakan bahwa Qur’an bisa “dibatalkan” (naskh) oleh hadis.

Beberapa ulama juga mengembangkan sejumlah teori untuk melegitimasikan pandangan mereka tentang hadis itu. Imam Syafi’i, misalnya, merumuskan kaidah bahwa “idza shahha al hadis fa huwa madzhabi”, jika sebuah hadis nyata-nyata merupakan hadis yang sahih (otoritatif), maka itu adalah mazhabku. Imam Syafi’i juga mengatakan bahwa, “La tukhalifu sunnatun li Rasuli Allahi kitaba Allahi bi halin” (tidak ada satupun sunnah Rasul yang bertentangan dengan Kitab Allah kapanpun). Kata-kata Imam Syafi’i yang terakhir ini untuk menunjukkan bahwa ada kesejajaran antara isi Qur’an dan Sunnah, dan bahwa Sunnah tak mungkin berlawanan dengan Qur’an (Catatan: tanpa mengurangi penghormatan atas Imam Syafi’i, saya berpendapat sebaliknya; ada beberapa hadis yang berlawanan semangatnya dengan Qur’an, misalnya hadis tentang perintah bunuh atas orang yang pindah agama; ini jelas bertentangan dengan ayat, “La ikraha fi al din”).

Imam Alusi, dalam tafsir “Ruh al Bayan”, mengutip dari Imam Syafi’i suatu pendapat berikut ini, “Semua yang yang diputuskan Nabi adalah hasil dari pemahaman beliau atas Qur’an”. Pendapat yang paling umum diikuti oleh para ulama adalah bahwa kedudukan hadis adalah sebagai penjelas. Imam Syathibi dalam “al Muwafaqat” berpendapat bahwa, “inna al sunnah innama ja’at mubayyinatan lil kitabi wa syarihatan li ma’anihi” (sesungguhnya sunnah itu ada untuk menjelaskan dan menerangkan apa-apa yang tak jelas dalam Qur’an). Tetapi, Imam Syathibi juga mengatakan hal lain yang menarik berkenaan dengan sunnah, “wa law kana fi al sunnati syai’un la ashla lahu fi al kitabi lam takun bayanan lahu,” jika di dalam sunnah terdapat sesuatu yang tak ada dasarnya dalam Qur’an, maka dalam keadaan demikian itu, sunnah tidak bisa lagi dianggap sebagai penjelas. Berdasarkan keterangan Al Syathibi ini, maka sunnah Rasul tidak bisa mengadakan suatu syariat atau hukum baru yang tidak ada dasarnya dalam Qur’an.

Dalam pandangan para ulama, susunan dan urut-urutan dalil adalah sebagai berikut: Qur’an berada pada posisi paling atas. Disusul kemudian dengan sunnah yang juga dibagi atas dua tingkat. Ada yang disebut dengan “sunnah ‘amaliyyah” (tradisi Nabi berupa tindakan) dan ada “sunnah qauliyyah” (tradisi Nabi berupa ucapan). Sunnah ‘amaliyyah berada pada posisi kedua, dan kemudian disusul oleh sunnah qauliyyah. Dengan demikian, dalam pandangan para ulama, dikenal 3 dasar pokok dalam perumusan dalil, yaitu Qur’an, sunnah ‘amaliyyah dan sunnah qauliyyah. Tentu, ini di luar dua dasar pokok yang lain, yaitu Ijma’ dan Qiyas atau ijtihad.

Setelah mengulas panjang lebar tentang kedudukan sunnah, Imam Syathibi mengatakan, “wa al maqthu’u bihi fi al mas’alati anna al sunnah laisat ka al Kitabi fi maratib al i’tibar.” (Yang jelas mengenai soal ini adalah bahwa sunnah tidak sama kedudukannya dengan Qur’an).

Inilah pendapat para ulama tentang kedudukan hadis. Pada kasus Imam Syathibi, kita masih melihat bahwa kedudukan hadis tidaklah diangkat setinggi rupa sehingga hampir atau bahkan menyamai Qur’an. Hadis atau sunnah tetap diletakkan pada posisi kedua. Tetapi sejumlah ulama lain ada yang mengangkat kedudukan hadis begitu tingginya sehingga seolah-olah setara dengan Qur’an itu sendiri, dengan mendasarkan diri pada hadis riwayat Abu Dawud, Al Darimi, dan Ibn Majah, “Ala wa inni utitu al Kitaba wa mitslahu ma’ahu”. Dalam riwayat yang lain, “Ala inni utitu al Qur’ana wa mitslahu ma’ahu”. Artinya, “Camkanlah, aku diberikan Kitab (Qur’an) dan kitab lain yang setara dengannya. Dalam persepsi sebagian besar umat Islam, hadis juga dianggap sebagai wahyu Allah, sehingga kedudukannya nyaris sama dengan Qur’an itu sendiri. Pandangan semacam ini didasarkan pada ayat, “wa ma yanthiqu ‘anil hawa, in huwa illa wahyun yuha” (Dia [Muhammad] tidak berbicara dari hawa nafsunya; apa yang dia bicarakan adalah wahyu yang diberikan [oleh Allah]).

Menurut saya, pandangan-pandangan semacam ini, yang menempatkan hadis dalam posisi yang begitu “suci”, adalah perkembangan terakhir yang tidak ada pada masa sahabat dan tabi’in. Marilah kita lihat dengan sedikit agak rinci bagaimana sikap para sahabat dan tabi’in yang begitu takut untuk menuliskan hadis, karena khawatir akan menyaingi kedudukan Qur’an.

Menurut Rasyid Ridla dalam tafsir Al Manar, hadis yang paling otoritatif berkenaan dengan larangan untuk menuliskan hadis adalah riwayat Ahmad, Muslim dan Ibn ‘Abd al Barr dari sahabat Abi Sa’id Al Khudzry, di mana Nabi bersabda, “La taktubu ‘anni syai’an illa al Qur’an, fa man kataba ghairal Qur’an fal yamhuhu,” janganlah kalian menulis dari aku sesuatu selain Qur’an; barangsiapa menulis selain Qur’an, hendaknya dihapus.

Umar adalah sahabat yang paling bertindak keras terhadap para sahabat yang meriwayatkan hadis. Umar pernah mempunyai ide untuk menuliskan sunnah Nabi, kemudian dia berubah pikiran dan menulis surat ke pelbagai penjuru agar siapapun yang memiliki catatan hadis, hendaknya segera dimusnahkan. Pada masa Umar, memang mulai banyak muncul sejumlah sahabat yang meriwayatkan hadis. Umar memerintahkan mereka untuk datang dan berkumpul, dan kemudian memerintahkan mereka untuk membakar catatan-catatan yang berisi kumpulan hadis yang mereka miliki. Umar berkata kepada mereka, “Mishnah, seperti Mishnahnya orang-orang Yahudi.” Catatan: Mishnah adalah semacam tafsir atas Taurat yang dibuat oleh para Rabi Yahudi dan kemudian diajarkan secara turun-temurun. Umar membandingkan antara kumpulan hadis itu dengan Mishnah-nya orang-orang Yahudi.

Umar juga pernah memenjarakan sejumlah sahabat karena terlalu banyak meriwayatkan hadis. Mereka antara lain: Abdullah Ibn Mas’ud, Abu al Darda’, ‘Uqbah bin ‘Amir dan Abu Mas’ud Al Anshary

Abu Bakar juga termasuk sahabat yang dikenal tidak menyukai penulisan hadis. Dalam kumpulan hadis-hadis mursal yang diriwayatkan oleh Abu Mulaikah, dikisahkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan sejumlah sahaabt setelah wafatnya Nabi, lalu berkata kepada mereka, “Suatu saat, kalian akan mengisahkan dari Rasul sejumlah hadis di mana kalian akan berbeda-beda. Orang-orang setelah kalian akan berbeda lebih parah lagi. Oleh karena itu, janganlah mengisahkan sesuatu dari Rasul (selain Qur’an). Siapapun yang bertanya pada kalian, katakan saja: antara kita dan kalian terdapat Kitab Allah, maka halalkan hal-hal yang dikatakan halal di sana, dan haramkan hal-hal yang dikatakan haram di sana.”

Salah satu kisah yang menarik dan sangat populer adalah tindakan Umar yang di kalangan oang-orang Syi’ah sudah pasti akan dianggap kontroversial, saat Rasul menjelang wafat. Nabi meminta kertas kepada para sahabat yang menungguinya, agar beliau bisa menuliskan sesuatu (boleh jadi sebagai wasiat). Umar mencegah, sembari berkata, “Sudah cukup Kitab Allah!”

Sahabat Ibn Mas’ud juga dikenal sebagai orang yang sangat takut meriwayatkan hadis. Dikisahkan oleh ‘Amr ibn Maimun, bahwa dirinya selama setahun selalu mondar-mandir ke tempat Ibn Mas’ud, tetapi selama itu, dia tak pernah sekalipun mendengar satu pun hadis dari dia. Tetapi, suatu ketika, lidah Ibn Mas’ud kepleset, dan mengatakan, “Rasul bersabda”. Kontan, dia kelihatan bersedih dan keringat menetes dari pelipisnya, karena takut melanggar larangan Nabi untuk meriwayatkan hadis.

Saya kira, keterangan ini cukup untuk membuktikan bahwa pada masa sahabat, terdapat keengganan untuk meriwayatkan hadis. Alasannya jelas, seperti pernah dikatakan oleh Umar. Ada dua riwayat dari Umar mengenai alasan kenapa dia tak suka hadis dituliskan. Riwayat pertama adalah “La kitaba ma’a kitabi Allahi” (tidak ada Kitab Suci lain kecuali Kitab Allah [maksudnya: hadis bukanlah Kitab Suci). Riwayat kedua adalah “Wallahi inni la asyubu kitab Allahi bisyai’in abadan” (demi Tuhan, aku tidak akan sekali-kali mencampurkan hal-hal lain kepada Kitab Allah). Riwayat-riwayat ini memperlihatkan bahwa sahabat sangat khawatir jika kedudukan Qur’an disaingi oleh sumber-sumber selainnya, termasuk oleh hadis sendiri. Bahkan Umar menyamakan kumpulan hadis dengan Mishnah-nya orang Yahudi.

Saya akan kutipkan pendapat murid Muhammad Abduh, Mahmud Abu Rayyah, dalam bukunya yang sangat kontroversial, “Adhwa’ ‘ala al Sunnah al Muhammadiyyah” yang terbit sudah cukup lama, sekitar tahun 50-an. Menurut Abu Rayyah, kemungkinan alasan Nabi untuk melarang penulisan hadis adalah “likai la taktsura awamir al syar’ wa la tattasi’u adillatul ahkami,” agar perintah-perintah agama tidak mekar menjadi begitu luas, juga agar dalil-dalil hukum tidak membengkak menjadi begitu banyak. Sebagaimana kita tahu, Nabi sangat tidak suka jika para sahabat banyak bertanya, sehingga hal-hal yang semula tak diharamkan menjadi haram gara-gara ditanyakan. Alasan lain, sebagaimana disebutkan oleh Abu Rayyah, adalah bahwa sejumlah hadis hanyalah menyangkut kasus-kasus spesifik yang ada pada zaman Nabi, sehingga tak relevan untuk zaman berikutnya. Jika diceritakan, maka yang semula merupakan hadis partikular menjadi universal.

Catatan: lihatlah, betapa bedanya dengan keadaan zaman ini, di mana umat Islam begitu obsesif menanyakan hukum segala hal. Akibatnya fiqh menjadi membengkak, dan tiba-tiba “berislam” sama saja dengan “berfiqih”. Jamal Al Banna, adik kandung Hasan Al Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, menyebut bahwa tampaknya fiqih pelan-pelan sudah menjadi “agama tersendiri”. Ini semua gara-gara semua orang bertanya tentang hukum segala hal.

Karena kedudukan hadis yang makin begitu penting di kalangan umat Islam, maka muncul pula suatu anggapan implisit bahwa apa yang tertera dalam kitab-kitab hadis adalah rekaman asli ucapan Nabi sebagaimana aslinya. Karena Shahih Bukhari dan Muslim dianggap sebagai “kitab yang paling otoritatif setelah Qur’an (ashahhul kutub ba’dal Qur’an), maka timbul anggapan yang tak terucapkan bahwa apa yang tercatat dalam dua buku itu adalah rekaman ucapan Nabi yang persis seperti aslinya dulu. Ini salah besar. Dan anggapan semacam ini timbul karena “keluguan” saja.

Ada juga anggapan diam-diam yang lain, bahwa para perawi hadis itu adalah orang-orang yang hafalannya spesial, fotografik, luar biasa, sehingga tak mungkin ada distorsi dalam periwayatan hadis. Saya, dulu, kerap mendapatkan pelajaran bahwa seorang pengumpul hadis bisa menghafal ratusan ribu hadis di luar kepala. Menurut saya, ini tidak mungkin. Ini hanya mitos yang sengaja dikembangkan untuk melegitimasikan otoritas para pengumpul hadis. Dulu dan sekarang sama saja: ada sejumlah orang yang ingatannya baik, ada yang buruk. Tetapi menghafal ratusan ribu hadis, tanpa kekeliruan sedikitpun, jelas merupakan hal yang mustahil.

Sebagaimana pernah saya katakan dalam posting sebelumnya, sebagian besar hadis diriwayatkan secara “bil ma’na”. Artinya: sebagian besar hadis bukanlah rekaman asli ucapan Nabi sebagaimana adanya. Isi dan pesannya adalah dari Nabi, tetapi redaksinya boleh jadi dari perawi sendiri.

Saya kutipkan pendapat Rasyid Ridla dalam tafsir Al Manar, “Tidak ada keraguan lagi, bahwa sebagian besar hadis diriwayatkan secara ma’na, sebagaimana diketahui oleh semua orang dan disepakati oleh banyak ulama. Buktinya adalah perbedaan para perawi dalam kitab-kitab yang dianggap otoritatif dalam meriwayatkan redaksi hadis, bahkan hadis yang pendek sekalipun.” Hadis yang kemungkinan besar merekam secara persis ucapan Nabi adalah hadis-hadis yang masuk dalam kategori “hadis mutawatir”, katakan saja hadis yang populer. Menurut Rasyid Ridha, jumlahnya tak seberapa.

Pandangan lain yang juga cukup menyedihkan dan sekarang meluas di kalangan umat Islam adalah bahwa segala hal yang dicontohkan Nabi sebagaimana direkam dalam hadis harus diikuti 100% oleh umat Islam. Karena banyak hal tak diterangkan oleh Qur’an, dan lebih banyak hal lain lagi yang dijelaskan oleh hadis, maka sudah logis jika dalam banyak hal umat Islam lebih tertolong oleh hadis ketimbang oleh Qur’an. Karena hadis dianggap sebagai sumber yang “suci”, yang seolah-olah hampir sama dengan Qur’an, maka jika dalam sebuah diskusi seseorang menyebut sebuah hadis, maka seolah-olah hadis itu menjadi “pamungkas” untuk menjawab hal yang sedang diperdebatkan. Hadis, meminjam istilah yang dipakai oleh Imam Ghazali, menjadi semacam “faishal al tafriqah”.

Saya tak menentang seluruhnya pendapat seperti ini. Bagaimanapun, hadis dan sunnah adalah warisan berharga yang ditinggalkan Nabi. Tetapi, harus ada sikap kritis terhadap pendapat semacam ini. Marilah kita pertimbangkan hal-hal berikut ini.

Pertama — larangan Nabi untuk menuliskan hadis, seperti diulas panjang lebar di atas, sebetulnya memperlihatkan bahwa hadis bukanlah sumber yang mutlak harus diikuti. Saya kutipkan sekali lagi pendapat Abu Rayyah mengenai hal ini, “Jika engkau tambahkan atas argumen-argumen (yang sudah disebutkan di atas) adanya riwayat tentang ketaksukaan para sahabat untuk meriwayatkan hadis, bahkan mereka membeci dan melarang hal itu, maka engkau akan menarik kesimpulan yang kuat bahwa para sahabat itu tak hendak menjadikan semua hadis sebagai ‘agama’ sebagaimana Qur’an.”

Kedua — banyak sekali kasus-kasus di mana sahabat bertindak melawan petunjuk yang terkandung dalam hadis. Contoh yang paling terkenal adalah kasus di mana Umar tidak membagikan tanah Irak yang ditaklukkan oleh pasukan Islam kepada mereka, sebagaimana menjadi kebijakan Nabi. Hal ini bukan saja merupakan tindakan sahabat saja, bahkan para ulama fiqh juga melakukan hal yang sama. Banyak hukum fiqh yang dibuat oleh para ulama dan menyalahi hadis-hadis yang shahih. Ibn al Qayyim, dalam “I’lam al Muwaqqi’in”, menyebutkan tak kurang dari 60 masalah hukum di mana ulama fiqh mempunyai pendapat yang berbeda dengan hadis-hadis yang shahih. Abu Hanifah sangat jarang sekali berpegang pada hadis, kecuali beberapa hadis yang dianggapnya mutawatir. Hadis ahad atau hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu orang perawi saja, tidak dipakai oleh Abu Hanifah sebagai dasar hukum.

Ketiga — para ulama umumnya berpendapat bahwa dalam masalah-masalah keduniaan, kebijaksanaan dan ucapan Nabi bukanlah sesuatu yang seluruhnya mengikat. Para ulama membedakan antara dua jenis perintah agama yang bersumber dari sunnah atau hadis Nabi. Ada yang disebut sebagai “amr taklif”, dan ada “amr irsyad”. “Amr taklif” artinya perintah Nabi yang berkaitan dengan hal-hal peribadatan yang memang dalam dirinya merupakan sesuatu yang dimaksudkan sebagai “qurbah” atau ibadah kepada Allah. “Amr irsyad” artinya petunjuk atau perintah Nabi yang berkaitan dengan hal-hal keduniaan secara umum. Dalam hal-hal yang berkaitan dengan “amr irsyad”, Nabi dimungkinkan berbuat salah. Ada anggapan umum bahwa Nabi adalah “ma’shum”, infallible, terjaga dari kesalahan dalam semua hal, sesuai dengan bunyi ayat, “wa ma yanthiqu ‘an al hawa in huwa illa wahyun yuha” (dia tak berbicara dengan hawa nafsunya; apa yang ia bicarakan adalah wahyu yang diberikan oleh Allah). Ayat ini dipahami secara salah sebagai dalil untuk mengatakan bahwa Nabi terlindung dari kesalahan dalam semua hal. Al Qadli ‘Iyadh, dalam kitabnya yang terkenal “Al Syifa'”, mengatakan bahwa, “amma ahwaluhu fi umur al dunya faqad ya’taqidu al syai’a ‘ala wajhin wa yazharu khilafuhu, aw yakunu minhu ‘ala syakkin aw dzannin bikhilaf umur al syar'” (Adapun sikap-sikap Nabi dalam hal-hal keduniaan, maka dia boleh jadi beranggapan bahwa sesuatu itu begini padahal kenyataannya lain, atau boleh jadi dia dalam keadaan bimbang atau sangkaan belaka, berbeda dalam hal-hal yang menyangkut masalah keagamaan).

Ummi Salamah menuturkan riwayat berikut ini, di mana Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia, dan kalian bersengketa (dan melaporkannya) kepadaku. Boleh jadi (dalam adu argumen), sebagian kalian lebih pandai berhujjah daripada yang lain, lalu aku menghukumi berdasarkan pada apa yang aku dengar. Barangsiapa yang (karena putusanku) memperoleh sesuatu dari saudaranya (secara salah, karena ia pandai berhujjah), maka hendaknya janganlah mengambil sesuatu itu, sebab sesungguhnya aku hanya memberinya sepercik dari api neraka”. Jika dalam masalah-masalah keduniaan Nabi terlindung dari kesalahan, maka sudah pasti Nabi tidak akan mengucapkan hal seperti itu. Bahwa dalam masalah-masalah keduniaan Nabi tidak ma’shum atau terlindung dari kesalahan, hal itu tidak menjadi cacat baginya; “la washma ‘alaihim fihi,” kata al Qadli ‘Iyadh.

Gagasan pokok yang ingin saya sampaikan melalui uraian yang panjang ini adalah bahwa sesungguhnya kedudukan hadis haruslah kita tempatkan secara proporsional. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Syathibi, betapapun pentingnya kedudukan hadis, dia tak akan dapat menyamai Qur’an, dan janganlah hadis ditempatkan pada posisi yang terlalu sakral. Cara umat Islam saat ini memperlakukan hadis seolah-olah mengesankan bahwa hadis adalah “kitab suci kedua” setelah Qur’an. Seperti yang sudah ditunjukkan di atas, hadis tidaklah menduduki tempat yang begitu penting pada masa sahabat dan tabiin. Hadis juga bukanlah sesuatu yang mengikat secara mutlak dari segi hukum. Sebagian besar hadis diriwayatkan secara makna, bukan secara redaksional persis seperti yang disabdakan Nabi.

Lebih dari itu –dan inilah poin yang penting–, hadis adalah “tafsiran” dan pemahaman Nabi atas Islam sesuai dengan konteks yang dia hadapi. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Rayyah, maksud Nabi melarang sahabat untuk menuliskan hadis adalah agar tidak terlalu banyak hukum dan dalil agama.

Argumen yang selalu dikatakan oleh umumnya kalangan umat Islam adalah bahwa tanpa hadis, maka banyak hal yang tak dapat diketahui dengan lengkap hanya semata-mata bergantung pada Qur’an. Shalat selalu disebut sebagai contoh. Qur’an tidak menyebutkan tata cara salat dengan rinci. Tetapi komentar saya: selain shalat, zakat dan mungkin nikah, hadis hanya sedikit sekali memerinci hal-hal yang hanya disebutkan secara rinci dalam Qur’an.

Posisi saya adalah: jika Qur’an tidak menyebutkan suatu hukum mengenai sebuah soal secara jelas, maka kita diberikan kelonggaran. Sebagai contoh: Qur’an sama sekali tidak menyinggung apakah perempuan boleh menjadi imam dalam salat atau tidak. Oleh karena itu, soal status boleh tidaknya perempuan menjadi imam salat atau tidak adalah kembali kepada kaidah asal, yaitu “al jawaz”, bahwa segala sesuatu itu boleh selama tak ada ketentuan yang jelas dalam Qur’an.

Pada bagian berikut, saya akan mengulas agak sedikit lebih detil soal Abu Hurairah.

Bersambung……..

To: islamliberal@yahoogroups.com
From: “dar jono”
Date: Tue, 5 Apr 2005 20:16:30 -0700 (PDT)
Subject: Re: ~JIL~ Sekali lagi soal kedudukan Hadis (1)

Sama sekali tidak ada yang baru dalam tulisan Chodjim. Semuanya bisa ditemukan jawabannya dalam email saya yang lalu. Dia hanya mencecar kita dengan rentetan “prasangka” sejarah (yang sesekali dibumbui dengan kekeliruan dalam pengungkapan fakta) untuk menjatuhkan atau melemahkan posisi Hadits di mata kita. Sungguh merugi orang yang menelan bulat-bulat fakta dan analisa sejarah versi Chodjim –tanpa sikap kritis– dalam rangka mengkritisi Hadits sebagai sumber hukum!

Saya bisa saja meng-counter kritik hadits ala Chodjim dengan cara yang sama menggunakan pisau analisa sejarah pula. Tapi apa hasilnya? Debat kusir! Jangankan sejarah masa lampau dimana data dan informasi yang sampai ke tangan kita sangat terbatas; kejadian yang terjadi kini dan di sini saja –ketika data dan informasi bertebaran di mana-mana– tetap saja akan selalu mengundang kontroversi. Fakta boleh sama, tapi analisa dan persepsi terhadap fakta berbeda-beda!

Sekali lagi, Islam –demikian pula sejarah Islam dan ummat Islam– bisa ditinjau dari beragam versi dan persepsi. Jangan dikira para ulama kita (termasuk para Ahlul Hadits) tidak mengetahui dan menutup mata terhadap pelbagai drama sejarah, konflik dan intrik politik tersebut. Para ulama kita maklum dan mafhum. Bahkan sebagian besar kejadian sejarah yang diangkat dan diungkit oleh Chodjim ternyata bersumber dari riwayat Ahlul Hadits sendiri yang dia pertanyakan itu :)).

Seperti yang diakui oleh Chodjim dkk sendiri, “kritik hadits” sebetulnya dipelopori oleh para Ulama Hadits sendiri. Didorong oleh kesadaran akan pentingnya Hadits sebagai sumber hukum dalam Islam, mereka melakukan proses penyaringan Hadits secara ketat. Kegiatan tersebut berpijak atas asumsi yang telah disepakati yaitu bahwa Islam adalah agama terakhir yang dijamin kelestariannya oleh Allah hingga Hari Akhir dan bahwa Sunnah Rasulullah saw merupakan sumber hukum Islam.

Kedua asumsi tersebut jelas dalilnya dalam al-Quran dan telah disepakati secara pasti oleh seluruh ulama. Di atas kedua asumsi tersebut, dibangunlah paradigma “kritik hadits” yang bertujuan untuk mendapatkan hadits shahih yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Maka disusunlah metode seleksi, verifikasi dan kodifikasi hadits yang sangat canggih yang disebut Musthalah Hadits. Ajaib dan manusiawi. Itulah “kritik hadits” versi orang beriman!

Adapun orang liberal tidak memiliki semua (asumsi, paradigma dan metodologi) itu. Akibatnya, kritik hadits yang mereka tawarkan semata-mata bertujuan untuk menjatuhkan atau melemahkan posisi hadits sebagai sumber hukum. Modal mereka hanyalah pisau analisa sejarah yang dimainkan dengan logika berpikir yang relatif dan subjektif. Pendeknya, tidak ilmiah! Dengan cara begitu, semua orang bisa saja melempar seribu-satu macam kesangsian terhadap Hadits maupun Quran.

Kalau dibahasakan secara formal-legalistik; sebelum memulai kegiatan “kritik hadits” para ulama terlebih dahulu MENGINGAT adanya dalil-dalil qath’i (al-Quran) tentang kedua asumsi di atas, kemudian MENIMBANG tentang fakta banyaknya beredar hadits palsu, setelah itu barulah mereka MEMUTUSKAN dan MENETAPKAN kriteria dan prosedur verifikasi hadits secara cermat dan teliti. Kaum liberal hanya mempertimbangkan fakta dan tidak mengingat kedua asumsi dasar keimanan tersebut.

Jadi, seperti yang saya katakan pada email terdahulu, anda memilih versi yang mana? Mengulang omongan Chadjim sendiri: selebihnya… terserah anda :)

Tentang posting terakhir Ulil, dalam batas-batas tertentu, saya masih agak salut, karena dia terlihat tidak gegabah untuk menembak-jatuh posisi Hadits. Mudah2an selanjutnya masih begitu.

——————————————————————————–
“Dardjono” sengaja tidak menanggapi banyak tulisan Ulil. Disamping karena inti pesannya tidak berbeda dengan tulisan Chodjim, “dardjono” juga memberi kesempatan kepada Ulil untuk menyelesaikan tulisannya sebagaimana yang dia janjikan yakni tentang Abu Hurairah. “Dardjono” sudah mempersiapkan tulisan seperti di bawah ini:
——————————————————————————–

Tulisan Ulil senada dengan Chodjim, dan dia pun memasukkan riwayat yang secara “ilmu musthalah hadits” amat sangat lemah. Sekali lagi, terpampang nyata belang kaum liberal. Katanya sih mereka mengkritik kualitas keabsahan hadits, padahal mereka sendiri tidak malu dan tidak ragu menggunakan hadits-hadits yang telah dinyatakan lemah oleh para peneliti hadits.

Dalam tulisannya, Ulil berusaha untuk menimbulkan kesan yang menafikan atau paling tidak mengecilkan kedudukan Hadits di dalam Islam. Caranya dengan memutarbalikkan fakta sejarah, mengutip riwayat palsu dan memberikan penafsiran terhadap ucapan dan tindakan para Sahabat dan ulama secara bias dan keliru bahkan bertolakbelakang dari maksud yang sebenarnya.

Pertama; Ulil memutarbalikkan fakta sejarah dengan mengatakan: bahwa orang pertama yang “mendudukkan” hadis seperti sekarang ini adalah Imam Syafii melalui kitabnya “Ar Risalah”; katanya lagi: sebelum itu, kedudukan hadis atau sunnah tidak sepenting ini. Suatu penipuan sejarah yang luar biasa!

Menurut sejarah, paham “inkar as-sunnah” (penolakan terhadap Sunnah) bermula muncul di masa Imam as-Syafi’i. Istilah yang dipakai oleh as-Syafi’i untuk golongan “inkar as-sunnah” adalah “at-tha’ifat al-latii raddat al-akhbar kullaha” (golongan yang menolak seluruh hadits). Alhasil, beliau tampil dan merasa terpanggil untuk membantah mereka dalam berbagai kitabnya.

Jadi pembelaan beliau terhadap Sunnah hanyalah sebagai reaksi terhadap munculnya aliran baru yang menolak sunnah; bukan aksi pribadi untuk mengangkat-angkat as-Sunnah. Karena sebelum itu, sejak zaman Sahabat, as-sunnah telah menempati kedudukan yang istimewa sebagai sumber hukum dan petunjuk. Seluruh ulama’ telah ijma’ (sepakat) –dengan dalil naqli maupun aqli– bahwa as-sunnah adalah sumber hukum Islam. Dalil-dalilnya terlalu banyak dan semua orang sudah sering membaca dan mendengarnya.

Kedua; Ulil mengangkat sebuah riwayat bahwa Umar pernah memenjarakan beberapa sahabat karena terlalu banyak meriwayatkan hadits. Riwayat ini sebenarnya tidak terdapat dalam kitab yang mu’tabar dan tanda kepalsuannya sudah nampak. Kalaupun riwayat tersebut sah, sama sekali tidak bisa mengurangi otoritas hadits. Perbuatan Umar –andaikata pernah– seperti itu hanyalah upaya mencegah kekeliruan dalam meriwayatkan hadits. Ibnu Hazm telah menegaskan bahwa riwayat Umar memenjarakan tiga sahabat besar itu adalah dusta [Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam II:139].

Ketiga; Ulil menyitir dan memelintir ucapan dan tindakan sejumlah sahabat, ulama dan juga orang yang bukan ulama, sedemikian rupa untuk menjatuhkan kedudukan dan otoritas hadits dan sunnah di mata kita. Sebelum saya menunjukkan kebengkokannya, terlebih dahulu harus diingat bahwa dengan sejumlah besar dalil naqli dan dalil aqli, semua kutipan Ulil tersebut sesungguhnya tidak bisa menggoyahkan keyakinan kita terhadap otoritas hadits.

Pandangan bias dan miring terhadap hadits dan sunnah bisa terjadi karena sebelumnya Ulil menempatkan kutipan-kutipan tersebut dalam kacamata konteks dan konsep yang telah diajukan sebelumnya. Sejak di awal tulisan dia sudah memaparkan kesimpulan (prasangka) sepihaknya bahwa pada dua abad pertama Hijriyah hadis tidak mempunyai kedudukan sepenting sekarang. Meskipun dia bilang itu baru kesimpulan “sementara” dan belum dikaji dalam, tapi dengan cara demikian dia sudah memasangkan kacamata bias itu ke dalam benak pembaca.

Padahal dalam memahami agama ini, tidak boleh dibangun di atas prasangka dan praduga. Mendalami agama harus dimulai dengan asumsi yang jelas, aqidah yang kokoh dan kaidah yang konsisten. Itulah yang telah berhasil dibangun oleh Rasulullah saw dan dipahami oleh para Sahabat kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh generasi ulama sesudahnya yang istiqamah di atas jalan yang lurus dan terang itu hingga sekarang.

Bila kita meyakini kelestarian ajaran Islam sebagai agama yang terakhir, orisinalitas al-Quran yang terjaga keaslian dan kemurniannya hingga akhir zaman, memahami kedudukan sunnah sebagai penjelasan, penjabaran dan penerapan rinci dan konkrit dari al-Quran maka kita akan mengerti makna dan maksud dari setiap ucapan dan tindakan para sahabat dan ulama yang dikutip oleh Ulil tersebut.

Semua riwayat yang menerangkan larangan menulis hadits atau larangan banyak meriwayatkan hadits didorong oleh maksud berikut:
a. menjaga kemurnian al-Quran dari pencampuran dengan al-Hadits,
b. mengkonsentrasikan kaum muslimin untuk membaca, menghafal dan mengajarkan al-Quran di tengah-tengah ummat,
c. menjaga al-Hadits itu sendiri dari kesalahan periwayatan yang berakibat fatal karena berbohong atas nama Rasulullah saw.

Bahkan Khalifah Umar bin Khattab sesungguhnya pernah merencanakan untuk menghimpun hadits Nabi secara tertulis. Untuk itu Umar terlebih dahulu meminta pertimbangan para sahabat lainnya dan mereka pun menyetujuinya. Tetapi setelah satu bulan Umar mohon petunjuk kepada Allah dengan shalat istikharah, akhirnya dia mengurungkan niatnya itu. Dia khawatir, himpunan hadits itu akan memalingkan perhatian ummat dari al-Quran. [Baca kitab Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih karangan Ibn 'Abd al-Barr]

Larangan menulis hadits yang sifatnya “pembatasan sementara” (karena ada juga perintah lain untuk mencatat dan menyebarkan al-Hadits) itu terjadi di awal-awal Islam (masa sahabat). Setelah al-Quran banyak dihafalkan dan mushaf al-Quran selesai ditadwin dan disebarkan di masyarakat, barulah di masa tabi’in dan sesudahnya, para ulama sibuk mencari, meneliti, menyeleksi dan mengkodifikasi hadits.

Tidak ada secuil pun makna dan maksud untuk mengecilkan apalagi menafikan otoritas hadits sebagai sumber utama ajaran Islam sesudah al-Quran. Malah adanya sikap yang sangat “pelit” atau “takut” dari sebagian sahabat untuk meriwayatkan hadits justru merupakan wujud nyata dari pengagungan mereka terhadap al-Hadits.

Seandainya hadits adalah rekaman ucapan dan tindakan seorang Nabi yang hanya bernilai sejarah, tidak bernilai hukum, niscaya tidak sehatihati itu para Sahabat dalam meriwayatkannya. Mereka paham betul nilai, implikasi dan konsekwensi hukum dari setiap ucapan dan tindakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak ada gunanya seorang Ulil membuat tesis dan hipotesis untuk melemahkan kedudukan Hadits dan Sunnah, seolah-olah dia yang lebih mengerti isi, makna dan maksud al-Quran serta lebih memahami pesan dan wasiat Rasulullah saw ketimbang para Sahabat yang hidup bersama beliau serta mendengar dan melihat langsung al-Quran diturunkan, dibacakan dan dipraktikkan di tengah-tengah mereka.

Untuk lebih membelalakkan mata orang-orang yang tertipu dengan pemutarbalikan fakta gaya Ulil, yang membawa-bawa nama Ulama untuk mengecilkan otoritas Hadits, silakan simak sendiri ucapan empat ulama dan imam besar Islam (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal) yang tercantum di box sebelah kanan.

Itulah tulisan yang dipersiapkan oleh “dardjono” untuk membanting kritik Ulil tentang otoritas hadits. Tapi setelah lama dinanti-nanti tulisan Ulil tentang Abu Hurairah seperti yang dia janjikan ternyata tidak kunjung dia luncurkan. Malah akhirnya yang muncul di milis adalah email “sampah” dari Ulil seperti berikut ini:

To: islamliberal@yahoogroups.com
From: “Ulil Abshar-Abdalla”
Date: Wed, 13 Apr 2005 21:55:41 -0700 (PDT)
Subject: RE: ~JIL~ Seks Pra Nikah: Dua Joke

Salam,
Berikut ini hanya joke saja:

(1) Islam melarang hubungan seks sebelum nikah. Jadi kalau anda sudah menikah, anda diperbolehkan berhubungan seks. Makanya, nikahlah dulu, baru setelah itu bebas berhubungan seks dengan siapa saja….. :-)))))))

(2) Mufti Bosinia, Mustapha Ceric, pernah bertanya kepada seorang sekuler, “Apa defenisi anda tentang sekularisme?” Jawab Si Sekuler, “Orang-orang sekuler adalah orang yang tak pergi ke gereja.” Si Mufti langsung menyahut, “Kalau begitu, kita sama-sama sekuler, karena saya juga tidak pergi ke gereja. Saya hanya pergi ke masjid.” (Joke ini saya dengar langsung dari Mustapha Ceric).

Ulil

To: islamliberal@yahoogroups.com
From: “dar jono”
Date: Thu, 14 Apr 2005 17:04:50 -0700 (PDT)
Subject: Re: ~JIL~ Seks Pra Nikah: Dua Joke

Saya juga punya semacam anekdot:

Mas Asri dan Mbak Sri terlibat dialog.

Mbak Sri: Betulkah dalam hukum Islam, pencuri dipotong tangannya?
Mas Asri: NA’AM (iya)

Mbak Sri: Betulkah suami atau isteri yang berselingkuh dirajam?
Mas Asri: SHAH (betul)

Mbak Sri: Betulkah pembunuh dihukum mati?
Mas Asri: BALAA (tentu)

Mbak Sri: Kalau begitu dimana-mana akan kita lihat orang-orang berjalan nggak punya tangan, anak-anak kehilangan ayah atau ibu karena dirajam dan setiap hari ada orang dieksekusi mati.

Mas Asri: Koq gitu?

Mbak Sri: Setiap hari kan banyak orang yang mencuri, selingkuh dan membunuh.
Mas Asri: Sekarang kan belum berlaku hukum Islam, mbak.

Mbak Sri: :-O :-( :-| :-)

Saya juga mau berpantun:

Kunanti-nanti ceritamu tentang Pak Kucing *)
Kau datang dengan dua joke
Kucari-cari cerita bumbu yang agak garing
Aku karang anekdot juga oke

*)Pak Kucing = Abu Hurairah

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: