Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Februari 4, 2007

TULISAN & EJAAN BAHASA ARAB DALAM AL-QUR’AN

Filed under: Prof. Dr. M.M al A'zami — iaaj @ 5:12 am

Kekeliruan yang menahun dan semakin banyak permasalahan yang di­hadapi negara-negara yang baru muncul mengakibatkan terjadinya perubahan secara dramatis dalam ketentuan ejaan, adanya mempertahankan keganjilan dari pengalaman masa lalu sedang ejaan lainnya akan jadi barang aneh atau kuno. Ini mengingatkan saya pada tahun 1965 ketika saya menyelesaikan program doktor saya di Cambridge. Saya ketemu dengan seorang mahasiswa muda dari Inggris yang mempelajari bahasa Arab untuk menjadi seorang ahli orientalis. Dia mengakui kesusahannya dalam mempelajari dan menguasai ejaan bahasa Arab, dan dia mendesak agar mengubah ejaan Arab ke skrip Latin-seperti halnya dengan bahasa Turki modern-yang membuatnya lebih mudah untuk dipahami. Saya menjawabnya dengan menyebtttkan kesusahan dalam suara a dalam bahasa Inggris, father, fat, fate, shape; dan u dalam put, but, penyebutan kata right dan write, dan bentuk kata kerja sekarang dan lampau read. Banyak lagi contoh yang bisa saya sebutkan dari pengalaman kesusahan saya dalam mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa ketiga. Dia beralasan bahwa ketidakteraturan ini disebabkan oleh beberapa kata dan sejarah perkembangannya, tetapi dia lupa untuk melihat bahwa bahasa Inggris tidak bisa dipertanyakan keanehan-keanehannya, dan begitu juga sama dengan apa yang terjadi dalam bahasa Arab.

Di bawah ini saya beri contoh kata-kata yang secara random saya pilih (dan merupakan kata yang panjang lebar) dari perjanjian Inggris abad 17 Masehi, untuk menggambarkan perubahan ejaan yang terjadi dalam kurun waktu empat abad.

The Boy of Bilson: or A True Discovery of the late notorious Impostures of certaine Romish Priests in their pretended exorcisme, or expulsion of the Divell out of young boy, named William Perry, sonne of Thomas Perry Bilson, in the country of Stafford, Yeoman. Upon which occasion, hereunto is permitted A briefe Theological Discourse, by way of caution, for the more easie discerning of such Romish spirits; and inudging of their false pretensces, both in this and the like Practices.1

(Anak laki-laki Bilson: betul-betul penemuan seorang (yang sudah meninggal) yang terkenal dengan tukang tipu pendeta Romish dalam mantranya, atau pengusiran setan dari badan seorang anak bernama, Willian Perry, anak-laki-laki Thomas Perry Bilson di negara Safford, Yeoman. Dalam kejadian ini dibolehkan sedikit diskusi tentang teologi dengan hati-hati untuk memudahkan melihat roh Romish; dan meng­hukum kesalahannya, di dalam kasus ini atau kasus yang lainnya).

Ejaan ini mungkin bisa ditertawakan dengan ukuran ejaan sekarang, tetapi sebenarnya sesuai dengan standar ejaan Inggris pada abad 17 M..

Dalam beberapa bahasa, karakter tertentu memiliki dua fungsi; dalam bahasa Latin,2 huruf i dan u kedua-duanya berfungsi sebagai vokal dan kon­sonan, dengan fungsi konsonan i berbunyi seperti y dalam kata yes. Dalam beberapa teks konsonan i ditulis dengan j. Dalam Latin juga, huruf b jika diikuti dengan s maka berbunyi p (contohnya abstuli = apstuli), dan itu juga sama dengan b dalam bahasa Inggris.3 Menarik sekali, huruf j hanya muncul baru­baru saja (pada abad 16 atau 17 Masehi) lama setelah media masa cetak di­temukan.4 Dalam bahasa Jerman, kita dapatkan vokal yang diubah menjadi tanda.yang ada titik di atas (umlaut) contohnya a, o, u, yang asalriya dieja masing-masing ae, oe, ue,5 Huruf b bisa berbunyi b dalam kata ball (ketika permulaan) atau berbunyi p dalam kata tap (ketika diakhir huruf atau suku kata), sedangkan d bisa berbunyi d atau t. Huruf g bisa berubah-ubah menjadi enam bunyi yang berbeda menurut dialek lokal.

Fenomena yang sama terjadi dalam bahasa Arab. Beberapa suku me­nyebut kata (hatta) dengan (‘atta), dan (sirat) dengan (sirat), dan sebagainya, dan hal ini disebabkan oleh banyak perbedaan dalam bacaan yang terkenal. Sama juga huruf mempunyai dua fungsi sebagai konsonan dan vokal, sebagai mana dalam bahasa Latin. Masalahnya adalah bagaimana penulis dan penyalin Arab dulu (kuno) menggunakan tiga huruf ini memerlukan perhatian yang khusus. Metode mereka, walaupun kelihatan rada memusingkan bagi kita saat ini, namun cukup jelas bagi mereka. Dari pen­dahuluan singkat ini, sekarang kita hendak selidiki sistem ortografi (ejaan Arab) pada zaman awal Islam.

1. Gaya Tulisan pada Zaman Nabi Muhammad %%%

Di Madinah Nabi Muhammad mempunyai penulis yang banyak ber­asal dari beberapa suku dan tempat, yang sudah terbiasa dengan dialek dan ejaan yang berbeda-beda menurut adat masing-masing. Contohnya, Yahya berkata bahwa dia melihat surat yang dibacakan oleh Nabi Muhammad saw kepada Khalid bin Sa’id bin al-’As yang memuat beberapa kejanggalan:. (kana) ditulis (kawana), dan (hatta) dieja 6 Dokumentasi yang lain, yang diserahkan Nabi saw. kepada Razin bin Anas as-Sulami, juga dieja dengan 7 Menggunakan dua y ( ) yang sudah lama berbeda dengan satu y, didapatkan dalam kata 8 dan (sudah jelas tidak menggunakan titik) pada surat-surat Nabi saw.9 Satu dokumentasi abad 3 hijrah meng­gambarkan beberapa surat dalam banyak cara.10Banyak sekali bukti-bukti mengenai perbedaan dalam gaya tulisan pada zaman permulaan Islam.

2. Kajian tentang Ortografi (EJaan ) Mushaf ‘Uthmani

Telah banyak buku yang menyinggung tentang ejaan yang janggal dalam Mushaf ‘Uthmani, dengan lebih detail lagi khususnya dalam menganalisis contoh-contoh ejaan yang menyeleweng. Di antara beberapa bab dalam al­Muqni `, contohnya di bawah judul (heading), “Examination of Mushaf spellings where (vowels are) dropped or listed (Meneliti ejaan Mushaf Yang Vokalnya Dibuang Atau Disebutkan). (Sub judul): Examination of words where alif( I ) is dropped for abbreviation (Meneliti kata-kata yang ada alifnya dibuang untuk tujuan singkatan).” Ad-Dani mengutip Nafi bin Abi Nu’aim (70­167 Hijrah), pengarang asli, kemudian membuat daftar ayat-ayat yang di dalamnya ada alifyang dibaca tapi tidak ditulis:

Surah: ayat
Ejaan yang digunakan dalam

Mushaf ‘Uthman
Bacaan yang sebenarnya

2:9

2:51

20:80

Saya pilih hanya tiga contoh ini saja, jika tidak demikian, dalam bukunya dapat menghabiskan lebih dari dua puluh halaman. Lebih dari itu, alif dalam Mushaf ‘Uthmani semuanya tidak terdapat pada kata dan (semuanya 190 tempat), kecuali dalam ayat 41:21 di mana ejaannya adalah .11 Membaca Mushaf mana saja yang diterbitkan oleh Kompleks Percetakan Raja Fahd di Madinah, saya telah memeriksa satu contoh ejaan yang janggal, dan sementara ini, dalam penelitian saya, saya tidak mendapatkan ejaan yang bertentangan dengan hasil tabulasi Nafi’.12 Dua vokal lagi yang bersamaan dengan huruf hamza ( ) juga menggambarkan kecenderungan perubahan yang dinamis yang tidak hanya terdapat pada Mushaf ‘Uthmani. Beberapa sahabat yang menulis naskah milik pribadi banyak yang memasuk­kan ejaan janggal yang kemungkinan disebabkan oleh perbedaan wilayah dalam masalah ejaan. Di sini ada dua contoh;

‘Abdul-Fattah ash-Shalabi menemukan manuskrip AI-Qur’an klasik (tua) yang penulisnya menggunakan dua ejaan yang berbeda pada kata (contohnya dan ) di halaman yang sama.13

Dalam koleksi perpustakaan Raza, Rampur, India, ada sebuah Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi yang dinisbatkan kepunyaan ‘All bin Abi Talib,. Kata juga ditulis dengan , dan ditulis dengan Untuk lebih jelas, saya perlihatkan contoh seperti di bawah ini.14

Gambar 10.1: sebuah Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi yang dinisbatkan kepunyaan ‘All bin Abu Talib,. Kata ditulis dengan (Baris ke tujuh dari atas) dan kata juga ditulis dengan (baris keempat dari bawah). Penghargaan kepada Perpustakaan Raza,Rampur, India. Rampur

Malik bin Dinar melaporkan bahwa ‘Ikrima membaca ayat 17:107 dengan fas’al ( ), walaupun tertulis fsl ( ) Malik menenangkan akan hal ini dengan menyatakan bahwa itu sama dengan bacaan qal ( ) ketika kata itu ditulis ql ( )15 yang merupakan kependekan umum di Mushaf Hejazi.16 Dengan adanya bacaan yang berdasarkan tradisi belajar secara lisan, adanya kekurangan seperti ini tidak akan menyebabkan kerusakan teks Kitab Suci. Kalau seorang guru membaca (baca dengan qalu, alif di akhir tidak dise­butkan karena ada peraturan grammar tertentu) dan murid itu menuliskannya (mengikuti standard dia sendiri) tetapi membacakannya dengan betul seperti , lalu ejaan vokal yang janggal tidak mengandung pengaruh yang negatif. Ibn Abi Dawud meriwayatkan kejadian di bawah ini,

” Yazid al-Farsi berkata, “‘Abaidullah bin Ziyad menambahkan dua ribu huruf ( ) dalam Mushaf Ketika al-Hajjaj bin Yusuf datang dari Basra dan diberi tahu tentang ini, dia meminta siapa orangnya yang mem­beritahukan tentang perubahan yang dibuat `Ubaidullah. Mereka men­jawab Yazid al-Farsi. Oleh karena itu, al-Hajjaj memanggil saya; Lalu saya pergi menemuinya dan saya tidak ragu bahwa dia akan mem­bunuhku. Dia menanyakan mengapa ‘Ubaidullah minta untuk menambah dua ribu huruf ini. Saya menjawab: Mudah-mudahan Allah memelihara anda ke jalan yang lurus; dia telah dibesarkan di Masyarakat tingkat bawah Basra (contohnya jauh dari lingkungan terpelajar, di suatu daerah di mana orang tidak merasakan citra kesusastraan dan keindahan). Ini yang saya sayangkan, karena al-Hajjaj berkata bahwa saya berbata benar dan silakan tinggalkan saya. Apa yang diinginkan oleh ‘Ubaidullah adalah hanyalah ingin meletakkan dasar ukuran ejaan dalam Mushafnya, menulis kembali kata-kata ( ) menjadi ( ) dan ( ) menjadi ( )

Seperti halnya perubahan tidak menyebabkan kehancuran teks melainkan justru menekankan beberapa huruf hidup (vowels) yang telah ditiadakan atau dibuang untuk penggunaan singkatan, al-Farsi meninggalkan persahabatan al­Hajjaj tanpa kesan negatif. Kembali merujuk kepada AI-Qur’an, kita menemukan bahwa kata-katal tercatat sebanyak 331 kali, sedangkan sebanyak 267 kali; jumlah seluruhnya ada 598 kata. Mengingat bahwa ‘Ubaidullah menambah ekstra dua alif di setiap ini maka mencapai sekitar 1,200 huruf ekstra. Jumlah dua ribu (sebagaimana disebutkan dalam riwayat itu) kemungkinan besar hanya kira-kira saja.

Riwayat Ibn Abi Dawud mengalami kekurangan dan isnadnya pun lemah18 menyebabkan banyak ilmuwan yang menolak. Tetapi jika ternyata ini juga betul, apa yang menjadikan `Ubaidullah salah dalam membuat naskah pribadi tak ada tujuan lain kecuali hendak menjadikannya sesuai dengan kaidah ejaan yang berlaku, lain tidak. Contoh lainnya, kita akan mengalihkan per­hatian pada mushaf salinan Ibn al-Bawwab yang dibuat pada tahun 391 Hijrah / 1000 Masehi, yang saya telah bandingkan dengan mushaf cetakan Madinah pada tahun 1407 Hijrah/ 1987 Masehi.

Di awal Surah al-Baqarah saja ada empat contoh ini. Kebiasaan sebagian besar Mushaf yang dicetak sekarang mengikuti sistem ejaan Mushaf ‘Uthmani; kata (Malik) contohnya ditulis (malik) mengikuti ejaan (ortografi) ‘Uthmani, walaupun alif kecil diletakkan pada mim untuk menjelaskan penyebutan bagi pembaca zaman sekarang. Sama juga dengan beberapa ayat yang masih mengeja dengan 20 menunjukkan bahwa kependekan ini adalah berlaku pada zaman `Uthman dan dia juga mengizinkan untuk memasukkan kedua-duanya.

Penerbit modern, dengan mendasarkan naskahnya kepada ortografi Mushaf ‘Uthmani yang resmi, telah menyediakan rujukan yang banyak tentang ketentuan ejaan yang berlaku pada zaman awal Islam (abad pertama hijrah). Ini sesungguhnya adalah merupakan pilihan terbaik bagi semua penerbit, di mana mereka memberikan manfaat untuk media masa cetak dan merupakan sifat pendidikan modern yang telah diberi ukuran serupa. Bagaimanapun keinginan untuk menyimpang dari ejaan Mushaf ‘Uthmani bukan hal baru lagi. Imam Malik (w. 179 H.) telah dihukum dua belas abad yang lalu karena fatwanya ( ) tentang apakah seseorang boleh menulis Mushaf dengan menggunakan kaidah ejaan (yang digunakan akhir-akhir ini); dia menolak pendapat itu, dan hanya menyetujuinya untuk anak sekolah saja. Di tempat lain juga ad-Dani (w. 444 H.) menyatakan bahwa semua ilmuwan dari sejak zaman Malik sampai zamannya sepakat dengan keyakinan yang sama.21

Imam Malik telah ditanya tentang huruf hidup (vowels) tertentu yang tidak dibaca di dalam Mushaf: dia tidak mau menghilangkannya. Abu `Amr (ad-Dani) memberi komentar bahwa ini merujuk pada tambahan huruf hidup yang tidak dibaca; waw dan alif, seperti waw dalam , alif dalam …, dan juga ya’ dalam … .” Ini menunjukkan bahwa imam Malik menentang untuk mengubah ejaan Mushaf secara resmi; sedangkan penulis Al-Qur’an pada zaman itu telah memilih memasukkan kaidah ejaan yang berbeda dalam naskah pribadi mereka, dalam pikirannya, ejaan ketentuan ini tidak pernah diterima sebelunmya atau menyetujui ortografi Mushaf ‘Uthmani.

1. Peter Milward, Religious Controversies of the Jacobean Age( A Survey of Printed Sources), The Scholar Press, London, 1978. him. 197. Ini merupakan sebuah judul buku yang di terbitkan pada tahun 1622 M. Saya italic-kan kata-kata yang ejaannya berbcda dari standard ejaan sekarang. Perlu dicatat bahwa “judging” ditulis dengan “i” bukan”j”.

2. F.L. Moreland dan R.M. Fleischer, Latin,: An Intensive Course, hlm. 1

3. Ibid, hlm. 2
4. “Hos was Jesus Spelled?”, Biblical Archaeology Review, May/June 2000, vol. 26, no. 3, hlm. 66.

5.Harper’s Moderen German Grammar, London, 1960, hlm. Ix-xvi.

6. Untuk lebih detail, lihat Abi Dawnd, al-Masahif, hlm. 104.
7. Ibid, hlm. 105.
8. Qur’an 51:47.
9. M. Hamidullah, Six Originaux Letters Du Prophete De L’Islam, hlm. 127-133.

10. Lihat pada diskusi tentang manuskrip Gharib al-Hadith dalam buku ini, hlm. 146-7.

11. Ad-Dani, al-Muqni’, hlm. 20-27.
12. Naskah yang saya gunakan, naskah yang sudah terkenal di seluruh dunia, tidak diragukan lagi salah satu percetakan Mushaf yang sangat berkualitas. Oleh karena itu, saya mengucapkan selamat dan terima kasih kepada pusat percetakan ini.

13. Ash-Shalabi, Rasm al-Mushaf, hLm. 72-73. Di dalam kasus yang sama, Mushaf ‘Alqamah (w 60 H. / 679 M., dibawakan oleh IbrahIm an-Nakha`i (w 96 H.), mengeja alif kedua-duanya dalam bentuk tradisional dan dalam bentuk huruf ya’ – artinya kata-kata tertentu dengan alif bisa mempunyai dua bentuk yang saling bergantian (contoh : dan ). Saya juga menemukan folio Mushaf abad pertama hijrah yang di dalam halaman yang sama, kata yang sama ditulis dalam dua cara.

14. Untuk contoh halaman lain dari Mushaf yang sama, lihat DR. W.H. Siddiqui dan A.S. Islahi, Hindi-Urdu Catalogue of the exhibitionheld of the celebration of the 50th Anniversary of India’s Independence dan 200 years of Rampur Raza Library, 200, Papan gambar no. 1.

15. Lihat Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 105 (teks yang dicetak sudah dibetulkan). Guru dan murid terikat untuk mengajar, belajar dan membaca secara lisan menurut riwayat (yang langsung sampai ke Nabi r) dan dalam batasan teks konsonan Mushaf ‘Uthmani. Kedua-dua baeaan Malik bin Dinar adalah betul pada teks konsonan dan hadith yang menjadi dasar bacaannya.

16. Untuk contoh lihat F. Deroche dan S.N. Noseda, Sources de la transmission manuscrite du texte coranique, Les manuscripts de’style higazi, volume 2, tome 1, Le manuscript Or. 2165 (f. 1 A 61) de la British Library Lesa, 2001, hlm. 54a.
17. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 117. Teks yang dicetak sudah dibetulkan.

18. Rantai saksi-saksi yang terlibat dalam penyebaran kejadian ini; untuk diskusi yang lebih detail lagi dalam sistem isnad secara umum, lihat bab 12.

19. Kata-kata ini, didalam Mushaf yang diterbitkan, mengandung alif kecil untuk membantu pembacaan.
20. Lihat contohnya Qur’an 23:112, 23:114 dan 4324.

21. Ad-Dani, al-Muqni`, hlm. 19. beberapa ilmuwan menyarankan bahwa Mushaf harus ditulis berdasarkan kepada ejaan yang terpakai pada periodenya. Salah satu ilmuwan itu adalah”22 bin ‘abdus-Salam (az-Zarakhshi, Burhan, i: 379). Tulis yang lain tentang masalah ini termasuk: Ibn khaldun, yang menginginkan perubahan (Shatabi, Rasm al-Mushaf, hlm. 119); Hifni Nasif, yang menentang perubahan (ibid, hlm. 118). Majelis Fatwa al-Azhar, yang memutuskan untuk tetap dengan sistem ejaan lama (ibid, him 118); Jumhur Ulama panitia Saudi Arabia, yang memutuskan pada tahun 1979 untuk meneruskan sistem lama; dan sama juga kesepakatan telah dicapai di Liga Dunia Muslim (al-Finaisan (peny.), al-Badi`, Pendahuluan, hlm. 41).

22. Ad-Dani, al-Muqni`, hlm. 36.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: