PERSOALAN halal-haram adalah seperti halnya soal-soal lain, di mana orang-orang jahiliah pernah tersesat dan mengalami kekacauan yang luarbiasa, sehingga mereka berani menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal. (lagi…)
Januari 31, 2007
Januari 30, 2007
DR. Anis Malik Thoha:”INILAH AGAMA BARU”
oleh : Henri Salahuddin, M. A.
Wacana tentang pluralisme agama terus bergulir di Indonesia. Wacana ini dikait-kaitkan dengan soal “kerukunan antar-umat beragama”. Seolah-olah, dengan dianutnya paham itu oleh umat beragama, maka kerukunan antar umat beragama akan terwujud. Benarkah demikian? Apakah sebenarnya wacana pluralisme agama itu? Berkenaan dengan itu, peneliti INSIST, Henri Shalahuddin — pada Rabu, 26 Maret 2003 — mewawancarai cendekiawan Muslim, Dr. Anis Malik Thoha, yang kini menjadi dosen bidang perbandingan agama di International Islamic University Malaysia (IIUM). Dr. Anis memiliki kompetensi untuk menjelaskan masalah ini, karena alumnus International Islamic University Islamabad, Pakistan ini, memang menulis disertasi berjudul Ittijaahat al-Ta’addudiyyah al-Diniyyah wa al-Mauqif al-Islamiy minha. (lagi…)
Mengapa Minder terhadap Barat? (2)
Kebanyakan hujatan terhadap Islam belakanganini terjadi akibat kebodohan, kesilauan rasa minder terhadap peradaban Barat.
(Eksposisi Tesis Islam-Barat Prof. Naquib al-Attas) oleh DR.Adian Husaini,MA
Menurut Prof. Naquib al-Attas, bukan hanya dari segi ajaran, Islam membongkar dasar-dasar kepercayaan agama Kristen, tetapi kemunculan Islam pada awal abad ke-7 M, juga memberikan tantangan hebat terhadap eksistensi politik, ekonomi, dan geografi Kristen. Fajar Islam kemudian mengubah peta sejarah, khususnya di kawasan Timur Tengah. Islam menggantikan posisi Kristen sebagai agama dominan saat itu. Secara panjang lebar hal ini dikatakan oleh al-Attas dalam bukunya
“Risalah untuk Kaum Muslimin” sebagai berikut: (lagi…)
Mengapa Minder terhadap Barat?
Kebanyakan sikap sinis dan hujatan terhadap Islam belakangan ini terjadi akibat kebodohan, kesilauan rasa minder terhadap peradaban Barat.
(Eksposisi Tesis Prof. Naquib al-Attas tentang Islam dan Barat)
Pada tanggal 23-26 Oktober 2004, saya bersama beberapa peneliti INSISTS menyampaikan presentasi dalam sejumlah workshop tentang pemikiran Islam dan Barat di Solo dan Yogya. Ada sejumlah fenomena dan cerita menarik yang perlu kita telaah. Ada berita, bahwa seorang dosen wanita di satu perguruan Islam, menjadi imam salat bagi suami dan anak-anaknya, karena ia lebih baik bacaan Qur’annya, dibandingkan suaminya. Ini adalah pengaruh dari paham gender equality. Ada dosen yang berbicara di depan kelas, bahwa kita perlu al-Quran baru. Menurut mereka, metode Hermeneutika sudah menjadi harga mati untuk diterapkan dalam penafsiran al-Quran, sehigga tidak perlu digugat lagi. Kucuran dana dari Amerika Serikat untuk proyek liberalisasi Islam sungguh luar biasa. Ada seorang hakim agama bercerita bahwa training-training tentang kesetaraan gender terus-menerus diadakan untuk mengubah pemikiran mereka. Selain dilakukan di hotel-hotel berbintang, peserta pun dibayar. Fenomena westernisasi dalam pemikiran dan studi Islam begitu kental dan menggejala serta ngetrend. (lagi…)
Tragedi Adopsi Peradaban Barat
Adopsi peradaban dan kebudayaan Barat adalah sesuatu yang lumrah. Faktanya, ilmuwan banyak terkooptasi oleh peradaban Barat. Bahkan memaksakannya sebagai pandangan hidup
Hamid Fahmy Zarkasyi, MA, Phil *
Suatu hal lumrah jika kebudayaan yang mundur akan belajar dari kebudayaan yang maju. Dan adalah alami jika suatu kebudayaan yang terbelakang mengadopsi konsep-konsep kebudayaan yang lebih maju. Tidak ada kebudayaan di dunia ini yang berkembang tanpa proses interaksi dengan kebudayaan asing. Ketika peradaban Islam unggul dibanding peradaban Eropa, misalnya, mereka telah meminjam konsep-konsep penting dalam Islam. (lagi…)
Sekali Lagi, Kecaman untuk Tulisan Ulil di Kompas
Oleh: Ust. Hartono Ahmad Jaiz
AlDakwah.org–Mengenai masalah tulisan Ulil di Kompas, kecaman terhadap Ulil Abshar Abdalla dari yang mengkafirkan, menghalalkan darahnya, dan suara-suara kencang dari berbagai kalangan Muslim pun mencuat. Fatwa hukuman mati yang telah ditujukan kepada penghujat Islam yakni Pendeta Suradi dan H Amos yang dikeluarkan FUUI (Forum Ulama Ummat Islam) pimpinan KH Athi’an Ali M Da’i di Bandung 2001 pun tinggal merujuknya kembali. Dan hal semacam itu diamini pula oleh ulama NU (Nahdlatul Ulama) di antaranya KH Luthfi Bashori alumni Makkah yang tinggal di Malang Jawa Timur. (lagi…)
Keculasan Pembela Aminah Wadud
Seperti yang telah kita duga, tingkah nyeleneh Aminah Wadud menjaring banyak pengikut. Di Amerika, beberapa tokoh wanita liberal telah mengikuti jejak Wadud untuk menjadi imam shalat Jumat di gereja (lagi…)
Dekonstruksi Aqidah Islam
Wawancara Ulil Abshar Abdalah dengan Jalaludin Rachmat berjudul “Kafir itu Label Moral, bukan Aqidah”, mengatakan, istilah “kafir” sudah tidak relevan. Baca Catatan Akhir Pekan DR.Adian Husaini,MA ke-24 Kamis (25 September 2003) banyak berita menarik yang muncul berbagai website media
massa. (lagi…)
MELAWAN “Setan JIL” DI SARANGNYA
Pengantar Redaksi:
Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara bedah buku di UIN (alias IAIN) Jakarta. Buku yang dibedah berjudul “Ada Pemurtadan di IAIN” karya Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah anak-anak JIL. (lagi…)