Memuat berita yang memihak kepada ISLAM

Februari 4, 2007

SEJARAH ILMU TULISAN ARAB KUNO

Filed under: Prof. Dr. M.M al A'zami — iaaj @ 5:12 am

Pembaca yang merasa kehausan ilmu mungkin bakal bertanya mengapa tulisan Arab kuno (palaeography) dan ejaan (orthography), yang tampaknya tidak ada kaitan dengan topik bahasan dapat menyelusup ke dalam buku ini? Jawaban akan semakin dapat dirasakan sekiranya kita kupas terlebih dulu definisi palaeography dan orthography. palaeography biasanya ditujukan pada kajian dokumen zaman dulu, walaupun saya gunakan di sini dalam artian lebih terbatas: kajian tentang skrip sebuah bahasa dengan fokus penekanan pada ejaan konvensional. Kebanyakan teori yang bergulir tentang palaeography Arab, berkaitan dengan asal-usul dan perkembangannya yang berakar pada kitab Injil; di mana saya hanya akan membahas bagian yang menarik dan tidak akan memberi peluang terlalu luas dalam buku ini. Tetapi teori ini mempunyai pengaruh kepada keutuhan Al-Qur’an semenjak mereka menyatakan bahwa bahasa Arab tidak mempunyai huruf alfabet di zaman Nabi Muhammad saw. (Mingana) bahwa perbedaan bacaan pada ayat-ayat tertentu – disebabkan kesalahan pada sistem ilmu tulisan Arab kuno palaeography (Goldziher); dan bahwasanya naskah Al-Qur’an itu ditulis dalam skrip Kufi pada abad kedua dan ketiga hijrah, tidak ada pada abad pertama hijrah (Gruendler). Guna menangkis argumentasi ini kita perlu membuktikan bahwa Kitab Suci Al­Qur’an masih tetap tak ternodai

1. Latar Belakang Sejarah Karakter Bahasa Arab

Asal usul karakter bahasa Arab sifatnya masih spekulatif, dan tidaklah mengejutkan sama sekali tatkala para Orientalis membuat rekayasa teori tentang masalah ini. Hal yang sangat menyedihkan teori mereka sangat rapuh dan tidak tahan uji. Beatrice Gruendler, pengarang sebuah kajian tentang perkembangan skrip bahasa Arab, menyatakan bahwa semua skrip Arab berasal dari alfabet Funicia, karena Bahasa Arab tampaknya yang paling jauh terisolasi. Perubahan drastis dalam susunan spatial memberi isyarat bahwa kemungkinan skrip bahasa Nabatean atau Syriak menjadi perantara perkem­bangan skrip bahasa Arab. Theodor Noldeke, pada tahun 1865, mengakui bahwa skrip Nabatean memberi pengakuan terhadap yang pertama me­mengaruhi perkembangan skrip Arab Kufi; setelah itu banyak orang yang mengikuti pendapatnya, di antaranya M.A. Levy, M. de Vogue, J. Karabacek dan J. Euting. Tetapi setengah abad kemudian kesepakatan pendapat tersebut mulai pudar ketika J. Starcky membuat teori bahwa bahasa Arab berasal dari tulis­an bahasa Syriak yang berbentuk meruncing (Syriac Cursive).1 Di lain pihak, kita lihat teori Y. Khalil an-Nami mengatakan bahwa, “Hijaz adalah merupa­kan tempat kelahiran evolusi tulisan (script) Arab bagian Utara, bukan daerah­daerah lain, termasuk Hirah.”2 Mengenai sebab mengapa Gruendler tak peduli dengan teori ketiga, sepenuhnya hal ini saya serahkan pada untuk menilainya.

Di antara misi Orientalis ada beberapa yang beranggapan bahwa umat Islam bangsa Arab tidak memiliki sistem tulisan sejak zaman kehidupan Nabi Muhammad saw.. Kata-kata Professor Mingana menyebut,

Ketololan kami tentang bahasa Arab pada awal perkembangannya sama seperti ketidaktahuan kita secara pasti apakah memiliki huruf alfabet sendiri sewaktu di Mekah maupun Madinah. Jika bentuk tulisan itu menjelma di dua tempat (Mekkah dan Madinah), itu mesti memiliki kesamaan dengan karakter Estrangelo (contohnya Syriak) atau Hibru.3

Nabia Abbott kemudian secara partial lebih unggul dalam hipotesis ini,

Studi tentang manuskrip Arab Kristen menunjukkan fakta yang menarik bahwa beberapa manuskrip kuno ini lebih menunjukkan pengaruh karak­ter Estrangelo, walaupun tidak secara langsung melalui orang Nestorian, dari segi bentuk skripnya yang cenderung lebih mirip. Manuskrip yang lain… menunjukkan pengaruh Jacobit serto. Kemudian perbandingan antara beberapa manuskrip-manuskrip Arab Kristen kuno dengan manuskrip Al­Qur’ an Kufi kontemporer menunjukkan adanya beberapa kesamaan skrip.4

Bagaimana pun tidak semuanya seperti yang terlihat. Menurut Abbott, “Manuskrip Arab Kristen tertua adalah dari tahun 876,”5 yakni 264 hijrah. `Awwad bahkan menyebut adanya manuskrip yang lebih awal lagi, yang ditulis pada tahun 253 H./867 M.6 Manuskrip Arab Kristen yang tertua ditemukan pada kedua pertengahan abad ketiga hijrah. Secara literal, ada ratusan kalau tidak ribuan manuskrip Al-Qur’ an yang terdapat pada periode ini; perban­dingan antara manuskrip yang ratusan ini dengan satu atau dua contoh Estrangelo (Syriak) dan akhirnya beranggapan bahwa Syriak memengaruhi AI­Qur’an benar-benar merupakan ilmu miskin kalau ingin menyebutnya sebagai ilmu. Di atas segalanya, saya ingin menambahkan bahwa skrip Syriak tahun 250 hijrah (kecil tajam dan tidak lurus ke depan) secara umum tidak sama dengan semua huruf Arab pada periode itu yang cenderung bengkok dengan satu garis lurus. Seseorang mungkin bertanya kenapa Abbott menghindari peng­gunaan dokumentasi Arab dan manuskrip Al-Qur’an yang muncul pada abad pertama hijrah yang relatif banyak membanjir di rak-rak buku perpustakaan.

Kita tinggalkan Syriak, budaya lain yang dianggap telah memengaruhi tulisan Arab kuno palaeography adalah Nabatean. Menurut Dr. Jum’a, telaah kajian menyeluruh yang dilakukan oleh para ilmuwan yang memiliki otoritas, membuktikan bahwa bahasa Arab telah mengambil tulisan mereka dari Nabatean; di dalarn masalah ini dia mengutip sejumlah ilmuwan seperti Abbott dan Wilfinson.7 Dalam menganalisis sebuah tulisan tangan, mata uang, dan manuskrip Muslim yang tertua, dan dibandingkan dengan tulisan-tulisan Arab sebelum Islam, kemudian setelah itu membandingkannya dengan tulisan Nabatean, Abbott menyimpulkan bahwa skrip Arab yang digunakan di awal permulaan Islam adalah pakembangan tulisan Arab sebelum Islam yang secara langsung merupakan pengaruh dari perkembangan skrip Nabatean Aramaik yang muncul pada awal permulaan abad masehi.8

Gambar 9.1: Route penyebaran awal skrip Arab Utara yang dimungkinkan oleh Abbott. Sumber: Abbott, The rise of the North Arabic Script, hlm. 3.

Menyantap semua fakta yang ada tampaknya terasa terlalu banyak dalam memenuhi kepuasan para ilmuwan, Disadan mau pun tidak, teori-teori yang ada dibangun berdasarkan kepada penilaian yang sangat subjektif dan sikap pandangan saling memusuhi pada keberhasilan bahasa Arab Ilmuwan Muslim yang matianatian mcmbela pcndapat xpcni ini hanyalah mengikuti teori keilmuwan Barat tanpa memiliki kebebasan analisis. Guna memberi klarifikasi pendapat saya, gambar 9:11 menunjukkan sebagian peta Abbott dalam menjelas­kan inskripsi (tulisan tangan) yang ada.

Inilah tempat lima inskripsi dalam buku Abbott, papan gambar 1. yang menjadi dasar kesimpulan skrip Arab berasal dari skrip Nabatean:

1.
Inskripsi Nabatean di atas batu Fihc Umm al-lim:il, tahun 250 M..9

2.
Inskripsi Arab Imru’ al-Kais, Namarah, 32% M.

3.
Inskripsi Arab dari Zabad, 512 M

4.
Inskripsi Arab di Harran, 568 M

5.
Inskripsi Arab di Umm al-Jimal, abad ke 6.

Di sini kita hanya memiliki satu inskripsi yang disebut Nabateean (dari Umm al-Jimal) sedangkan empat lagi dalarn tulisan Arab, termasuk inskripsi bahasa Arab yang satu lagi di tempat yang sama. Salah satu inskripsi Arab terdapat di Zabad, sangat dekat ke Allepo di sebelah utam Suriah; satu lagi di Namarah, tznggara Damaskus; ketiga dan keempat dari sebzlah utara Ma’an, ketika menjadi ibu kota Nabatean. Jadi bagaimana inskripsi Arab bisa ter­bentang dengan sendirinya dari utara Suriah rnasuk ke Saudi Arabia, me­motong terus ke tanah Nabatean sendiri?.. Saya ragu bahwa di sana ada bahasa yang diketahui oleh pemakainya sebagai bahasa Nabatean, sebagaimana saya akan tunjukkan kemudian.

2. Studi Dokumentasi dan Inskripsi Arab Kuno

i. Garis Yang Samar Antera Bahasa Nabatean dan Inskripsi Arab.

Di antara ilmuwan terdapat perbedaan pandangan secara umum tentang apa yang menjadi tulisan Nabatean atau inskripsi Arab. Ada sebagian ilmuwan yang menyebutkan inskripsi yang terakhir sebagai inskripsi Nabatean hanya melihat teman kolega yang merevisinya sebagai inskripsi Arab, dan contoh di bawah akan dapat memberi gambaran tentang hal ini.

Inskripsi dua bahasa Nabatean dan Greek di atas batu Fihr, Umm al-1ima1, bertanggalkan 250 M. Cantincau, Abbott dan Gruendler semua mengikuti pendapat Linmann, yang menyebutnya sebagai inskripsi Nabatean.10

Gambar 9.2: Inskripsi dua bahasa Greek-Aramaik di atas batu Fihr, Umm al Jimal. 250 masehi. Sumber Cantineau, Le Nabateen, ii :25.

Batu nisan Raqush di Mada’in Saleh, bertanggalkan 162 tahun setelah Bosra (sesuai dengan tahun 267 M.). Kedua-duanya cantineau dan Gmendler mencantumkan srbagai “teks Nabatean”,11 walaupun akhimya memberi pengakuan, “Teks itu sangat bemilai untuk para peneliti Arab. O’Conner memaparkannya sebagai gabungan nyrntrik antara Nabatean dan Arab …. Blau memberi label sebagai perbatasan dialek dan Diem menganggap sebagai bagian dari Nabatean-Hejazi”.12 Dalam tulisan mereka 1989, Healy dan Smith dengan senang menyebut sebagai dukumcntasi Arab tertua.13

Gambar 9.3: Batu Raqush yang telah mengalami reinterpretasi baru-baru ini, Inskripsi Arab tertua, kira-kira tahun 267 M sama dengan bacaan Healey dan Smith (baris demi baris). Perlu dicatat terdapat kesimpulan Thamudi yang ditulis secara vertical ke kanan. Sumber al-Atlal, vol. xii, papan gambar 46 dan hlm. 105 (bagian bahasa Arab)

Salah satu nuktah penting adalah bahwa inskripsi ini memuat tanda titik di atas huruf dhal, ra’ dan shin.

Inskripsi Imru’ al-Kais di Namarah (100 km ke arah barat selatan Damas­kus), tercatat 223 tahun setelah Bosra (c. 328 M.). Sedangkan Gruendler menganggapnya sebagai inskripsi Nabatean.14 Yang lain termasuk Cantineau dan Abbott memperlakukannya sebagai inskripsi Arab.15

Gambar 9.4: Inskripsi Arabnya Imru’ al-Kais, Namarah, sesuai dengan pada tahun 328 Masehi, Sumber: Cantineau, Le Nabateen, ii: 49.

Dari sample ini kita berkeyakinan bahwa menentukan pembagian garis lintas pemisah antara tulisan Arab dan apa “yang disebut.” inskripsi Nabatean sangat kabur; kini dengan adanya reinterpretasi terhadap batu nisan Raqush sebagai teks Arab, la telah menjelma sebagai inskripsi Arab tertua. Persamaan yang jelas di antara tiga inskripsi ini adalah karena skripnya. Itu semua adalah Inskripsi Nabatean.

ii. Dengan Bahasa Apa Orang Nabatean Berbicara?

Di besar di Mekah sejak dini dari zaman kanak-kanaknya, Isma’il, putra tertua Ibrahim, lahir dari kalangan suku Jurhum dan menikah dua kali dari kalangan mereka. Suku ini berbicara Bahasa Arab,16 dan demikian pula tak diragukan lagi Isma’il berbicara dengan bahasa yang sama. Bahasa Arab Jurhum kemungkinan kehilangan daya tarik lalu mereka memolesnya dengan bahasa Arab Quraish yang mendahuluinya hampir sekitar dua ribu tahun; Ibn Ushta mencatat pernyataan Ibn ‘Abbas bahwa yang pertama-tama membuat aturan grammar dan alfabet bahasa Arab tak ada orang lain melainkan Isma’il.17 Allah kemudian menugaskan Isma’il sebagai Nabi dan Rasul,18 untuk mengajak umatnya menyembah Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat kepada orang miskin.19 Oleh karena itu, Allah mengutus rasul dalam bahasa kaumnya sendiri,20 maka Isma’il juga sudah pasti berdakwah dalam bahasa Arab. Keturunannya diakui bahwa Nabi Isma’il diberi karunia dua belas putra,21 di antaranya Nebajoth/Nabat: dilahirkan dan dididik di sekitar Jazirah Arab yang semestinya mereka juga menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Putra-putranya memelihara risalah ayah dengan menggunakan skrip Arab; sudah pasti mereka tidak mengubah skrip apa pun yang dipakai di Palestina (tanah air Ibrahim), semenjak dua generasi ini sudah berada dan hidup di Saudi Arabia. Ketika Nabat kemudian berhijrah ke arah utara, dia semestinya membawa alfabet dan bahasa Arab bersamanya. Dan keturunan inilah yang akhirnya mendirikan dinasti Nabatean (600 Sebelum Masehi-50 Masehi).22

Mengomentari terhadap keabsahan beberapa karakter bahasa Arab yang tidak terwakili dalam bahasa Armaik, Gruendler menyatakan, “Karena para penulis teks Nabatean berbicara bahasa Arab, dan adanya hubungan mesra di antara kedua-dua bahasa (penulis-penulis ini) dapat menemukan persamaan bahasa Nabatean dalam ejaan kata-kata Arab (orthography) yang kedengar­annya janggal.”23 Secara langsung dinyatakan bahwa skrip dan bahasa Nabatean sebenarnya adalah bentuk bahasa Arab.

Jika Orang Nabatean berbicara dalam bahasa Arab, lantas siapa yang memberinya nama bahasa Nabatean? Apakah ada bukti bahwa mereka me­nyebut bahasa mereka sebagai bahasa Nabatean? Atau mungkin ini diambil dari kecenderungan yang sama dalam memberi label kepada umat Islam sebagai “Muhamaddan (pengikut Muhammad),” Islam sebagai “Muham­madanism (ajaran Muhammad),” dan Al-Qur’an sebagai “Turkish Bible (Bible Orang Turki)”? Jika apa yang disebut skrip Nabatean sudah dinyatakan sebagai “Arabic (bahasa Arab)” atau “Nabatean Arabic” (sebagaimana kita kadang­kadang berbicara dalam bahasa “Arab Mesir” atau “Inggris Amerika”), lalu semua kajian harus mengambil giliran yang berbeda dan diharapkan akan lebih tepat lagi untuk mencapai tujuan itu. Bahasa Arab dan tulisannya dalam bentuk primitifnya, itulah yang melahirkan bahasa Nabatean dan kemungkinan besar muncul sebelum bahasa Syriak.

iii. Bahasa Arab Kuno Memiliki Alphabet yang Jelas

Mengalihkan perhatian kita terhadap hipotesis Dr. Mingana yang me­nuduh bahwa bahasa Arab kuno tidak mempunyai alfabet, saya akan men­jelaskan beberapa perkembangan inskripsi tingkat tinggi yang membuktikan fakta sebaliknya. Ada beberapa inskripsi Arab dari abad 6 masehi yang menyerupai tulisan Arab (palaeography) yang digunakan pada abad pertama hijrah/abad ketujuh masehi; Contoh-contoh yang saya berikan akan mem­perlihatkan kemajuan mulai dari sini sampai pada zaman Islam.

Inskripsi tiga bahasa sebelum Islam dalam bahasa Arab, Yunani, dan Syriak di Zabad, Suriah Utara, bertanggalkan 512 M.24

Gambar 9.5: Sebuah inskripsi tiga bahasa (hanya Arab yang ditunjukkan) sebelum Islam di Zabad, 512 M. Sumber: al-Munaggib, Etude, hlm. 21.

Inskripsi bahasa Arab lainnya sebelum Islam di Jabal Asis, 150 km ke tenggara Damaskus. Ini bertepatan dengan kira-kira tahun 528 M.25

Gambar 9.6: Sebuah inskripsi Arab lainnya sebelum Islam di Jabal Asis, 528M. Sumber: Hamidullah, Six Originaux, hlm. 60.

Han-an, Inskripsi bahasa Arab sebelum Islam, kira-kira tahun 568 M.26

Gambar 9.7: Inskripsi Arab sebelum Islam di Harran, kira-kira tahun 568 Masehi. Sumber: al-Munaggid, Etudes, hlm. 21.

Inskripsi Islam di atas Jabal Sala’, Madinah. Menurut Hamidullah ini kemungkinan besar tertulis dalam ukiran pada waktu perang Khandaq, kira-kira tahun 5 Hijrah/626 Masehi.27

Gambar 9.8: Inskripsi Islam kuno di atas Jabal Sala ‘, kira-kira tahun 5 Hijrah. Sumber: Hamidullah, Six Originaux, hlm. 64.

Surat Nabi untuk al-Mundhir bin Sawa,28 Gurbenur al-Ahsa’, kira-kira tahun 8-9 hijrah. Lihat gambar 9.9.

Surat Nabi saw. untuk Hiraql (Heraclius),29 Raja Byzantin. Lihat gambar 9.10.

Ini cukup untuk membantah pernyataan Rev Mingana tentang alfabet bahasa Arab kuno.

Gambar 9.9: Surat Nabi untuk al-Mundhir (perlu dicatat segel Nabi di sebelah kiri bawah). Diterbitkan dengan izin Majalah Aksyion Turki

Gambar 9.10: Surat Nabi Muhammad untuk Kiraql, Raja Byzantin, Sumber Kamidullah, Six Originaux, hlm. 149.

iv. Kemunculan Beberapa Skrip dan Masalah Penanggalan Mushaf Kufi

Terbentang dari Azerbaijan dan Armenia di sebelah utara sampai ke Yaman di sebelah Selatan, dari Libya dan Mesir dari sebelah barat sampai Iran di sebelah timur, wilayah teritorial negara Islam menerima hubungan komu­nikasi dari pemerintahan pusat Madinah dengan perantaraan bahasa Arab.30 Perubahan yang cepat pada skrip Arab seperti kita jumpai karakter garis tajam dan bulat tersambung (seperti tidak lurus) berkembang bersama dengan perkembangan skrip Hejazi pada tingkat awalnya. Seperti contoh, batu al-Hejri (Gambar 9.11) tahun 31 hijrah, yang dikelompokkan oleh beberapa ilmuwan sebagai skrip Kufi31 (garis tajam) dan papyrus tahun 22 hijrah (disimpan di perpustakaan Nasional Austria, Gambar 10.3) dalam bentuk bulat bersambung. Masalah skrip Arab ini sangat luas dan di luar pembahasan ini, tetapi sebagai­mana sebagian Orientalis telah membuat orang bingung tentang Al-Qur’an yang ditulis dalam skrip Kufi, maka saya akan memberikan contoh tertentu tentang skrip ini.

Batu nisan dari Aswan (Mesir Selatan) dengan inskripsi tahun 31 H.32 Prof. Ahmad menganggap sebagai inskripsi Kufi yang tertua.33

Gambar 9.11: Batu tulis di Mesir Selatan, tahun 31 H. Sumber: Hamidullah, Six originaux, hlm. 69.

Inskripsi dalam skrip Kufi dekat Ta’ if (sebelah timur kota Mekah), menuliskan doa, tulisan tahun 40 H.34

Gambar 9.12: Inskripsi )(01 -yang menarik, tahun 40 H., dengan bagan asli. Sumber: Al-Atlal, vol. l, Papan 49. Dicetak kembali dengan izin mereka.

Inskripsi ini mungkin bisa diterjemahkan seperti ini, “Rahmat dan Barakah Allah dilimpahkan kepada ‘Abdur-Rahman bin Khalid bin. Al­’As, ditulis pada tahun 40 hijrah.”

Dam (bendungan) Mu’awiyyah dekat Ta’if dengan inskripsi Kufi yang tidak dihiasi,35 tahun 58 H.36

Ayat Al-Qur’an dalam skrip Kufi tahun 80 H. ditemukan di dekat Mekah.37

Gambar 9.13: Ayat AI-Qur’an da/am skrip Kufi tahun 80 hijrah, Sumber: ar-Rashid, kitabat Islamiyyah, hlm. 160.

Satu inskripsi dekat Mekah berdasarkan pada ayat Al-Qur’an38 dalam skrip Kufi tahun 84 Hijrah.39

Gambar 9.14: Inskripsi Kufi yang cantik, tahun 84 H. Sumber: Ar-Rashid, Kitabat Islamiyyah, hlm. 26.

Empat contoh tadi (gambar 9.11 – 9.14) berikut Iainnya40 memberi penegasan bahwa walaupun pada abad pertama hijrah, skrip Kufi telah mendapat tempat di seluruh negara Muslim (Mesir, Hejaz, Syria, Irak dst.). Inskripsi ini bertentangan dengan Gruendler, yang menyatakan bahwa semua Mushaf Kufi muncul pada abad kedua dan ketiga hijrah.41 Pada pertengahan abad pertama, slcrip ini sudah terkenal dan dipakai di seluruh dunia Islam, khususnya dalam uang logam,42 dan tidak masuk akal kenapa harus menunggu satu abad atau lebih sebelum digunakan dalam penulisan Mushaf Padahal, Mushaf Samarkand, yang dikatakan Mushaf ‘Uthmani (Pertengahan pertama abad pertama Hijrah) ditulis dalam skrip Kufi.

3. Kesimpulan

Batu-batu Arab banyak dihiasi beberapa contoh skrip Arab sejak per­tengahan abad ketiga hijrah. Beberapa aspek primitif, bahasa Arab kuno tidak pernah menunjukkan bentuk bahasa Arab Nabatean itu sendiri sedangkan akar sejarahnya sampai pada zaman Ibrahim dan Ismail yang ada sebelum Aramaik. Seperti bahasa lain, tulisan dan ejaan bahasa Arab (palaeography dan ortho­graphy) terus berkembang. Perluasan wilayah teritorial Muslim menyebabkan perkembangan beberapa skrip Arab seperti Hejazi, Kufi dan tulisan yang di­sambung, dengan karakteristiknya masing-masing. Tidak ada satu skrip yang mendominasi lainnya, dan tidak terbatas pada suatu tempat. Dengan beberapa contoh skrip Kufi yang diambil dari inskripsi abad pertama hijrah, kita bisa membantah teori Mushaf Kufi yang hanya ditujukan pada abad kedua dan ketiga hijrah.

1. Beatrice Gruendler, The Development of the Arabic Script, Scholars Press, Atlanta, Georgia, 1993, hlm. 1. Argumentasi Starcky telah ditolak dengan detail (ibid, hlm. 2).

2. Nabia Abbott, The Rise of the North Arabic Script and its Kur’anic Development, with a full Description of the Kur’an Manuscripts in the oriental Institute, The University of Chicago Press, Chicago, 1938, him. 6 catatan kaki 36.

3. Mingana, “Transmission of the Kuran”, The Moslem World, vol. 7 (1917), hlm. 412.
4. Nabia Abbott, The rise of the North Arabic Script, hlm. 20.

5. Ibid. hlm. 20, Cat. Kaki 20.

6. K. ‘awwad, Aqdamul-Makhtutat al-‘arabiyyah fi Maktabat al-‘Alam, Baghdad, 1982, hlm. 65.
7. Ibrahim Jum’a, Dirasatun fi Tatawwur al-Kitabat al-Kufiyyah, 1969, hlm. 17.
8. N. Abbott, The rise of thc North Arabic Script, hlm. 16.
9. Menarik sekali dalam halaman 4 Abbot menamakan inskripsi yang sama: (inakripsi Greek- Aramit) “a Greek-Armaic inscription at Umm al-Jimal”

10. J Cantincau, Lc Nabateen, Ono Zeller, Osnabruck 1978, u:25 (diterbitkan Wang cdisi [9301; N. Abbott, The Rise of the North Arabic Script, Gambar 11-11: lihat juga R. Gniendler, The Development of the Arabic Scnp4 hlm. 10.

11. J. Cantineau Le Nabateen, 11 38-39, Ciruendler, The Development of the Arabic Scrim hlm, 10. 12. Gruendler The Development ofrhe Arabic Script, hlm. 10.

13. Lihat J.F. Ficulry dan G.R. Smith, “Jaussen-Savignac 17-the Earliset Dated Arabic Document (AD. 276):, a!-Ailal (the Journal of Saudi Arabian Archaeology). wl. zu, 1410 (1989) hlm. 77 Pengarang menyebutkan bahwa inskrip ini telah diklasifikasikan sebagai Icks Aramuk 1 ibid, hlm. 771.

14. Gruendler, The development of the Arabic Script, hlrtz’. TI-12. Mengarang mengklaim bahwa itu “Teks tertua yang masih ada di dalam bahasa Arab, walaupun itu masih menggunakan karakter Nabatean.” (Ibid, hlm. 11).

15. Cantineau, Le Nabateen, ii: 49-50 (Dibawa “Textes Arabes Archaiques’); Abbott, The Rise of the North Arabic script, Gambar (I-2). Mengutip Healey dan Smith , “… Dari waktu penemuannya (teks Namarah) telah ditetapkan sebagai Inskripsi Arab tertua” (“Jaussen-Savignac 17 – The earliest Dated Arabic Document (A-D. 276),” , al-Atlal, xii: 82).

16. Lihat al-Bukhari, Sahih, al-Anbiya’, hadith no. 3364; lihat juga Ibn Qutaiba, al-Ma’arif, hlm. 34.
17. As-Suyuti, al-Itqan, iv: 145, Mengutip Ibn Ushta.

18. Qur’an 2:135; 3: 84.

19. Qur’an 19: 54-55.
20. Qur’an 14: 40

21. King James Version, Genesis 25:12-18.

22. Ada beberapa pendapat yang beda mengenai asal muasal Nabatean. Menurut pendapat

Jawad ‘ali, “Nabatean adalah Arab yang lebih dekat dengan suku Quraish dan Hejazi daripada suku Arab bagian selatan. Kedua-dua suku ini mempunyai tuhan yang sama dan skrip mereka mempunyai kesamaan dengan skrip yang digunakan oleh penulis-penulis terdahulu untuk menuliskan Al-Qur’an. (Suriah dan Nabatean budayanya berbeda, dan orang Nabatean tidak tinggal di Suriah tetapi yang sekarang dikenal Jordan). Menurut Ahli sejarah, Nebajoth adalah Nebat atau Nabatean, anak tertua Isma’il. Fakta inilah yang menyebabkan Jawad ‘All menyimpulkan demikian. (Jawad ‘Ali, al­Mufassal fi Tarikh al-‘arab Qabl al-Islam, iii: 14).

23. Gruendler, The development of the Arabic Script, hlm. 125. (perkataan dalam Italic ditambahkan oleh penulis).

24. S. al-Munaggid, Etudes De Paleographic Arabe, hlm. 21; lihat juga Gruendler, The Development of the Arabic Script, hlm. 13-14.

25. M. Hamidullah, Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, Edisi Premiere, Paris 1986/1406, hlm. 13-14.

26. S. al-Munaggid, Etudes De Paleagraphie Arabe, hlm. 21.

27. M. Hamidullah, Six Originaux des Lettres Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 62-5.
28. Topkapi Sarayi, barang no. 21/397. Lihat juga Hamidullah, Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 111. Saya menerima keaslian surat ini dan juga surat yang dikirim ke Hiraql yang bersama dcngan surat-surat lain yang disahkan autentik oleh Hamidullah, sebagai seorang ahli sejarah. Di lain pihak Gruendler menyatakan, “Keaslian surat-surat ini diragukan, karena surat-surat ini tidak memaparkan skrip yang sama.” (The development of Arabic Script, hlm. 5, catatan kaki 16). Ini sama sekali bohong. Nabi saw. mempunyai lebih dari 60 penulis (lihat buku ini , hlm. 68? ), dan untuk mengharapkan tulisan tangan mereka sama satu-sama lainnya itu sia-sia.

29. M. Hamidullah, Six Originauz des Letters Diplomatigues du Prophete de L’Islam, hlm. 149. Perhatikan perbedaan dalam tulisan tangan antara surat ini dan surat sebelumnya, dikarenakan perbedaan penulis.

30. Lihat al-Anzami, “Nash’ at al-Kitaba al-Fiqhiyyah”, Dirasat, University of Riyad, 1398 (1978), ii: 13-24.

31. Walaupun saya menggunakan kata Kufi di sini dan di tempat lain, sebagaimana digunakan dalam lingkungan akademik, saya pribadi ada beberapa catatan tentang label ini. Walau bagaimanapun saya setuju dengan ilmuwan terdahulu yang menulis kaligrafi Mushaf, an-Nadim, menyebutkan lebih dari satu dozen style skrip (rasm al-khat) di mana Kufi hanya salah satu skrip. Mungkin ini susah untuk membedakan karakteristik setiap style kaligrafi, tetapi kelihatannya dunia akademik modern, dengan salah mengategorikan semua style di bawah skrip Kufi, telah mennyimplikasikannya dengan cara yang ngawur (lihat A. al-Munif, Dirasah Fanniya li MushafMubakkir, Riyad, 1418 (1998), hlm, 41-42). Menurut pendapat Ydsuf Dhunnun, kata Kufi sekarang dipakai untuk menunjukkan (dengan salah) semua skrip yang baris tajam yang asalnya dari dasar skrip al-Jalil (Ibid, hlm. 42). Lihat juga N: Abbott, The Rise of the North Arabic Script, hlm. 16.

32. Ibid, hlm. 69; lihat juga S. al-Munaggid, Etudes De Paleographie Arabe, hlm. 40.

33. A. ‘Abdur-Razzaq Aimad, “Nash’at al-Khat al-`arabi wa Tatawwurahu `ala al-Masahif’, Masahif San’a’, hlm. 32 (bagian Arab). Skrip itu kelihatan garis tajam tetapi saya tidak mau menyebutkannya Mill. Kota Knfa dan Basra terdapat di Irak sejak awal sejarah Islam; Kufa sendiri telah didirikan pada tahun 17 H. /638 M. oleh Sa’d b. Abi Waqqas. Kdfah sepertinya tidak disangka sebagai kota yang telah dibangun dari garis (begitu saja), lalu terkenal dengan nama skripnya ( seperti Kufi), mengekspornya sejauh Mesir selatan dan bisa menarik banyak pengikut seperti penulis di atas batu ini dalam kurun waktu hanya 14 tahun.

34. A.H. Sharafaddin, “Some Islamic Inscriptions discovered on the Darb Zubayda,” al-Atlal, vol. 1. 1397 (1977), hlm. 69-70.

35. Gruendler, The Development of the Arabic Script, hlm. 15-16
36. Lihat Gambar 10.5 dan Teks lainnya.

37. S. ar-Reshid, Kitabat Islamiyyah min Makkat al-Mukarramah, Riyad, 1416 (1915), hlm. 160-161.

38. Inskripsi ini bukan ayat Al-Qur’an tetapi diambil dari dua ayat Al-Qur’an yang berbeda (2:21 dan 4:1). Ini disebabkan kekeliruan dalam ingatan penulis. Mengutip Bruce Metzger, ” Ingatan (hafalan) bisa lupa dan keliru walaupun ketika seseorang mengutip kalimat yang sama … Contohnya tidak kurang dari Jeremy Taylor, yang mengutip teks “Except a man be born again he cannot see the kingdom ofGod (Dia tidak bisa melihat kerajaan Tuhan, kecuali seorang yang dilahirkan kembali,)” sembilan kali, tetapi dua kali dalam bentuk yang sama, dan tidak ada satu pun yang tepat”. (The texts of New Testament: Its transmission, corruption dan restoration, Edisi ketiga yang diperbesar, Oxford University Press, 1992, hlm. 88-89, catatan kaki no. 3).

39. S. at Reshid, Kitabat Islamiyyah min Makkat al-Mukarramah, hlm. 26-29.

40. Banyak sekali contoh-contoh Inskripsi Kdfi yang lain yang saya tidak sebutkan karena perimbangan ruangan dalam tulisan ini. Beberapa yang terkenal adalah (1) Inskripsi _afnat al­Ubayyid dekat Karbala, Irak tahun 64 Hijrah (al-Munaggid, Etudes De Palegraphie Arabe, hlm. 104­5); (2) Inskripsi yang tertulis di atas papan yang terukir di tempat berlakunya peraturan Nabi Musa (Mosaic), Yerusalem, tahun 72 H. (Gruendler, The Development of the Asrabic Scripts, hlm. 17-18, 155-156); (3) Batu tanda jalan yang dibangun pada zaman pemerintahan Khalifah ‘Abdul Malik (65­86 Hijrah) (al-Munaggid, Etudes, hlm. 134-35)

41. Gruendler, The development ofthe Arabic Script, hlm. 134-35.

42. Khalifah ‘Abdul Malik menyatukan mata uang di seluruh dunia Islam pada tahun 77 Hijrah

/ 697 Masehi. (Stephen Album, A Checklist of Islamic Coins, Edisi ke dua, 1998, hlm. 5). Ini slogan uang logam asli dari emas, perak dan bermotokan AI-Qur’an, pada tahun yang mereka gunakan, dan dalam uang silver dan logam scmua dalam skrip Kufi. Ini berlaku sampai zaman keruntuhan Khalifah Umayyah pada tahun 132 hijrah. (“Islamic Coins-The Tutath Collection Part 1″, Spink, London, 25 Mei 1999. Sale no. 133)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Silver is the New Black Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: